Connect with us

ACEH

Penjual Daging “Meugang” di Aceh Singkil Merugi

Published

on

Para penjual daging sembelihan tradisi "meugang" menyambut puasa Ramadan 2018.

Apakabarnews.com, Aceh Singkil – Para penjual daging sembelihan tradisi “meugang” (pungahan) menyambut puasa Ramadan 2018 di Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh merugi karena konsumen sedikit.

“Harga daging masih seperti biasa, hanya Rp150 ribu per kilogram, setara seperti tahun – tahun yang lalu, tapi pembelinya sangat sepi,” kata Naldi, salah seorang pedagang daging meugang di Singkil, Rabu.

Ia menyebutkan, harga daging ternak besar (sapi dan kerbau) yang mereka jual untuk daging murni Rp150.000/kg, hati kerbau Rp160.000/kg, jeroan atau perut kerbau yang sudah dicincang dan direbus Rp30.000/kg, sedangkan harga tulang Rp50.000/kg.

Ia mengatakan, pada meugang menyambut puasa tahun 2018 ini, pembeli lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya.

“Tahun lalu kami bisa menghabiskan enam ekor ternak, namun tahun ini hanya menyembelih tiga ekor,” katanya.

“Sedangkan pada hari-hari biasa penjualan daging ternak kerbau hanya habis satu ekor dengan harga Rp130 ribu hingga Rp140 ribu per kilogramnya,”keluhnya.

Menurut dia, ketersediaan stok dari peternak di Kabupaten Aceh Singkil sangat mencukupi, untuk hari biasa dan menjelang meugang dan hanya saat meugang lebaran Idul Adha, harus didatangkan dari luar daerah karena permintaan cukup tinggi.

Tentang kurangnya minat pembeli daging ternak besar, hal itu, katanya, karena bersaing dengan semakin banyaknya masyarakat yang berminat membeli daging ayam broiler umur 40 hari berkisar Rp60 ribu per ekor.

Harga ayam broiler dalam tiga minggu terakhir, di Kabupaten Aceh Singkil, mengalami kenaikan hingga 26 persen, karena pasokan terbatas, sementara permintaan meningkat.

Salah seorang pedagang ayam broiler, Iskandar kepada wartawan di Pulosarok, Aceh Singkil mengatakan, mendekati Ramadhan 1439 Hijriah, kondisi harga ayam mengalami kenaikan tajam seperti harga emas.

Dikatakannya, pasokan bahan baku ayam broiler putih didatangkan dari Sibolga, Siantar, dan Medan, Sumatera Utara, kemudian para agen lokal menjual kembali kepada pedagang dengan harga Rp24.000/kg, naik dari harga sebelumnya Rp19.000/Kg.

“Pasokan ayam broiler (ayam potong) warna merah tetap stabil dengan harga Rp48 ribu per ekor. Ayam potong warna putih selain dijual dengan takaran per kilo juga dijual per ekor, dengan harga Rp60 ribu yang sebelumnya Rp55 ribu per ekor,” pungkasnya. (war)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ACEH

Oknum BNN Langsa Ditangkap Terkait Sabu

Published

on

Dua oknum polisi yang bertugas di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Langsa, Propinsi Aceh ditangkap personel Provos Polres setempat, atas dugaan terlibat peredaran narkoba jenis sabu-sabu.

Apakabarnews.com, Langsa, Aceh – Dua oknum polisi yang bertugas di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Langsa, Propinsi Aceh ditangkap personel Provos Polres setempat, atas dugaan terlibat peredaran narkoba jenis sabu-sabu.

Informasi yang diperoleh wartawan di Langsa, Minggu (22/4/2018) kedua oknum polisi tersebut berinisial Bripka AR dan Bripka YU yang ditangkap di rumah masing-masing, Kamis (19/4/2018).

Penangkapan terhadap keduanya merupakan hasil pengembangan dari tersangka AR (34) dan MS (37), keduanya warga Gampong (desa) Jawa, Kecamatan Langsa Kota yang ditangkap Satuan Reserse Narkoba Polres Langsa, Kamis (19/4/2018).

Bersama tersangka AR dan MS, polisi menemukan barang bukti berupa tiga paket besar narkoba jenis sabu.

Kemudian dilakukan pengembangan dan tersangka AR mengaku sabu tersebut miliknya yang didapatkan dari rekannya yakni Bripka AR dan Bripka YU.

Saat ini, Bripka AR dan Bripka YU serta dua tersangka lainnya telah diamankan di Mapolres Langsa.

Sebelumnya, Bripka AR dan YU diperiksa sebagai saksi. Kemudian penyidik Polres Langsa berkoordinasi dengan pihak Kejaksaan dan menetapkan keduanya sebagai tersangka.

Sejauh ini Kapolres Langsa AKBP Setya Yudha Prakasa maupun Kepala BNN Kota Langsa, AKBP Navri Yuleni belum memberikan keterangan resmi terkait penangkapan tersebut.

Rencananya, Kapolres Langsa akan memberikan keterangan pada konfrensi pers yang digelar Senin (23/4/2018). (mhk)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

ACEH

Harga Alpukat Naik 100 Persen di Aceh Besar

Published

on

Harga buat alpukat disejumlah pasar di provinsi paling ujung barat Sumatera naik drastis.

Apakabarnews.com, Aceh – Harga buat alpukat disejumlah pasar di provinsi paling ujung barat Sumatera naik drastis dari Rp15.000/ Kg hingga Rp30.000/ Kg.

Sejumlah pedagang di Pasar Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Selasa mengakui, sudah hampir sebulan lebih harga alpukat naik karena pasokannya menurun.

“Jika pasokan normal harga alpukat Rp15.000/ Kg, sekarang mulai langka makanya harga alpukat naik menjadi Rp 30.000/Kg,” kata salah seorang pedagang buah enceran Razali di Pasar Lambaro, Aceh Besar, Selasa (10/4/2018).

Lebih lanjut kata pedagang tadi, sebelumnya buah alpukat yang diperdagangkan di Pasar Lambaro, Aceh Besar merupakan hasil produksi petani dataran tingi Gayo Lues, Kabupaten Aceh Tengah.

“Dulu buah alpukat didatangkan dari Gayo Lues, sekarang hasil panen petani atau pengumpul dari Gayo Lues tidak dikirim lagi ke Banda Aceh dan informasi yang kami terima dikirim ke Medan, dan bahkan sampai ke Jakarta untuk kebutuhan komestik,” akuinya.

Pedagang buah lainnya di Pasar Keutapang, Aceh Besar Heri menyatakan, belakangan ini pasokan buah alpukat dari Gayo Lues menurun drastis dan untuk memenuhi permintaan pasar didatangkan dari Kabupaten Bener Meriah dan Sumatera Uatara (Sumut)

“Buah alpukat ini dari Bener Meriah harganya Rp30.000/ Kg dan ini dari Medan (Sumut) harganya Rp28.000/ Kg,” sebut pedagang enceran itu sembari menunjukkan ke jenis barang dagangannya.

Kemudian, sejumlah petani di Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh Tengah, mulai melirik pengembangan tanaman buah alpukat unggul sebagai pengganti kopi, karena selain potensinya mendukung juga pemasarannya semakin baik.

Camat Atu Lintang Erwin Pratama, sebelumnya kepada wartawan mengatakan, pihaknya mulai menggalakkan dan sedang mengembangkan program pengembangan tanaman buah alpukat di atas lahan adat seluas 12 hektare guna dijadikan sebagai kebun percontohan.

Di beberapa titik wilayah kecamatan ini kopi dinilai sudah tidak cocok ditanam akibat dampak dari perubahan iklim dan perubahan kultur tanah yang ikut dipengaruhi oleh dampak penggunaan pupuk kimia yang selama ini digunakan petani setempat dalam budidaya tanaman kopi.

“Kita lihat sekarang kopi di sebagian wilayah ini sudah mulai tidak sehat, daunnya pun sudah tidak segar lagi, mulai kriting. Memang tidak semuanya, hanya di beberapa titik wilayah saja. Jadi kita bersama penyuluh pertanian di sini mulai mencoba mengubah apa yang sekarang lebih cocok untuk ditanam oleh petani,” tutur Erwin.

“Jadi kita coba lirik potensi lain seperti salah satunya adalah alpukat dan kita sarankan kepada petani di sini agar tidak hanya terpaku pada tanaman kopi saja,” tambah Camat Atu Lintang Erwin Pratama. (iys)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

ACEH

Ormas Islam Langsa Tuntut Proses Hukum Sukmawati

Published

on

Aliansi Ormas dan elemen umat Islam di Kota Langsa, Propinsi Aceh, mendesak Polri melakukan proses hukum terhadap Sukmawati Soekarnoputri.

Apakabarnews.com, Aceh – Aliansi Ormas dan elemen umat Islam di Kota Langsa, Propinsi Aceh, mendesak Polri melakukan proses hukum terhadap Sukmawati Soekarnoputri karena dinilai telah melakukan penistaan terhadap agama Islam.

“Adili Sukmawati karena telah melakukan penistaan terhadap agama Islam,” ujar Koordinator aksi Aliansi Ormas dan elemen umat Islam Kota Langsa, Zulfikri di Langsa, Senin (9/4/2018).

Disebutkan, menyikapi penistaan agama terhadap simbol-simbol Islam yang dilakukan Sukmawati, maka aliansi tersebut menyatakan sikap dalam empat poin utama.

“Mendesak penegak hukum dari Kepolisian Republik Indonesia untuk memproses hukum terhadap Sukmawati dengan delik hukumnya, pidana penistaan agama,” sebut Zulfikri dalam pernyataan sikapnya.

Kemudian, mengutuk perilaku dan pelaku penistaan agama Islam yang dilakukan Sukmawati secara sengaja dan sadar. Telah menciderai perasaan serta kepercayaan umat Islam dalam beragama sesuai amanat undang-undang.

Bahwa, lanjutnya, penistaan agama merupakan pelecehan dan penghinaan terhadap agama tertentu, sehingga dapat memunculkan konflik diantara sesama anak bangsa dan berbahaya bagi keutuhan NKRI.

“Umat Islam adalah garda terdepan dalam mengawal dan memperjuangkan NKRI. Kami tidak ingin ada segelintir orang merusak keutuhan bangsa. Karena itu, tangkap dan periksa Sukmawati,” katanya.

Seterusnya, aliansi Ormas Islam Kota Langsa menyerukan kepada semua elemen umat Islam dimanapun berada, untuk bersatu padu membela agama dan aqidah dari upaya provokatif yang dilakukan musuh-musuh Islam, baik secara pribadi, organisasi maupun kelompok tertentu.

“Kami imbau seluruh umat Islam meninggalkan perbedaan-perbedaan furu’iyah dan mengedepankan persatuan demi kejayaan Islam dan NKRI,” tegas Zulfikri dalam orasinya.

Puluhan masa Aliansi Ormas dan elemen umat Islam Kota Langsa yang terdiri dari Ikadi, PII, KAMMI, HMI, Resam Intitute, BKPRMI dan FPI, melakukan aksi damai di depan gedung DPRK Langsa, sekira pukul 16.15 WIB, dengan membentang sejumlah spanduk dan poster.

Kedatangan masa Aliansi Ormas dan elemen umat Islam tersebut dikawal pihak kepolisian Polres Langsa dan satuan pengamanan internal DPRK setempat.

Sementara, Wakil Ketua DPRK Langsa, Ir H Teuku Hidayat menyatakan sebagai lembaga legislatif pihaknya telah menerima aspirasi masyarakat terkait puisi kontroversi Sukmawati.

Hanya saja, proses hukum sebagaimana yang dituntut oleh aliansi ormas dan elemen umat Islam Kota Langsa adalah ranahnya Kepolisian Republik Indonesia.

“Kami apresiasi aspirasi saudara sekalian, tentu kita mendorong dilakukannya proses hukum terkait hal dimaksud,” ucap Hidayat. (mkl) 


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending