Connect with us

FINANSIAL

Rupiah Melemah ke Rp14.065

Published

on

Rupiah Melemah sebesar 35 poin menjadi Rp14.065.

Apakabarnews.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu pagi, bergerak melemah sebesar 35 poin menjadi Rp14.065 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.030 per dolar AS.

Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail di Jakarta, Rabu mengatakan dolar AS bergerak menguat terhadap sejumlah mata uang dunia didorong meningkatnya yield obligasi Amerika Serikat menjadi 3,06 persen untuk tenor 10 tahun.

“Kenaikan yield itu salah satunya didorong oleh naiknya kepercayaan investor bahwa tingkat suku bunga (bank Sentral AS) The Fed akan naik empat kali pada tahun ini,” kata Ahmad Mikail.

Baca juga: Fadli Zon minta pemerintah tak anggap enteng pelemahan rupiah

Di sisi lain, lanjut dia, pelemahan nilai tukar rupiah juga didorong data neraca perdagangan yang kembali defisit. Neraca perdagangan Indonesia pada April 2018 mengalami defisit 1,63 miliar dolar AS seiring dengan peningkatan aktivitas ekonomi domestik. Secara kumulatif Januari-April 2018, neraca perdagangan Indonesia tercatat defisit 1,31 miliar dolar AS.

Sementara itu,analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan pergerakan nilai tukar rupiah masih terpengaruh oleh sentimen eksternal, salah satunya prospek kenaikan suku bunga The Fed.

Baca juga: Bank Indonesia ungkapkan teror bom Surabaya sedikit pengaruhi rupiah

“Minimnya sentimen positif di dalam negeri juga turut menjadi faktor yang menahan laju rupiah untuk terapresiasi,” kata Reza.

Ia menambahkan selain faktor meningkatnya imbal hasil obligasi AS, antisipasi pelaku pasar uang pada data tingkat konsumsi Amerika Serikat yang diperkirakan naik turut berimbas pada kembali terapresiasinya dolar AS. (zub)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

FINANSIAL

Defisit Transaksi Berjalan 2018 Tembus 23 Miliar Dolar AS

Published

on

Agus Martowardojo mengungkapkan defisit transaksi berjalan sepanjang 2018 akan mencapai 23 miliar dolar AS.

Apakabrnews.com, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo mengungkapkan defisit transaksi berjalan sepanjang 2018 akan mencapai 23 miliar dolar AS atau 2,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), naik dari 2017 yang sebesar 1,7 persen PDB.

Pernyataan tersebut diungkapkan Agus dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, di Jakarta, Selasa, mengenai pertanggung-jawabannya menjadi Gubernur BI sejak Mei 2013 hingga Mei 2018. Agus akan purna-tugas pada Rabu (23/5) esok.

“Saat 2013-2014, kita tahu defisitnya bisa mencapai 27 miliar dolar AS. Nah pada 2018 ini, defisitnya kira-kira 23 miliar dolar AS. Faktor defisit ini yang menjadi penyebab pelemahan rupiah,” ujar Agus.

Hingga kuartal I 2018, neraca transaksi berjalan Indonesia menderita defisit sebesar 5,5 miliar dolar AS. Jika dibandingkan periode sama tahun lalu, defisit itu melebar lebih dari dua kali lipat yang sebesar 2,16 miliar dolar AS.

Agus belum merinci penyebab perkiraan melebarnya defisit transaksi berjalan pada tahun ini. Namun jika merujuk kuartal I 2018, membesarnya defisit transaksi berjalan, menurut BI, karena peningkatan aktivitas produksi dan investasi yang akhirnya meningkatkan impor barang modal dan bahan baku, melebihi pertumbuhan ekspor.

Baca juga: BI: peningkatan impor perlebar defisit transaksi berjalan

“Defisit itu pula yang membuat rupiah terus tertekan,” ujar Agus.

Hingga April 2018, ekspor tumbuh 9,01 persen (yoy) dari posisi April 2017 menjadi 14,47 miliar dolar, sedangkan impor tumbuh 34,68 persen (yoy) menjadi 16,09 miliar dolar AS dari April 2017. (dra)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

FINANSIAL

Menkeu Cermati kondisi keuangan Pertamina dan PLN

Published

on

Sri Mulyani akan mencermati struktur biaya dan neraca keuangan dari PT Pertamina dan PLN.

Apakabarnews.com, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani akan mencermati struktur biaya dan neraca keuangan dari PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) menanggapi posisi harga minyak mentah yang semakin tinggi.

“Kami akan lihat struktur biaya mereka, yang mengalami tekanan karena impor minyak sudah dengan harga tinggi sementara harga yang disubsidi tidak mengalami perubahan,” kata Sri Mulyani yang ditemui di Gedung Djuanda Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa.

Harga minyak mentah Indonesia (Indonesian crude price/ICP) saat ini telah mencapai 80 dolar AS per barel. Dalam asumsi makro APBN 2018, ICP diperkirakan rata-rata mencapai 48 dolar AS per barel.

Upaya penelitan tersebut dilakukan sebagai kebutuhan dalam rangka menjaga agar dua BUMN itu tetap memiliki kondisi keuangan yang sehat dan baik.

“Namun tidak sekadar passing import dan berapa jumlahnya, kami juga lihat keseluruhan keuangan dua BUMN itu,” kata dia.

Setelah itu, pemerintah baru akan memutuskan berapa jumlah subsidi yang harus disesuaikan mengingat Pertamina juga memiliki produk yang tidak subsidi.

“Pertamina juga mendapatkan tambahan aset yang cukup signifikan dari Menteri ESDM. Kami akan melihat keseluruhan postur keuangannya mereka dan nanti kami akan tentukan,” ujar Sri Mulyani.

Ia menyebutkan pula bahwa penetapan subsidi sebesar Rp500 per liter sesuai UU APBN sudah tidak cukup. Pemerintah masih akan membahas apakah ada tambahan subsidi menjadi Rp1.000 per liter atau jumlah yang akan ditetapkan kemudian.

“Mengenai revisi nanti kami akan laporkan di laporan semester pertama, akan kami bahas dengan dewan,” ucap Sri Mulyani. (rob)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

FINANSIAL

Menkeu Sri Mulyani Paparkan Perkembangan Ekonomi 20 Tahun Reformasi

Published

on

Sri Mulyani menilai kondisi dan situasi ekonomi di Indonesia telah berkembang setelah 20 tahun Reformasi.

Apakabarnews.com, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai kondisi dan situasi ekonomi di Indonesia telah berkembang setelah 20 tahun Reformasi dan berbeda dengan kondisi sebelum krisis moneter 1997-1998.

Ditemui di Gedung Djuanda Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, mantan direktur pelaksana Bank Dunia tersebut mengatakan sebelum Reformasi tidak ada institusi pengawas sektor keuangan yang independen.

“Sekarang Bank Indonesia memiliki independensi dan tujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar maupun inflasi. Mereka sekarang punya bauran kebijakan, dulu mereka tidak punya,” kata dia.

Sri Mulyani juga menilai di zaman Reformasi terdapat mekanisme koreksi terhadap para pemilik industri perbankan dan sektor keuangan non-bank, terutama yang mengalami kondisi yang tidak baik.

Koreksi dan mekanisme pengawasan tersebut dijalankan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Sri Mulyani mengatakan koreksi semacam itu tidak ada karena pengawasan sektor keuangan sebelumnya terpecah antara Kemenkeu dan BI.

Kemudian, Sri Mulyani juga menilai bahwa tata kelola pemerintah dan swasta sudah semakin transparan. Dari sisi pemerintah, pada masa sebelum Reformasi defisit APBN tidak dilakukan presentasi seperti sekarang…

“UU Keuangan Negara memberikan rambu-rambu mengenai jumlah defisit dan utang. Dari sisi setting, 20 tahun lalu penyelewengan dan tata kelola yang buruk bisa meluas tanpa mekanisme cek,” kata dia.

Tata kelola juga semakin transparan karena banyak institusi yang melakukan publikasi dari keseluruhan neracanya sebagai perusahaan terdaftar (listed company).

Sri Mulyani juga mengatakan kondisi yang membedakan zaman sebelum dan sesudah Reformasi adalah mekanisme atau sistem nilai tukar.

Ia mengatakan sistem nilai tukar saat ini fleksibel, artinya pada saat ekonomi berkembang positif maka rupiah bisa menguat.

Kalau sedang terkena imbas seperti yang terjadi saat ini, rupiah juga akan mengalami tekanan atau koreksi sama seperti banyak kondisi mata uang lain.

“Koreksi mata uang kita walaupun fleksibel, masih di dalam rentang yang tetap stabil, atau dalam artian menjaga stabilitas jangka menengah-panjang,” kata Sri Mulyani. (rob)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending