Connect with us

OPINI

Peran Airport Menjelang Hari Raya Lebaran

Published

on

Wajah interior sebuah airport seyogyanya mencerminkan watak dan ciri bangsa ini yang melahirkan budaya luhur rakyatnya.

Oleh : Kristiya Kartika.

Suasana lebaran yang bernuansa mengerasnya detak jantung lantaran ada rasa riang, gairah, ritual dan inklusif serta mungkin lainnya lagi telah menyelimuti masyarakat sejak awal minggu ini.

Airport sebagai salah satu infrastruktur yang berperan aktif dalam menghantar masyarakat untuk mudik lebaran, sangat menentukan apakah suasana Lebaran tahun ini cukup menyenangkan atau kurang menyenangkan.

Aksentuasi peran utama sebuah bandara adalah pelayanan penumpang pengguna bandara dan masyarakat pada umumnya. Pelayanan sebuah bandara diawali pengaturan lalu lintas dari luar menuju kompleks bandara.

Selanjutnya pelayanan dalam memanfaatkan fasilitas airport, dan berikutnya juga pelayanan dalam menghantar penumpang menuju pesawat terbang sekaligus penataan arus lalu lintas udara.

Dengan jumlah penumpang bandara yang berlipat ganda tatkala Lebaran tiba, pengelolaan bandara pasti dan harus mengalami peningkatan kesiapan dalam berbagai hal. Mulai dari kesiapan yg bersifat manajerial hingga teknis dan pengamanan.

Dalam pengalaman sehari-hari, kita kerap menyadari bahwa peran-peran itu semua sangat menentukan keberhasilan. Artinya, semua peran itu penting. Semua personal pelaku peran itu penting.

Tidak bisa kita membenarkan adagium lama bahwa kalau pengaturan dalam konteks manajemen pelayanan dan penerbangan sudah tersusun rapi, secara otomatis semua pelayanan dan fungsi bandara berhasil mencapai target.

Andaikan konsep pengaturan dan manajemen telah selesai tersusun, tapi implementasinya tidak tertib, tidak sesuai dengan aturan yang ada, dan faktor-faktor lainnya, maka bisa menimbulkan kejadian-kejadian yang membuat program pelayanan secara keseluruhan gagal.

Terkadang ada hal-hal kecil atau sepele yang bisa mengganggu konsep dasar pelayanan. Misalnya, disaat antrean penumpang didepan loket tiket, ada seseorang penumpang yang karena pesan tiketnya melalui e-ticketing tiba-tiba mengalami hal sepele misalnya baterai HP nya mati, sehingga menunggu lama, maka itu akan bisa mengganggu kelancaran penerbangan dalam perspektif waktu. Kekecewaan penumpang akan muncul.

Banyak contoh-contoh lain yang sudah kerap terjadi, yang bisa mempengaruhi atau bahkan mengganggu kelancaran pelayanan bandara dan penerbangan.

Belum lagi soal keamanan yang harus dipatuhi penumpang tatkala seorang Petugas Keamanan minta agar salah satu isi dalam tas Penumpang ditahan lantaran membahayakan penerbangan, sementara karena si penumpang menganggap benda itu dibutuhkan banget maka kemudian meminta klarifikasi bahkan dispensasi kepada otoritas bandara agar benda tsb diperbolehkan masuk pesawat.

Ini perlu penjelasan, kejelasan dan kesepakatan yang mungkin saja harus melibatkan bagian keamanan, otoritas bandara, pihak maskapai penerbangan hingga teknisi pesawat untuk menilai sejauh mana bahaya dari benda itu yang bisa mempengaruhi security penerbangan.

Muara persoalannya adalah mengganggu jadawal penerbangan. Mulai dari urusan parkir kendaraan, tiket, bagasi, kebersihan toilet, service Executive Lounge, alat komunikasi informasi jadwal penerbangan, antrean menuju pesawat hingga pengaturan parkir pesawat.

Ddemikian pula sebaliknya bagi airport tempat tujuan penerbangan, merupakan masalah yang tidak sederhana dan harus dapat perhatian sungguh-sungguh dari Pengelola Bandara.

Selain itu dari perspektif peran penangungjawab air-lines juga penting. Mulai dari ketepatan jadwal yg harus diawali oleh ketepatan kehadiran dan kesiapan para crew pesawat, pengaturan penumpang menuju kursinya secara praktis dan cepat (tentu saja juga harus ramah dan sopan), pengaturan bagasi, sajian hidangan untuk penumpang, informasi dan komunikasi untuk penumpang, semuanya merupakan detil-detil tugas yang harus terkoordinasi dengan tepat dan cepat.

Yang jauh sebelumnya sudah harus beres juga adalah kesiapan pesawat terbang baik dari aspek mechanical, electrical, sound system, lampu penerangan, fasilitas hiburan Video dsb. Detil-detil itu cukup berperan bagi hadirnya sebuah suasana yang nyaman serta menarik bagi penumpang.

BACA BERIKUTNYA : Bagasi yang Terpisah

Pages: 1 2 3


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

INTERNASIONAL

Kunjungan Wantimpres Kontraproduktif, terkait Dukungan RI untuk Palestina Merdeka

Published

on

Wantimpres Yahya Staquf ke Israel memenuhi undangan The David Amar Worldwide North Africa Jewish Heritage Center, Minggu (10/6/18).

Oleh : Fadli Zon

Kehadiran Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang baru saja dilantik, Yahya Staquf, dalam konferensi tahunan Forum Global AJC (Komite Yahudi Amerika) yang digelar di Yerusalem selama 10-13 Juni 2018 melukai Palestina.

Kunjungan Staquf ke Israel kontraproduktif dengan sikap politik luar negeri Indonesia yang sejak 1947 konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Kunjungan anggota Wantimpres ini juga bisa melanggar konstitusi dan UU No.37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri.

Kunjungan Wantimpres Yahya Staquf ke Israel, selain mencederai reputasi politik luar Indonesia di mata internasional, juga melukai rakyat Palestina. Selain itu, bisa melanggar konstitusi dan UU No.37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri.

Dalam konstitusi kita tertulis tegas penentangan segala bentuk penjajahan. Dan Israel, berdasarkan serangkaian Resolusi yang dikeluarkan PBB, merupakan negara yang telah melakukan banyak pelanggaran kemanusiaan terhadap Palestina.

Mulai dari Resolusi 181 tahun 1947 tentang pembagian wilayah Palestina dan Israel, Resolusi 2253 tahun 1967 tentang upaya Israel mengubah status Yerusalem, Resolusi 3379 tentang Zionisme tahun 1975, Resolusi 4321 tahun 1988 tentang pendudukan Israel dalam peristiwa intifada, dan sejumlah resolusi lainnya baru-baru ini.

BACA SELANJUTNYA : Lebih dari 2069 Anak Palestina Tewas Akibat Serangan Israel

Pages: 1 2 3


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

OPINI

Perspektif Tumbuhnya Ideologi Terorisme, di Indonesia

Published

on

Ryanti Suryawan, Wakil ketua DPC Gerindra Kota Bogor

Oleh : Ryanti Suryawan

INDONESIA kembali diguncang aksi radikal terorisme yang sudah melampui batas prikemanusian dan akal sehat. Nyawa nyawa tak berdosa kembali menjadi korban kebiadaban yang kita sebut sebagai aksi radikal teroris.

Tak ada ruang sedikitpun di bumi Indonesia ini yang dapat menjadi tempat tumbuh kembangnya terorisme, maka dari itu pemerintah wajib mengungkap dan mengusut tuntas aksi radikal terorisme yang sungguh diluar batas kemanusian.

Tiga Terduga Teroris Probolinggo Terlibat Bom Surabaya-Sidoarjo

Seperti yang kita ketahui sepekan sebelumnya peristiwa terorisme sangat mengejutkan justru terjadi didalam Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob) Depok.

Ironisnya ini terjadi di dalam sebuah penjara yang notabene adalah merupakan Markas Komando yang dimana merupakan markas pasukan elite kepolisian dan yang lebih tragis didalam aksi terorisme itu telah gugur lima polisi yang dimana para teroris itu dapat menguasai senjata yang dirampas dari pasukan elite brimob dan melumpuhkan serta melukai banyak korban.

Sungguh tragis dan kita bertanya mengapa hal ini dapat terjadi? Kelemahan sistem seperti apa sebetulnya yang terjadi? Sehingga dengan begitu mudahnya teroris dapat menguasai tempat yang justru dimana mereka ditawan.

Hal-hal seperti ini yang seharusnya menjadi penjelasan dari pihak terkait sehingga tidak menjadi pertanyaan masyarakat. Dan kini kasus Marko Brimob masih belum reda muncul kembali aksi terorisme yang radikal dan memakan korban tidak sedikit.

Indonesia tidak takut terhadap terorisme dan indonesia sangat membenci terorisme apapun alasannya apapun ideologinya, dan Indonesia harus dapat mengalahkan Terorisme.

Tragedi Mako Brimob dan Surabaya membuktikan bila ideologi terorisme masih sangat hidup diIndonesia dan sepertinya ideologi terorisme di indonesia sulit dihentikan.

Perbuatan terorisme adalah perbuatan biadab dan sangat tidak mencerminkan tindakan orang yang beragama, maka dari itu tidak tepat pula bila teroris dikaitkan dengan agama karena terorisme adalah kejahatan kemanusian yang dilakukan individu.

Tidak ada satu agama manapun yang membenarkan pembunuhan walau mengatasnamakan jihad dijalan allah, karena seperti yang kita ketahui para terorisme mempunyai konsep “cosmix war” yaitu berperang melawan yang baik dan yang jahat, dan semua teroris merasa bila selalu dijalan yang benar dan ini diyakini semua teroris.

Dalam hal ini sekiranya DPR sudah sangat perlu untuk segera mengesahkan RUU Antiterorisme dan memuat sejumlah aturan, karena sejauh ini masih menjadi perdebatan di DPR karena masih ada perdebatan dan perbedaan pendapat yang masih elementer didalam tubuh DPR itu sendiri. Terutama menyangkut katagori terorisme, gejala terorisme,penomena terorisme dan pencegahan terorisme yang debatable.

Karena itu langkah yang harus segera diambil adalah kerjasama yang baik antara Polri,BIN dan BNPT (Badan Nasional penanggulangan Terorisme) agar melakukan pendekatan secara cermat dan komprehensif untuk pencegahan maupun penanggulangan setiap aksi teror.

Dan mari kita bersama dan bersatu untuk melawan dan menghadapi terorisme. Keutuhan NKRI terlalu mahal untuk dipertaruhkan karena anak cucu kita kelak yang akan memiliki masa depan yang seutuhnya.

Ryanti Suryawan, adalah Wakil ketua DPC Gerindra Kota Bogor.


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

OPINI

Dilema Melayu, dan Mahathirisme

Published

on

Mahathir Mohamad

Oleh : Manuel Kaisiepo

“Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui…!”

Itulah langkah politik fenomenal yang diayunkan Mahathir Mohamad yang baru saja memenangkan pemilu di Malaysia. Betapa tidak!

Kemenangan bersejarahnya atas petahana Perdana Menteri (PM) Najib Razak –murid politik sekaligus rivalnya– akan mengembalikannya ke kursi PM yang pernah didudukinya selama 22 tahun (1981-2003).

Yang beda dari Mahathir dibandingkan pemimpin lainnya adalah komitmennya yang kuat untuk mengangkat derajat dan taraf hidup rakyatnya

Dengan demikian Mahathir akan menjadi PM dan pemimpin tertua di dunia: 92 tahun !

Kemenangan Mahathir melalui kekuatan aliansi oposisi Pakatan Harapan (PH) juga sekaligus mengakhiri dominasi kekuatan koalisi Barisan Nasional (BN) yang sudah berkuasa sejak 1957. Pakatan Harapan berhasil meraih 114 kursi parlemen dari ambang mayoritas 112 kursi.

Kemenangan aliansi oposisi Pakatan Harapan atas Barisan Nasional ini menarik, karena justru Mahathir sendiri merupakan tokoh kunci di balik kejayaan BN di masa lalu.

BN adalah kekuatan politik utama sekaligus penopang bagi kesuksesan kebijakan nasional Dasar Ekonomi Baru (DEB) yang dicanangkan Mahathir sejak berkuasa 1981.

Malaysia modern saat ini, yang maju secara ekonomi, dan juga maju pada berbagai sektor lainnya, khususnya dalam mengangkat taraf hidup pribumi Melayu, diakui semua pihak adalah hasil penerapan kebijakan DEB-nya Mahathir (bahkan ada yang menyebut DEB sebagai “Mahathirism”).

Bagi yang mengikuti jejak politik Mahathir sejak awal, dasar-dasar bagi rumusan konsepsi dalam DEB sebenarnya sudah bisa dilacak dalam bukunya yang terbit tahun 1970, THE MALAY DILEMMA.

Buku yang berisi kecaman terhadap kebijakan pemerintah PM Tunku Abdul Rahman karena dinilai tidak berpihak kepada kaum pribumi itu, akhirnya dilarang beredar (baru dibolehkan beredar lagi ketika Mahathir berkuasa tahun 1981).

Mahathir seorang dokter (julukannya “Dr. M”), maka tak mengherankan dia memakai pendekatan medis untuk mendiagnosis “penyakit” yang diidap masyarakatnya, terutama kaum pribumi Melayu.

Misalnya dia memakai Hukum Mendel (khususnya dampak perkawinan antar kerabat yang punya hubungan darah) untuk menjelaskan lemahnya daya pikir orang Melayu.

Dia juga memakai pendekatan “kultural” untuk menjelaskan hambatan-hambatan bagi modernisasi (mungkin padanannya di Indonesia adalah buku Koentjaraningrat, “Kebudayaan, Mentaliteit, dan Pembangunan”).

Tentu pendekatan kultural dan sebagian argumentasi Mahathir dalam bukunya itu akan terasa usang ketika kita membaca buku Syed Hussein Alatas, THE MYTH OF THE LAZY NATIVE (1977), yang mematahkan semua argumen dalam pendekatan kultural yang bias kolonialism atau bias orientalism.

Ketika berhasil duduk di kursi PM, Mahathir serius mewujudkan gagasan lamanya, tentu dengan modifikasi. Hasilnya? Malaysia bersama Singapura menjadi contoh negara secara ekonomi tidak saja di Asia Tenggara, tapi juga pada tingkat global.

Dalam kurun waktu 22 tahun kekuasaannya, Mahathir membuktikan kemampuannya membawa Malaysia menjadi negara modern dan maju, juga berhasil mengangkat taraf hidup dan status pribumi Melayu.

Selama kurun waktu itu juga, Mahathir telah mengukuhkan dominasi pemikirannya, semacam “Mahathirisme”, yang terus dirasakan pengaruhnya sesudah dia tidak lagi berkuasa.

Seperti halnnya Lee Kuan Yew di Singapura, Mahathir mengendalikan lawan-lawan politiknya melalui model kebijakan “soft-authoritarian” dengan instrumen hukum “Internal Security Act”(ISA).

Dalam beberapa hal Mahathir mungkin mencontoh Suharto. Suatu pembangunan ekonomi nasional harus dirancang berjangka panjang, melibatkan teknokrat dan entrepreneur, dan ditopang oleh suatu sistem politik yang stabil.

Keduanya seakan penganut tesis Samuel Huntington: suatu program pembangunan ekonomi yang sukses dan mampu mendorong proses modernisasi masyarakat hanya bisa diwujudkan bila ditopang oleh adanya kondisi tertib politik dalam masyarakat tersebut.

Tetapi yang beda dari Mahathir dibandingkan pemimpin lainnya adalah komitmennya yang kuat untuk mengangkat derajat dan taraf hidup rakyatnya, khususnya rakyat pribumi Melayu (Mahathir sendiri keturunan India-Melayu).

Mulai hari Jumat, 11 Mei 2018, panggung politik dan denyut kehidupan ekonomi nasional Malaysia akan kembali diwarnai oleh tokoh kharismatik ini: Mahathir Mohamad. Selamat!

Manuel Kaisiepo, adalah mantan wartawan dan pernah menjadi menteri. Tulisan ini sudah dipublikasikan di akun fesbooknya.


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending