Connect with us

RELATIONSHIP

Perhatikan Info Penting, Seputar Kehidupan Seks di Umur 40an

Published

on

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Shannon Chavez, PsyD, CST, psikolog asal Los Angeles mengatakan, saat Anda memasuki usia 40 tahun, kehidupan seks Anda mulai berubah.

“Sering bertambahnya usia, pria akan lebih mampu menunda orgasme”

“Baik pria maupun wanita menghadapi perubahan hormon di usia 40-an yang dapat menyebabkan perubahan gairah seksual, keinginan, dan kenyamanan fisik selama aktivitas seksual,” ujar Shannon.

Apa saja ya yang berubah dari kehidupan seks di usia 40an? Simak 6 penjelasan ini, sebagaimana dilansir Mother & Baby.

1. Perhatikan Jantung Anda

Sistem kardiovaskular Anda adalah kunci kehidupan seks yang berkembang. “Sistem kardiovaskular yang sehat sangat pentinh untuk fungsi seksual, “ ujar Gracie Landes, terapis pernikahan di New York City.

“Menjaga kesehatan fisik yang baik itu penting,” tambahnya lagi. Maka tidak ada salahnya Anda sering berolahraga ringan untuk menjaga agar tubuh dan jantung Anda sehat.

2. Hasrat yang fluktuatif

Hasrat seksual Anda mungkin berfluktuasi. Terkadang Anda merasa tidak ingin sama sekali selama beberapa hari, begitu juga juga dengan pasangan Anda. Ini wajar terjadi terutama pada usia 40-an. Yang terpenting menjaga komunikasi agar tidak ada salah paham.

3. Kualitas Berbeda

Kuantitas dan kualitas sel telur wanita akan menurun secara signifikan pada usia 40-an. Jika Anda masih ingin berusaha untuk mendapatkan keturunan, segera hubungi dokter untuk program bayi. Dan bersiaplah untuk berhubungan intim setiap hari.

4. Wanita Lebih Mudah Orgasme

Walaupun kulitas sel telur menurun, namun para ahli mengatakan bahwa pada wanita yang berusia 40-an, akan lebih senang berhubungan intim dibandingkan sebelumnya. “Bagi para wanita, orgasme menjadi lebih mudah karena pengalaman dan kenyamanan,” ujar Gracie Landes.

5. Pria Bisa Lebih Lama di Ranjang

Dan kabar baik untuk pria adalah, ia bisa lebih lama berada di ranjang, serta merasakan orgasme yang Anda rasakan. “Sering bertambahnya usia, pria akan lebih mampu menunda orgasme,” ujar Gracie Landes.

6. Pelumas

Sepertinya Anda mulai membutuhkan pelumas pada usia ini. “Tingkat estrogen yang berfluktuasi dan menstruasi yang tidak teratur dapat menyebabkan ketidaknyamanan. Dinding vagina juga mulai tipis dan mudah berdarah saat bersinggungan dengan Mr. P,” ujar Gracia Landes. Ini saatnya Anda memilih pelumas yang tepat. (mnb)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RELATIONSHIP

Mendongeng dan Membaca Nyaring, Apa Bedanya?

Published

on

Bercerita pada anak adalah cara mengembangkan kemampuan otaknya yang sedang berkembang, yakni lewat rangsangan berupa kata-kata.

Apakabarnews.com, Jakarta – Mendongeng dan membaca nyaring adalah aktivitas yang sangat disarankan para ahli untuk orangtua dengan buah hati.

Ada perbedaan mencolok antara mendongeng dan membaca nyaring, kata penerjemah buku “Read Aloud” Rossie Setiawan.

“Mendongeng biasanya tidak menggunakan buku, tetapi membaca nyaring itu memakai buku,” kata Rossie di gelar wicara “Mempererat Ikatan Ibu dan Anak dengan Metode Read Aloud”, Jakarta, Rabu (12/12/2018).

Rossie mengatakan anak mendapatkan dua pengetahuan ketika orangtua membacakan cerita padanya, berupa huruf dan bunyi.

Bercerita pada anak adalah cara mengembangkan kemampuan otaknya yang sedang berkembang, yakni lewat rangsangan berupa kata-kata.

Proses ini juga dapat membangun ketertarikan anak pada buku. Ketika melihat dia dan orangtua bisa bersenang-senang dengan buku, anak lama-kelamaan akan gemar membaca setelah memahami banyak kosa kata.

Sama seperti mendongeng, sebaiknya orangtua menyampaikan cerita secara ekspresif. Mainkan intonasi agar cerita tidak membosankan, bila perlu gunakan beberapa suara yang berbeda untuk setiap karakter.

“Disarankan gunakan tanda baca yang ada, jadi anak tahu bagaimana intonasi bertanya ketika ada tanda tanya,harus berhenti sejenak ketika ada tanda koma dan harus berhenti saat bertemu tanda titik. Ini adalah salah satu cara mengajari anak cara membaca,” tutur dia.

Manfaat lain yang tak kalah berharga adalah mempererat hubungan dengan anak. Mendengar suara orangtua, melihat ekspresi anak ketika terpesona dengan cerita, kontak fisik selama proses bercerita adalah proses memperkuat ikatan antara orangtua dan anak.

Membacakan cerita secara nyaring untuk anak bisa dilakukan kapan pun, yang pasti seluruh fokus harus dicurahkan untuk kegiatan tersebut sehingga tercipta waktu berkualitas bersama anak.

Tidak perlu waktu terlalu lama dalam bercerita, selama orangtua bisa berkomitmen menjadikan hal itu sebagai rutinitas. Orangtua yang banyak menghabiskan waktu untuk bekerja di luar rumah juga bisa mempraktikannya.

“Sepuluh menit sehari, tapi rutin,” kata Rossie soal durasi bercerita. (nan)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

RELATIONSHIP

Jika Bercerai, Orangtua Harus Minta Maaf pada Anak

Published

on

Setelah perceraian terjadi, orangtua harus saling bahu membahu dalam membesarkan anak.

Apakabarnews.com, Jakarta – Keputusan perpisahan atau perceraian dapat mempengaruhi perkembangan sang anak. Yang pertama-pertamharus dilakukan oleh orangtua yang mengalami perceraian adalah meminta maaf kepada anak.

“Itu perlu ada penyelesaian yang konstruktif dan rendah hati. Pertama orangtua harus berani meminta maaf saat terjadi perpisahan. Ayah yang salah, bunda yang salah, kami minta maaf,” kata Seto Mulyadi atau Kak Seto, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia saat berbincang di Jakarta, Rabu (28/11/2018).

BACA JUGA : Pentingnya Peran Kakek Nenek Ketika Orangtua Bercerai

“Ayah minta maaf. Ini terpaksa ayah sama bunda tidak bisa sama-sama lagi. Kenapa? Harus diberikan dengan bahasa anak. Karena kalau sama-sama ayah sama bunda berantem. Kamu sedih kan melihatnya,” jelas Kak Seto menambahkan.

Setelah perceraian terjadi, orangtua harus saling bahu membahu dalam membesarkan anak. Jangan sampai anak kehilangan salah satu sosok orangtuanya.

“Yang penting anak tidak kehilangan kedua-duanya. Oke mungkin hari ini bersama bunda, mungkin saat ini juga bisa bersama ayah dan jangan ada penutupan akses,” ujar Kak Seto.

“Karena sekarang ini terjadi segitiga maut. Pertama, segitiga maut itu adalah perceraian. Kedua adalah perebutan hak asuh, ketiga adalah penutupan akses. Ini pelanggaran hak anak saat ini,” lanjutnya.

Kak Seto mengatakan sebisa mungkin perpisahan orangtua harus dilakukan dengan baik. Jika tidak, anak akan mengalami trauma hingga dewasa.

“Bisa menjadi benci kepada orangtuanya, bisa menjadi benci terhadap perkawinan. Ada anak yang saya temui, dia bilang pokoknya seumur hidup tidak akan menikah. Sehingga harusnya orangtua tetap rukun tetap bersama anak sehingga jika ada pasangan lagi harus akrab dengan anak anaknya,” terang Kak Seto. (mar)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

RELATIONSHIP

Mainan Edukatif akan Jadi Tren 2019

Published

on

Mainan edukatif belum banyak diminati, butuh peran orang tua untuk mengenalkan mainan edukatif kepada anak-anak.

Apakabarnews.com, Jakarta – Mainan yang bersifat edukatif akan menjadi tren pada 2019. Sebab, para produsen sudah mulai memiliki kesadaran untuk menciptakan mainan yang melibatkan anak-anak untuk berpikir.

Hal tersebut disampaikan oleh Eko Wibowo Utomo, Sekretaris Jenderal Asosiasi Mainan Indonesia (AMI). Menurutnya, mainan yang memiliki muatan pendidikan akan lebih banyak dicari oleh masyarakat. Apalagi mainan-mainan tersebut menjadi media belajar untuk anak-anak pendidikan usia dini (Paud) dan taman kanak-kanak.

“Kalau kita lihat pameran di luar, produser mainan banyak yang ke mainan education. Kesadaran industrinya juga banyak yang membuat mainan yang melibatkan anak-anak untuk berpikir. Ini tren yang lagi berjalan,” ujar Eko saat berbincang dalam jumpa pers Indonesia Maternity, Baby and Kids Expo (IMBEX) 2018 di Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Namun menurut Eko, di Indonesia mainan edukatif belum banyak diminati. Butuh peran orang tua untuk mengenalkan mainan edukatif kepada anak-anak.

“Mainan edukasi di pasar Indonesia tidak disambut baik karena kurangnya peran orang tua untuk membantu masuk ke situ. Jadi harus dari orang tuanya. Itu lah tantangan dari para produsen untuk membuat anak-anak Indonesia menjadi lebih baik,” jelas Eko.

Meski demikian, mainan tradisional tetap banyak yang mencari, seperti mobil-mobilan.

“Mainan tradisional masih banyak yang cari, mainan-mainan basic, bola, mobil-mobilan, dokter-dokteran itu mainan everlasting,” terang Eko. (mar)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending