Connect with us

TOKOH

Advokat Alumni 212 Eggi Sudjana Kena Serangan Jantung Ringan

Published

on

Advokat dan penasihat Presidium Alumni 212Eggi Sudjana, dirawat di RS Harapan Kita, Jakarta.

Indonesiaraya.co.id, Jakarta – Eggi Sudjana, advokat dan penasihat Presidium Alumni 212, mengalami serangan jantung ringan pada Sabtu petang dan kondisinya kini telah membaik.

“Mengalami serangan jantung ringan tadi sore. Saya mendapat kabarnya dari grup Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) jam 19:00 WIB,” kata Wakil Ketua TPUA Habib Novel Bamukmin melalui sambungan telepon, Sabtu malam (27/1/2017).

Eggi Sudjana sempat mengalami kelelahan karena banyaknya kegiatan pada pekan ini.

“Kondisinya sudah membaik, sudah bisa ngobrol,” sambung dia.

Novel menjelaskan bahwa Eggi Sudjana sempat merasa sesak nafas sebelum dibawa ke Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta Barat. Ia juga mengatakan Eggi memiliki riwayat penyakit jantung.

BACA JUGA : Kondisi Eggi Sudjana Mudah Membaik, Dirawat di RS Harapan Kita

“Ada riwayat ke sana ya,” kata Novel kemudian menambahka bahwa Eggi Sudjana memang sempat mengalami kelelahan karena banyaknya kegiatan pada pekan ini.

Lebih lanjut, Novel belum mengetahui apakah Eggi Sudjana akan pulang dari rumah sakit pada malam ini atau besok pagi.

“Kami sedang memantaunya, semoga bisa lekas pulang dan membaik,” pungkas Novel, seperti dikutip Antara. (ant)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOKOH

Mochtar Riady Kembali Jelaskan “Seni Perang”

Published

on

Pengusaha yang juga pendiri Lippo Group, Mochtar Riady.

Apakabarnews.com, Karawaci – Pengusaha yang juga pendiri Lippo Group, Mochtar Riady kembali menjelaskan strategi Sun Tzu atau seni perang yang menjadi latar belakang keberhasilan mengembangkan bisnisnya sampai saat ini.

“Sebagaimana halnya sedang menghadapi peperangan maka membutuhkan persiapan yang lengkap agar dapat menang,” kata Moctar Riady saat memberikan sambutan pada pagelaran “Family New Year Concertt” bertempat di kampus Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Kabupaten Tangerang, Sabtu malam (15/12/2018).

Mochtar mengatakan, dari sekian banyak persiapan yang paling penting adalah moral, bahkan tanpa adanya moral jangan berharap dapat memenangkan perang.

“Begitu juga dengan bisnis atau berdagang, tanpa adanya moral pasti akan mengalami kegagalan,” kata Mochtar menjelaskan pengalamannya.

Mochtar menjelaskan strategi perang yang mengedepankan moral juga diterapkan selama dirinya berkarir di perbankan mulai dari Bank Panin, Bank BCA, Bank Lippo, sampai dengan Nobu Bank seluruhnya berhasil dan bank-bank tersebut masih berkembang sampai saat ini.

“Saat mendirikan BCA tahun 1971 saya berpikir bagaimana membuat bank yang bisa meringankan beban nasabah. Untuk itu BCA menjadi bank pertama yang memberikan kemudahan bagi nasabahnya untuk mendapatkan kredit, menarik dana, dan keperluan lainnya,” ujar Mochtar.

Dengan perkembangan digital saat ini, jelas Mochtar, sudah saatnya memberikan pelayanan dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan inforamsi.

Menurut Mochtar sudah saatnya perbankan memperluas layanannya tidak hanya diperkotaan tetapi juga di desa-desa, melalui layanan digital saat ini sangat dimungkinkan untuk menjangkau masyarakat di desa-desa.

“Sudah saatnya petani di desa diperkenalkan berdagang secara elektronik (e-commerce) yang tentunya akan mempersingkat rantai pengiriman hasil bumi yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani,” jelas Mochtar.

“Kalau petani dan penduduk desa sejahtera maka mereka juga memiliki daya beli sepertihalnya dengan penduduk di perkotaan. Ini juga menjadi solusi untuk menghilangkan ketimpbangan masyarakat diperkotaan dan perdesaan,” jelas Mochtar.

Mochtar menjelaskan berkembangnya bisnis LIppo sampai sekarang juga tidak terlepas dari straegi perang yang mengedepankan moral termasuk peduli kepada masyarakat sekitar.

Family New Year Concer menghadirkan konduktor Avip Priatna menghadirkan lagu-lagu keluarga seperti Nyanyian Gembira, Masa Kecilku, Bunda, juga lagu-lagu daerah seperti Ayo Mama (Maluku), Paris Barantai (Kalimantan Selatan), serta lagu-lagu Barat terbaik di masanya seperti Heal The World, What a Wonderful World, Eart Song, We Are The World. (gan)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

TOKOH

Presiden Kita Menghadapi Masalah Luar-Dalam, Mengapa?

Published

on

Presiden RI, Joko Widodo.

JANGAN DULU tersulut oleh judul tulisan ini. Yang saya maksud “Menghadapi Masalah Luar-Dalam” itu adalah bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak hanya dirundung masalah dalam mengelola isu-isu dalam negeri (domestik).

Beliau juga mungkin membuat orang luar heran kenapa terus-menerus absen dari forum-forum internasional, seakan-akan menghindar.

Pak Jokowi empat kali absen dari sidang Majelis Umum PBB (UN General Assembly, UN-GA). Yang terbaru, Jokowi absen dari pertemuan puncak G-20 di Argentina. Lagi-lagi dia mengirim Wapres Jusuf Kalla. Padahal, mimbar UN-GA atau G-20 bisa digunakan untuk memperlihatkan posisi Indonesia sebagai negara besar. Negara dengan kekuatan geo-politik yang besar. Sekaligus pasar yang besar juga.

Artinya, ruangan UN-GA dan G-20 plus agenda-agenda khusus antar-kepala negara bisa dijadikan peluang untuk menguatkan eksistensi Indonesia di komunitas internasional dan regional berkaitan dengan berbagai pertikaian yang masih belum selesai.

Absen satu kali di UN-GA bisa dipahami. Tapi, absen empat kali memerlukan penjelasan ekstra.

Kalau Pak Jokowi hadir di sana dan aktif mencari mitra dialog untuk isu-isu yang berkaitan langsung dengan kepentingan Indonesia, tentu orang lain akan menghitung kita.

Apalagi kalau Jokowi bisa menunjukkan kemampuan diplomasi yang setara dengan lawan bicara. Seperti Mahathri Mohamad di era kejayaannya tempohari, berdiri tegak melawan kesewenangan Inggris dan Amerika Serikat.

Kira-kira apa yang menyebabkan Pak Jokowi seolah “tak suka” forum internasional?

Tidak ada yang tahu secara persis. Hanya saja, bisa diduga dari ‘nature’ pergaulan internasional. Mereka itu adalah komunitas para pemimpin handal yang menggunakan bahasa internasional.

Pentas internasional itu pasti “challenging” (penuh tantangan). Di sana, pemolesan kapabilitas dan kapasitas tak bisa dilakukan. Begitu tampil, mau tak mau akan tersingkap keaslian dan kepalsuan. Tak bisa disembunyikan.

Berbeda dengan urusan di dalam negeri sendiri. Banyak yang bisa dilempar ke para pembantu, para menteri, staf ahli, dll. Ditambah lagi dukungan media-media besar yang sudah di tangan. Media yang menunya bisa dipesan oleh para penguasa. Klop. Itu pun masih kucar-kacir juga.

Di panggung antarabangsa, Anda langsung berhadapan face-to-face dengan para kepala pemerintahan yang berkelas singa podium.

Mereka adalah politisi-politisi berpengalaman yang terlatih argumentatif dan selalu artikulat. Berbicara tanpa hesitasi. Menjawab tanpa jedah. Setiap kata keluar bagai peluru. Para wartawan sering “kehabisan bahan”.

Mereka senang suasana yang menantang. Tapi selalu mulus melewati kepungan wartawan-wartawan kelas dunia. Selalu bisa lolos dari pertanyaan-pertanyaan rumit. Mereka pantang menyerahkan jawaban kepada menteri atau jurubicara.

Itulah gambaran tentang forum internasional. Para wartawan seringkali tak bersahabat. Apalagi diatur. Diskenariokan. Tak bakalan. Anda akan megap-megap kalau tidak menguasai masalah dan tidak cakap dalam menguraikan jawaban.

Saya punya feeling begini. Kalau ada yang berani bertanya kepada Pak Jokowi apa yang paling tak disukainya, dan beliau mau berkata dengan jujur, saya percaya jawabannya adalah “forum internasional”. Ini yang kelihatannya menjadi momok bagi Pak Jokowi. Inilah yang membuat beliau alergi.

Berdasarkan pengalaman saya meliput forum-forum internasional, para politisi yang berjabatan tinggi pantang menjadi rusa. Mereka harus manjadi singa. Sebab, mereka seringkali dikerumuni oleh srigala. Singkat kata, nyali, kapabilitas, dan kapasitas harus selalu di posisi “on”. Stand-by setiap saat.

Sebagai rakyat, kita semua prihatin dengan absensi Pak Jokowi di berbagai forum penting internasional. Di satu sisi, kita tidak ingin Pak Jokowi dianggap tak memiliki kemampuan analitik. Tak memiliki kemampuan komunikasi. Tak memiliki kapabilitas, dlsb.

Tetapi, di sisi lain, kita semua mendambakan presiden yang ‘charming’ dan berkaliber. Tidak gerah di pentas-pentas internasional.

Entahlah! Saya hanya bisa mengatakan kita semua harus menerima kenyataan yang ada. Inilah presiden kita. Anda semua boleh-boleh saja berekspektasi tinggi. Tetapi, Anda semua harus ikhlas dan berlapang dada.

Cuma saya sepakat bahwa Indonesia, kita semua, sangat wajar (deserves) memiliki presiden yang berkualitas mendekati kesempurnaan. Meskipun kita sadar bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Kita wajar memiliki presiden yang berliterasi tinggi. Presiden yang bisa menyetarakan dirinya dengan para pemimpin internasional.

Indonesia wajar, dan perlu, mempunyai pemimpin yang mampu memberikan pengarahan. Bukan yang menunggu atau meminta pengarahan. Presiden yang sangat paham tentang masalah-masalah bangsa dan bisa mendeskripsikan berbagai solusi yang variatif dari satu isu ke isu lain. Presiden yang biasa dengan kerumitan.

Presiden yang bersemangat menghadiri forum-forum internasional. Presiden yang bisa membentuk arus alternatif di panggung dunia.

Sayangnya, hari ini kita harus legowo dengan Pak Jokowi yang tak mulus di luar dan sarat dengan masalah di dalam. Semoga saja “ketimpangan” ini bisa diperbaiki melalui proses pemilihan presiden tahun depan.

[Oleh : Asyari Usman, penulis adalah wartawan senior. Tulisan ini juga dipublikasikan media Opiniindonesia.com]


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

TOKOH

Klaim Bombastis Menteri Sri soal Penerimaan APBN Lampaui Target

Published

on

Menteri Keuangan, Sri Mulyani.

MENTERI KEUANGAN Sri Mulyani Indrawati meyakini penerimaan negara akan melampaui target APBN 2018, yaitu sekitar Rp 1.936 triliun berbanding Rp1.894 triliun. Diklaim sebagai pertama kalinya penerimaan negara melebihi target APBN. Pernyataan tanggal 5 Desember lalu itu bahkan sudah merevisi prakiraan Pemerintah sendiri bulan sebelumnya (dalam APBN Kita edisi Nopember) yang masih Rp1.903 triliun.

Untuk menilai apakah hal tersebut merupakan suatu prestasi dari kinerja Pemerintah, maka perlu diperiksa dan dicermati beberapa hal dan rincian. Diantaranya yang akan dibahas berikut.

Pertama, Pelampauan target APBN bukan yang pertama kalinya. Pada tahun 2008, realisasi Pendapatan Negara jauh melampaui APBN, yaitu Rp982 triliun berbanding Rp781 triliun atau sebesar 125,62%. Sedangkan tahun 2018 hanya sebesar 102,18%. Pada tahun 2018 tak ada APBNP, sementara tahun 2008 bahkan lebih tinggi dibanding APBNP 2008 sebesar 109,68%.

Kedua, rincian dari perolehan pendapatan tersebut. Ternyata yang jauh melampaui target adalah Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang diprakirakan mencapai Rp349,2 triliun berbanding target yang sebesar Rp275,4 triliun.

Sedangkan penerimaan perpajakan tak akan mencapai 100% dari target Rp1.618,1 triliun. Penyebab kenaikan PNBP bisa dikatakan tak berhubungan dengan prestasi atau kinerja pemerintah, melainkan karena faktor eksternal yang kebetulan menguntungkan dalam konteks ini.

PNBP yang melampaui target terutama disebabkan oleh: Harga minyak (ICP), harga batubara acuan (HBA), dan kurs rupiah. Asumsi ICP dalam APBN sebesar USD48 per barel, sedangkan realisasi hingga Oktober telah mencapai USD69,18.

HBA rata-rata tahun 2018 hingga Oktober mencapai USD99,72 per ton, lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang USD84,22 per ton. Realisasi kurs hingga Oktober di kisaran Rp14.250 dan akan sekitar Rp14.400 hingga akhir tahun, berbanding asumsi APBN sebesar Rp13.400.

Ketiga, fenomena pelemahan rupiah yang berdampak signifikan. Realisasi kurs rupiah amat jauh dari asumsi dalam APBN. Nota Keuangan APBN 2018 (halaman III.2-3) merinci tentang prakiraan perhitungan risiko akan hal ini.

Tiap pelemahan Rp100 dari asumsi, pendapatan negara akan bertambah sekitar Rp3,8 sampai dengan Rp5,1 triliun. Dampaknya terhadap surplus atau defisit memang hanya sekitar Rp1,5 – Rp1,6 triliun, karena dam pak kenaikan pada belanja.

Dalam konteks klaim di atas, maka pelemahan rupiah menambah pendapatan sekitar Rp38 – Rp51 triliun. Dengan demikian, prakiraan realisasi seluruh pendapatan 2018 yang melampaui target sebesar Rp41 triliun dapat saja dikatakan hanya karena hal ini.

Keempat, perkembangan kinerja pendapatan secara keseluruhan pada era pemerintahan Jokowi. Pendapatan Negara memang cenderung meningkat selama era tahun 2004 – 2018, hanya sempat turun sedikit pada tahun 2009 dan 2015. Laju kenaikan pendapatan tiap tahunnya berfluktuasi.

Dalam era Jokowi bahkan sempat turun pada tahun 2015, dan hanya naik sedikit pada tahun 2016. Peningkatan laju kenaikan signifikan terjadi pada tahun 2017 dan tahun 2018.

Namun, perlu dicatat bahwa rata-rata kenaikan per tahun dalam era 2005 – 2009 adalah sebesar 17.56%, dan pada era 2010 – 2014 sebesar 12.94%. Sedangkan pada era pemerintahan Jokowi yang telah direalisasi, tahun 2015 – 2018 hanya sebesar 5,93% per tahun, atau jauh lebih rendah.

Kelima, penerimaan perpajakan memang mengalami peningkatan pada era Jokowi, namun dengan laju yang lebih lambat dibanding era sebelumnya. Selama era 2015 – 2018, kenaikan penerimaan perpajakan rata-rata sebesar 7.89% per tahun. Sedangkan pada era 2005 – 2009 sebesar 17.97% per tahun, dan era 2010 – 2014 sebesar 13.21% per tahun.

Keenam, pertumbuhan penerimaan perpajakan bukan lah prestasi. Lajunya sedikit dibawah atau hanya setara laju PDB menurut harga berlaku, sehingga tax ratio turun pada tahun 2015 dan 2016, dan hanya sedikit membaik pada tahun 2017 dan 2018.

Akan tetapi tetap masih di bawah tahun 2014. Tax ratio dalam arti luas, yang memasukkan penerimaan SDA tahun 2018 akan sekitar 12,20%, sedangkan tahun 2014 sebesar 13,70%. Tax ratio dalam arti sempit, yang hanya menghitung penerimaan perpajakan, tahun 2018 sekitar 11,09%, sedangkan tahun 2014 sebesar 11,36%.

Penjelasan di atas menunjukkan kinerja pemerintahan Jokowi dalam pendapatan negara tidak cukup baik, dan justeru lebih buruk dibanding sebelumnya. Pada tahun 2018 memang terjadi perbaikan, namun disertai berbagai catatan kritis, yang bahkan mengindikasikan buruknya perencanaan pemerintah pada banyak aspek APBN. Misalnya, tambahan posisi utang yang juga jauh melampaui target.

[Oleh: Awalil Rizky, Chief Economist PBMT Ventura. Tulisan ini juga dipublikasikan media Opiniindonesia.com]


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending