Connect with us

KALIMANTAN BARAT

Kementan Apresiasi Gapoktan Tebas dalam Penerapan Hazton

Published

on

Kementerian Pertanian Surachman Suwandi.

Apakabarnews.com, Pontianak – Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Surachman Suwandi mengapresiasi Gapoktan Mekar Bersatu Tebas Sungai, Sambas, Kalbar yang berhasil meningkatkan produktivitas dengan menerapkan teknologi Hazton.

“Dalam panen raya yang dilakukan ini saya sangat bangga sebab hasil dari penerapan teknologi Hazton membuat produktivitas petani meningkat signifikan,” ujarnya saat dihubungi di Sambas, Selasa (13/2/2018).

Menurutnya pemerintah pusat terus memberikan dukungan kepada petani berupa alat dan mesin pertanian. Selain itu pihaknya akan terus bekerjasama dengan TNI untuk pedampingan.

“Kemudian kepada pihak terkait juga akan terus kita kerjasamakan termasuk penyuluh pertanian. Pencapaian yang ada tentu tidak terlepas dari pihak lainnya selain kerja keras petani itu sendiiri,” kata dia.

Kembali ia menambahkan bahwa keberhasilan upaya khusus (Upsus) sangat ditentukan oleh penyuluh dan Babinsa.

“Bagaimana penyuluh dan Babinsa melakukan gerak tanam serempak, bagaimana panen serempak, bagaimana mengendalikan hama. Juga bagaimana mengamankan agar distribusi sarana dan prasarana termasuk juga benih juga aman. Peran semuanya merupakan peran sinergisme yang harus kita bangun terus menerus dan akan lanjutkan,” jelas dia.

Ia berharap kepada petani agar program yang sudah berhasil meningkatkan hasil pertanian terus dilanjutkan dan dimaksimalkan.

“Tentunya kegiatan produksi Hazton ini agar dapat dilanjutkan oleh petani. Hal yang menjadi kendala kita sempurnakan. Petani juga harus membangun kelembagaan ekonomi petani,” pesannya.

Sementara itu Kepala UPT Dinas Pertanian Kecamatan Tebas, Suliati menyebutkan bahwa teknologi Hazton merupakan program yang telah terbukti meningkatkan hasil pertanian.

“Kami pernah mengadakan pengujian bahwa dengan hazton bisa menghasilkan 12 ton per hektare. Kemudian dengan perlakuan petani sebagaimana biasanya ada yang bisa menembus 8 ton per hektare. Untuk petani dengan perlakuan biasa-biasa, bisa mencapai 4 – 6 ton per hektare,” jelas dia, seperti dikutip Antara. (amr)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KALIMANTAN BARAT

Pagar Pembatas Negara Sekitar PLBN Entikong Dijebol

Published

on

Pagar pembatas negara Indonesia di Kabupaten Sanggau, Kalbar, yang terhubung langsung dengan wilayah Tebedu, Sarawak, Malaysia ditemukan banyak yang rusak.

Apakabarnews.com, Pontianak – Sejumlah titik pagar pembatas negara Indonesia di Kabupaten Sanggau, Kalbar, yang terhubung langsung dengan wilayah Tebedu, Sarawak, Malaysia ditemukan banyak yang rusak.

“Hal ini diketahui setelah Polsek Entikong dan Koramil Entikong, Sanggau melakukan patroli gabungan di sekitar Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong pada Rabu (11/7),” kata Ipda Sahid, Panit Sabhara Polsek Entikong saat dihubungi di Sanggau, Jumat (13/7/2018).

Dalam patroli bersama itu, pagar pembatas negara yang berada di sisi kiri PLBN Entikong terlihat bolong di sejumlah titik.

Pihaknya melakukan patroli ini untuk antisipasi keluar masuknya barang dan orang melalui jalur “tikus” atau ilegal.

Terkait kerusakan pada sejumlah titik pagar pembatas negara, Polsek Entikong telah beberapa kali melakukan perbaikan.

Namun, pascadiperbaiki pagar tersebut kembali dijebol oknum yang melintasi jalur pelolosan yang menembus ke jalur tikus itu.

“Bolongnya itu lumayan besar, bisa dilalui dua manusia dewasa lah. Ada dua titik yang bolong di sayap kiri PLBN, sekarang kita tutup dulu bolongnya ini. Pagarnya ini terbuat dari kawat besi, tapi kalau orang mau nekad, diputus pakai pemotong kawat juga bisa karena kawatnya itu sebesar lidi saja,” ungkap dia.

Guna untuk memantau jalan tikus ini, Polsek bersama Koramil Entikong meningkatkan patroli di jalur tersebut.

Patroli dilakukan dengan waktu yang tidak ditentukan agar pergerakan aparat tidak tercium oleh pelaku kegiatan ilegal.

PLBN Entikong merupakan pintu keluar masuk barang dan jasa ke atau dari Sarawak melalui jalur darat di Kalbar. (guh/iri)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HUKUM

Hakim Cecar Tiga Saksi Korupsi PT BLJ

Published

on

Saksi Ari Suryanto yang merupakan mantan manajer keuangan PT BLJ.

Apakabarnews.com, Pekanbaru – Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pekanbaru mencecar tiga saksi dalam perkara tindak pidana pencucian uang (TPPU) PT Bumi Laksamana Jaya Kabupaten Bengkalis senilai Rp300 miliar.

Tiga saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) dalam persidangan lanjutan di Pengadilan Tipikor Pekanbaru, Rabu (4/7/2018), masing-masing adalah mantan manajer keuangan dan manajer umum perusahaan pelat merah tersebut.

Saksi Ari Suryanto yang merupakan mantan manajer keuangan PT BLJ menjadi saksi yang paling banyak dicecar hakim. Terutama terkait aliran dana Rp300 miliar ke sejumlah perusahaan. Sejatinya, dana itu disuntikkan oleh Pemkab Bengkalis untuk pembangunan dua pembangkit listrik.

Namun, dana itu justru menyebar ke sejumlah perusahaan dan anak perusahaan, yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan pembangunan pembangkit listrik tersebut.

Ari yang dihadirkan sebagai saksi sebenarnya juga terpidana dalam kasus megakorupsi tersebut. Dia menerima hukuman sembilan tahun penjara dalam kasus itu. Namun, hari ini dia kembali dihadirkan jaksa untuk memberikan keterangan dalam perkara TPPU-nya.

Selain Ari, turut hadir dua saksi lainnya yang diperiksa secara bersamaan oleh majelis hakim yang dipimpin Hakim Khamazaro Wawuru, di antaranya mantan manajer umum PT BLH Gerry Lafendi dan mantan manajer keuangan lainnya Adnan.

Ari yang lebih banyak dicecar hakim terkait aliran dana tersebut mengatakan bahwa suntikan dana sebesar Rp300 miliar ke PT BLJ pada 2012 banyak disebar ke sejumlah anak perusahaan maupun perusahaan rekanan.

Akan tetapi, perusahaan-perusahaan yang turut menikmati uang rakyat itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan pembangunan dua pembangkit listrik. Di antara perusahaan itu ada yang bergerak dibidang konstruksi, perkebunan, properti dan lainnya.

“Semuanya atas perintah Pak Dirut (Yusrizal Andayani),” kata Ari.

Yusrizal merupakan mantan Dirut PT BLJ yang menjadi terdakwa dalam perkara ini.

Atas tindakan itu, Hakim lantas bertanya apakah saksi tidak pernah menanyakan kepada terdakwa kenapa dana itu justru menyebar ke beberapa perusahaan. Bahkan, uang itu saat ini raib sementara pembangkit listri tak kunjung selesai.

Ari tidak banyak berkomentar saat dicecar hakim. Dua saksi lainnya juga tidak banyak menjelaskan pertanyaan-pertanyaan hakim yang mengejar alasan beredarnya uang itu ke beberapa perusahaan lainnya.

“Kelihatan sekali ini permainan kalian semua. Kotor, bau busuk,” kata Hakim ketua tegas setelah mendengar keterangan para saksi.

Hakim mempertanyakan pertanggungjawaban Ari sebagai manajer keuangan saat membagi bagi uang itu ke sejumlah perusahaan. Selain itu, dia juga menanyakan apakah ada kesepakatan pemerintah sebagai pemilik perusahaan yang mengizinkan uang itu disebar kemana-mana.

“Sekarang saya tanya, di mana uang itu sekarang? Itu uang besar. Jangan main-main kalian,” tegasnya.

Seluruh pertanyaan itu tidak mampu dijawab para saksi. Dalam persidangan lanjutan itu, Hakim terus mengejar kemana saja aliran dana pemerintah tersebut meski saksi tidak jelas merincikan alirannya.

Korupsi itu berawal ketika PT BLJ tidak sanggup menuntaskan pembangunan dua unit pembangkit listrik. Yang terjadi justru perusahaan ini menginvestasikan uang penyertaan modalnya ke sejumlah perusahaan lainnya yang tidak sesuai peruntukan awalnya.

Untuk diketahui, selain Yusrizal Handayani juga terdapat pesakitan lainnya dalam kasus ini, yaitu Suhernawati.

Terkait dengan Suhernawati, JPU belum bisa menghadirkannya ke persidangan. Pasalnya, dia tengah menunggu putusan kasasi dalam perkara lain di Bogor, dan pihak JPU belum mendapat izin dari PN Bogor.

Perkara ini bermula dari penyertaan modal dari Pemkab Bengkalis ke perusahaan pelat merah itu senilai Rp300 miliar itu untuk pembangunan dua unit pembangkit listrik di Kabupaten Bengkalis pada 2012 silam. Namun kenyataan, uang tersebut tidak digunakan sesuai peruntukkannya.

Selain TPPU, Yusrizal juga telah dinyatakan bersalah dalam perkara utamanya, yaitu tindak pidana korupsi penyertaan modal ke Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Bengkalis itu. Saat ini, Yusrizal telah mendekam di sel tahanan.

Dalam penanganan perkaranya, Kejati Riau juga telah melakukan penyitaan sejumlah barang bukti dalam perkara ini. Aliran dana dalam dugaan TPPU ini menyasar sejumlah perusahaan, termasuk satu sekolah internasional di Kota Pekanbaru yang berada di Jalan Arifin Ahmad, yang bernama International Creative School (ICS).

Selain Yusrizal, perkara korupsi itu juga menjerat sejumlah nama lainnya. Mereka adalah, staf ahli Direktur PT BLJ, Ari Suryanto, mantan Bupati Bengkalis Herliyan Saleh, mantan Sekdakab Bengkalis Burhanuddin, mantan Kepala Inspektorat Bengkalis Mukhlis, dan Komisaris PT BLJ Ribut Susanto.

Nama-nama disebut di atas telah dinyatakan bersalah dalam perkara yang merugikan keuangan negara Rp265 miliar. (oni)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

KALIMANTAN BARAT

Di Masa Remajanya, Karolin Pernah Menjadi “Dara Gawai Dayak”

Published

on

Karolin Margret Natasa cagub kalbar saat berpose dengan busana khas Dayak di atas panggung yang menjadi ajang festival Bujang Dara Gawai.

Apakabanews.com, Jakarta – Karolin Margret Natasa (36), calon gubernur Kalimantan Barat untuk periode 2018-2023, mengunggah fotonya saat berpose di arena Pekan Gawai Dayak 2018, Kompleks Rumah Radakng—rumah panjang khas Dayak—di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Dia berpose dengan busana khas Dayak di atas panggung yang menjadi ajang festival Bujang Dara Gawai. Foto itu diunggah di akun facebook-nya pada Kamis (24/5/2018), yang segera “mencuri”perhatian para warganet.

Pekan Gawai Dayak merupakan event tahunan di Kalimantan Barat, sebagai bentuk pesta kota berbasis tradisi kebudayaan Dayak. Agenda tahunan ini sudah berlangsung sejak 33 tahun silam. Tahun ini Pekan Gawai Dayak digelar pada 20-24 Mei.

“Semalam saya menghadiri acara pemilihan Bujang Dara Gawai, ada ribuan masyarakat hadir dari seluruh penjuru Kalimantan Barat khususnya anak muda,” tulis Karolin pada keterangan sejumlah foto yang diunggahnya.

Festival Bujang Dara Gawai merupakan icon Pekan Gawai Dayak, suatu kesempatan bagi anak-anak muda Dayak, putra dan putri, untuk unjuk kebolehan. Puncaknya, akan ada satu pasang bujang dan dara yang terpilih menjadi pemenang, dan setahun ke depan bersama pemerintah daerah bekerja mempromosikan pariwisata provinsi ini.

Di masa remajanya, putri pertama mantan Gubernur Cornelis ini juga pernah mengikuti festival Bujang Dara Gawai, dan muncul sebagai pemenang.

“Sebagai Dara Gawai 2006 saya bangga melihat kegiatan ini sudah jauh lebih besar dan lebih maju. Kita harus terus memacu motivasi untuk mengembangkan potensi-potensi kreatif yang ada di tanah tercinta kita ini. Saya bersyukur dan berterimakasih juga atas kompaknya dukungan dari masyarakat yang hadir,” kata Karolin. (bvi)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending