Connect with us

OPINI

Pilpres 2019, Silent Majority dalam Pusaran Hegemoni Lembaga Survei

Published

on

Di Pilkada 2017, mayoritas lembaga survei menggulkan Ahok tapi kalah. Kini lembaga survei rame-rame mengunggulkan Jokowi

Oleh : Andre Lukman

Tak bisa dipungkiri bahwa dinamika politik menjelang Pilpres 2019 sudah mulai menghangat, dimana akhir – akhir ini masyarakat dipertontonkan dengan berlomba – lombanya lembaga survei seperti, Populi Center, PolcoMM, Litbang Kompas, Cyrus Network, Alvara, Poltracking, Median, Indobarometer dan Kedai Kopi ataupun lembaga lainnya yang merilis hasil survei yang telah dilakukan masing – masing lembaga.

Tak bisa kita pungkiri dalam politik Indonesia pasca reformasi peran lembaga survei menjadi salah satu instrumen yang cukup sentral dalam menentukan konstalasi hingga kebijakan partai politik ataupun pemerintah.

Menuju Pilpres 2019, lembaga survei sudah mulai berlomba – lomba mengeluarkan rilis surveinya dan mayoritas hasil rilis tersebut mengunggulkan Jokowi sebagai kandidat paling kuat dalam bursa capres dan mempunyai peluang paling besar untuk jadi pemenang dalam pilpres 2019 yang akan datang dengan alasan masyarakat dianggap puas dengan kinerja pemerintahan hari ini.

Tidak menutup kemungkinan di Pilpres 2019 akan kembali seperti fenomena yang terjadi pada Pilkada DKI Jakarta 2017 yang lalu.

Padahal pada tahun 2017 yang lalu pun, dimana seluruh mata masyarakat Indonesia tertuju dan terfokus pada Pilkada DKI Jakarta. Dimana lembaga survei pada Pilkada DKI Jakarta 2017 yang lalu mayoritas lembaga survei mengeluarkan rilis suvei dimana pasangan calon Ahok – Djarot akan memenangkan pertarungan politik Pilkada DKI Jakarta 2017 yang lalu dengan alasan masyarakat DKI Jakarta puas akan kinerja pemerintahan Ahok – Djarot.

Namun bertolak belakang dengan hasil resmi Pilkada DKI Jakarta yang dikeluarkan oleh KPU DKI Jakarta bahwa pasangan calon Anies – Sandi yang tidak diunggulkan sama sekali dalam lembaga survei keluar jadi pemenang Pilkada DKI Jakarta dan ditetapkan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017 – 2022.

Ironinya tak sedikit “tangan – tangan” mencoba “bermain” dengan para pemilik lembaga survei untuk tujuan pribadi ataupun kelompoknya. Sehingga kehadiran lembaga survei tidak hanya menjadi bahan pertimbangan objektif saja namun kini lembaga survei cenderung bisa “dipesan” hasil surveinya.

Sehingga pemesan dapat melakukan upaya penggiringan opini kepada masyarakat sesuai yang dia kehendaki dengan dalih keilmiahan dari metedologi survei itu sendiri. Sehingga hasil survei tidak hanya sekedar menjadi bahan pertimbangan tapi menjadi salah satu alat hegemoni untuk mempengaruhi dan menggiring “silent majority” di Indonesia.

Walaupun survei hanya sekedar prediksi dan analisa, seyogyanya lembaga survei dalam melakukan aktifitasnya dilandasi dengan semangat kejujuran, transparan dan bertanggung jawab sehingga menjadikan lembaga survei yang memiliki kredibilitas yang tinggi dan tidak menjadi lembaga survei yang partisan.

Hal tersebut sangat penting dikarenakan lembaga survei adalah ujung tombak dalam berdemokrasi dan jangan sampai menjadi salah satu alat menghegemoni para “silent majority” demi kepentingan pribadi ataupun kelompok.

Walaupun silent majority dalam pusaran hegemoni lembaga survei, namun tak lantas dengan mudah akan tergiring opininya, karena silent majority akan menilai secara objektif kondisi Indonesia hari ini dan akan melakukan menunjukan eksistensinya pada momentum Pilpres 2019 yang akan datang.

Tidak menutup kemungkinan ketika silent majority akan kembali seperti fenomena yang terjadi pada Pilkada DKI Jakarta 2017 yang lalu. Antara hasil survei dengan hasil resmi yang ditetapkan oleh KPU akan berbanding sebaliknya.

Andre Lukman, adalah Koordinator Jaringan Pemantau Lembaga Survei (JPLS)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

INTERNASIONAL

Kunjungan Wantimpres Kontraproduktif, terkait Dukungan RI untuk Palestina Merdeka

Published

on

Wantimpres Yahya Staquf ke Israel memenuhi undangan The David Amar Worldwide North Africa Jewish Heritage Center, Minggu (10/6/18).

Oleh : Fadli Zon

Kehadiran Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang baru saja dilantik, Yahya Staquf, dalam konferensi tahunan Forum Global AJC (Komite Yahudi Amerika) yang digelar di Yerusalem selama 10-13 Juni 2018 melukai Palestina.

Kunjungan Staquf ke Israel kontraproduktif dengan sikap politik luar negeri Indonesia yang sejak 1947 konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Kunjungan anggota Wantimpres ini juga bisa melanggar konstitusi dan UU No.37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri.

Kunjungan Wantimpres Yahya Staquf ke Israel, selain mencederai reputasi politik luar Indonesia di mata internasional, juga melukai rakyat Palestina. Selain itu, bisa melanggar konstitusi dan UU No.37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri.

Dalam konstitusi kita tertulis tegas penentangan segala bentuk penjajahan. Dan Israel, berdasarkan serangkaian Resolusi yang dikeluarkan PBB, merupakan negara yang telah melakukan banyak pelanggaran kemanusiaan terhadap Palestina.

Mulai dari Resolusi 181 tahun 1947 tentang pembagian wilayah Palestina dan Israel, Resolusi 2253 tahun 1967 tentang upaya Israel mengubah status Yerusalem, Resolusi 3379 tentang Zionisme tahun 1975, Resolusi 4321 tahun 1988 tentang pendudukan Israel dalam peristiwa intifada, dan sejumlah resolusi lainnya baru-baru ini.

BACA SELANJUTNYA : Lebih dari 2069 Anak Palestina Tewas Akibat Serangan Israel

Pages: 1 2 3


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

OPINI

Peran Airport Menjelang Hari Raya Lebaran

Published

on

Wajah interior sebuah airport seyogyanya mencerminkan watak dan ciri bangsa ini yang melahirkan budaya luhur rakyatnya.

Oleh : Kristiya Kartika.

Suasana lebaran yang bernuansa mengerasnya detak jantung lantaran ada rasa riang, gairah, ritual dan inklusif serta mungkin lainnya lagi telah menyelimuti masyarakat sejak awal minggu ini.

Airport sebagai salah satu infrastruktur yang berperan aktif dalam menghantar masyarakat untuk mudik lebaran, sangat menentukan apakah suasana Lebaran tahun ini cukup menyenangkan atau kurang menyenangkan.

Aksentuasi peran utama sebuah bandara adalah pelayanan penumpang pengguna bandara dan masyarakat pada umumnya. Pelayanan sebuah bandara diawali pengaturan lalu lintas dari luar menuju kompleks bandara.

Selanjutnya pelayanan dalam memanfaatkan fasilitas airport, dan berikutnya juga pelayanan dalam menghantar penumpang menuju pesawat terbang sekaligus penataan arus lalu lintas udara.

Dengan jumlah penumpang bandara yang berlipat ganda tatkala Lebaran tiba, pengelolaan bandara pasti dan harus mengalami peningkatan kesiapan dalam berbagai hal. Mulai dari kesiapan yg bersifat manajerial hingga teknis dan pengamanan.

Dalam pengalaman sehari-hari, kita kerap menyadari bahwa peran-peran itu semua sangat menentukan keberhasilan. Artinya, semua peran itu penting. Semua personal pelaku peran itu penting.

Tidak bisa kita membenarkan adagium lama bahwa kalau pengaturan dalam konteks manajemen pelayanan dan penerbangan sudah tersusun rapi, secara otomatis semua pelayanan dan fungsi bandara berhasil mencapai target.

Andaikan konsep pengaturan dan manajemen telah selesai tersusun, tapi implementasinya tidak tertib, tidak sesuai dengan aturan yang ada, dan faktor-faktor lainnya, maka bisa menimbulkan kejadian-kejadian yang membuat program pelayanan secara keseluruhan gagal.

Terkadang ada hal-hal kecil atau sepele yang bisa mengganggu konsep dasar pelayanan. Misalnya, disaat antrean penumpang didepan loket tiket, ada seseorang penumpang yang karena pesan tiketnya melalui e-ticketing tiba-tiba mengalami hal sepele misalnya baterai HP nya mati, sehingga menunggu lama, maka itu akan bisa mengganggu kelancaran penerbangan dalam perspektif waktu. Kekecewaan penumpang akan muncul.

Banyak contoh-contoh lain yang sudah kerap terjadi, yang bisa mempengaruhi atau bahkan mengganggu kelancaran pelayanan bandara dan penerbangan.

Belum lagi soal keamanan yang harus dipatuhi penumpang tatkala seorang Petugas Keamanan minta agar salah satu isi dalam tas Penumpang ditahan lantaran membahayakan penerbangan, sementara karena si penumpang menganggap benda itu dibutuhkan banget maka kemudian meminta klarifikasi bahkan dispensasi kepada otoritas bandara agar benda tsb diperbolehkan masuk pesawat.

Ini perlu penjelasan, kejelasan dan kesepakatan yang mungkin saja harus melibatkan bagian keamanan, otoritas bandara, pihak maskapai penerbangan hingga teknisi pesawat untuk menilai sejauh mana bahaya dari benda itu yang bisa mempengaruhi security penerbangan.

Muara persoalannya adalah mengganggu jadawal penerbangan. Mulai dari urusan parkir kendaraan, tiket, bagasi, kebersihan toilet, service Executive Lounge, alat komunikasi informasi jadwal penerbangan, antrean menuju pesawat hingga pengaturan parkir pesawat.

Ddemikian pula sebaliknya bagi airport tempat tujuan penerbangan, merupakan masalah yang tidak sederhana dan harus dapat perhatian sungguh-sungguh dari Pengelola Bandara.

Selain itu dari perspektif peran penangungjawab air-lines juga penting. Mulai dari ketepatan jadwal yg harus diawali oleh ketepatan kehadiran dan kesiapan para crew pesawat, pengaturan penumpang menuju kursinya secara praktis dan cepat (tentu saja juga harus ramah dan sopan), pengaturan bagasi, sajian hidangan untuk penumpang, informasi dan komunikasi untuk penumpang, semuanya merupakan detil-detil tugas yang harus terkoordinasi dengan tepat dan cepat.

Yang jauh sebelumnya sudah harus beres juga adalah kesiapan pesawat terbang baik dari aspek mechanical, electrical, sound system, lampu penerangan, fasilitas hiburan Video dsb. Detil-detil itu cukup berperan bagi hadirnya sebuah suasana yang nyaman serta menarik bagi penumpang.

BACA BERIKUTNYA : Bagasi yang Terpisah

Pages: 1 2 3


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

OPINI

Perspektif Tumbuhnya Ideologi Terorisme, di Indonesia

Published

on

Ryanti Suryawan, Wakil ketua DPC Gerindra Kota Bogor

Oleh : Ryanti Suryawan

INDONESIA kembali diguncang aksi radikal terorisme yang sudah melampui batas prikemanusian dan akal sehat. Nyawa nyawa tak berdosa kembali menjadi korban kebiadaban yang kita sebut sebagai aksi radikal teroris.

Tak ada ruang sedikitpun di bumi Indonesia ini yang dapat menjadi tempat tumbuh kembangnya terorisme, maka dari itu pemerintah wajib mengungkap dan mengusut tuntas aksi radikal terorisme yang sungguh diluar batas kemanusian.

Tiga Terduga Teroris Probolinggo Terlibat Bom Surabaya-Sidoarjo

Seperti yang kita ketahui sepekan sebelumnya peristiwa terorisme sangat mengejutkan justru terjadi didalam Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob) Depok.

Ironisnya ini terjadi di dalam sebuah penjara yang notabene adalah merupakan Markas Komando yang dimana merupakan markas pasukan elite kepolisian dan yang lebih tragis didalam aksi terorisme itu telah gugur lima polisi yang dimana para teroris itu dapat menguasai senjata yang dirampas dari pasukan elite brimob dan melumpuhkan serta melukai banyak korban.

Sungguh tragis dan kita bertanya mengapa hal ini dapat terjadi? Kelemahan sistem seperti apa sebetulnya yang terjadi? Sehingga dengan begitu mudahnya teroris dapat menguasai tempat yang justru dimana mereka ditawan.

Hal-hal seperti ini yang seharusnya menjadi penjelasan dari pihak terkait sehingga tidak menjadi pertanyaan masyarakat. Dan kini kasus Marko Brimob masih belum reda muncul kembali aksi terorisme yang radikal dan memakan korban tidak sedikit.

Indonesia tidak takut terhadap terorisme dan indonesia sangat membenci terorisme apapun alasannya apapun ideologinya, dan Indonesia harus dapat mengalahkan Terorisme.

Tragedi Mako Brimob dan Surabaya membuktikan bila ideologi terorisme masih sangat hidup diIndonesia dan sepertinya ideologi terorisme di indonesia sulit dihentikan.

Perbuatan terorisme adalah perbuatan biadab dan sangat tidak mencerminkan tindakan orang yang beragama, maka dari itu tidak tepat pula bila teroris dikaitkan dengan agama karena terorisme adalah kejahatan kemanusian yang dilakukan individu.

Tidak ada satu agama manapun yang membenarkan pembunuhan walau mengatasnamakan jihad dijalan allah, karena seperti yang kita ketahui para terorisme mempunyai konsep “cosmix war” yaitu berperang melawan yang baik dan yang jahat, dan semua teroris merasa bila selalu dijalan yang benar dan ini diyakini semua teroris.

Dalam hal ini sekiranya DPR sudah sangat perlu untuk segera mengesahkan RUU Antiterorisme dan memuat sejumlah aturan, karena sejauh ini masih menjadi perdebatan di DPR karena masih ada perdebatan dan perbedaan pendapat yang masih elementer didalam tubuh DPR itu sendiri. Terutama menyangkut katagori terorisme, gejala terorisme,penomena terorisme dan pencegahan terorisme yang debatable.

Karena itu langkah yang harus segera diambil adalah kerjasama yang baik antara Polri,BIN dan BNPT (Badan Nasional penanggulangan Terorisme) agar melakukan pendekatan secara cermat dan komprehensif untuk pencegahan maupun penanggulangan setiap aksi teror.

Dan mari kita bersama dan bersatu untuk melawan dan menghadapi terorisme. Keutuhan NKRI terlalu mahal untuk dipertaruhkan karena anak cucu kita kelak yang akan memiliki masa depan yang seutuhnya.

Ryanti Suryawan, adalah Wakil ketua DPC Gerindra Kota Bogor.


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending