Connect with us

RELATIONSHIP

Pengantin Baru, Waspadai Tahun Pertama Pernikahan

Published

on

tahun pertama pernikahan adalah masa krusial karena rentan dengan perceraian.

Apakabarnews.com, Jakarta – Masa awal pernikahan terasa menyenangkan, hari demi hari dilewati dengan hati berbunga-bunga bersama pasangan tercinta. Di balik itu, tahun pertama pernikahan adalah masa krusial karena rentan dengan perceraian.

“Mau pacaran selama apa pun, tahun pertama itu penuh cobaan,” kata psikolog Ajeng Raviando dalam acara bincang-bincang “Istri Resik, Pernikahan Harmonis” di Jakarta, Senin, (7/5/2018).

Pengantin baru yang sedang euforia menikmati bab baru dalam kehidupan mereka biasanya punya ekspektasi tinggi atas apa yang akan mereka jalani. Kekecewaan akan melanda ketika kenyataan rupanya tidak seindah yang diharapkan.

Menurut Ajeng, pada tahun pertama pernikahan pasangan suami istri sebaiknya belajar untuk menyesuaikan diri. Jangan lupa untuk memahami kekurangan masing-masing serta menerimanya secara lapang dada.

“Ikhlas dan bersyukur atas hubungan tersebut adalah faktor pertama dalam menjaga keharmonisan,” kata Ajeng.

Cobaan dalam pernikahan takkan pernah berhenti. Ketika hubungan sudah stabil dan usia pernikahan sudah bertambah, masalah selanjutnya adalah mengatasi rasa bosan akibat terkungkung rutinitas.

Pasangan suami istri harus bisa menyiasatinya agar pernikahan mereka tetap terasa menyenangkan. Komunikasi jadi kunci utama untuk menyelesaikan segala masalah dan perbedaan.

Jika ada unek-unek, bicarakan pada pasangan. Kalau dipendam terlalu lama bisa berpotensi membuat hubungan tidak harmonis.

Dia menambahkan, di Indonesia tren perceraian semakin meningkat dengan kenaikan 15-20 persen. Menurut Ajeng, ada pergeseran nilai di mana pernikahan kerap dijalani seperti sedang berpacaran. Bila dirasa kurang cocok, hubungan langsung diputuskan.

“Padahal yang namanya pernikahan butuh kerja keras, kesabaran dan usaha dari dua belah pihak.”

Selain hubungan tidak harmonis, beberapa alasan penyebab perceraian di Indonesia meliputi tidak ada tanggung jawab, persoalan ekonomi serta adanya orang ketiga, (nan).

BACA JUGA : Media Sosial, Tantangan Pernikahan Masa Kini


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RELATIONSHIP

Waktu Berkualitas Antara Orangtua-Anak Kurangi Kecanduan Gawai

Published

on

Kualitas kebersamaan antara orangtua dan anak harus ditandai dengan adanya interaksi yang responsif.

Apakabarnews.com, Jakarta – Pemerhati anak dari Traditional Games Returns (TGR) Aghnina Wahdini mengatakan kecanduan gawai (gadget) akan berkurang jika orangtua bisa lebih sering menghabiskan waktu berkualitas dengan anaknya.

“Orangtua bisa membuat anak berpaling dari gadget, bukan hanya dengan membelikan mainan jenis lain, tapi bisa juga dengan memberikan `quality time` untuk keluarganya,” ujar Aghnina, yang sekaligus pendiri dan direktur proyek TGR, kepada Antara di Jakarta, Sabtu (13/10/2018).

BACA JUGA : Kurangi Kecanduan Anak pada Gadget, Saint John’s School Gelar Pekan Literasi Media

Ia kemudian menerangkan kualitas kebersamaan antara orangtua dan anak harus ditandai dengan adanya interaksi yang responsif.

Interaksi itu bisa dengan anak didongengi atau sekedar mengobrol, serta mendengarkan tanpa memotong pernyataan anak saat mengungkapkan pendapatnya, tutur Aghnina.

“Ini sering terlupakan. Kebiasaan sekarang kan, orangtua itu kasih gadget agar mereka tidak terganggu saat bekerja dan juga sebagai cara untuk mendiamkan anak. Cara-cara itu harus diubah dan ditinggalkan,” kata dia.

Aghnina tidak menampik bahwa pemberian mainan yang mengasah otak atau edukatif juga bisa menjadi alternatif bagi orangtua yang ingin anaknya tidak ketagihan bermain gawai.

“Bermain puzzle manfaatnya memang baik, tapi anak itu utamanya harus dekat dengan orangtuanya. Kalau sudah dekat, secara otomatis tidak tergantung gadget lagi,” kata dia. (agt)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

RELATIONSHIP

Jurus Taklukkan Calon Mertua

Published

on

Stereotip itu tidak menganggu hubungan, ajaklah pasangan untuk lebih dekat kepada calon mertua.

Apakabarnews.com, Jakarta – Calon mertua ternyata salah satu dari masalah dalam persiapan pernikahan. Maklum saja, calon mertua mengharapkan yang terbaik bagi sang anak.

“Sejauh ini masalah dengan calon mertua itu lebih banyak pada calon pengantin perempuan dibanding pria,” tegas Marketing Manager The Bride Dept Putri Arindra dalam acara bedah buku “The Ultimate Wedding Guide” di Jakarta, Kamis (11/10/2018).

Putri menyebutkan bahwa calon pengantin lelaki jarang bermasalah dengan calon mertua.

“Kalau pun ada masalah itu hanya lebih pada masalah ekonomi atau profesi. Dan rata-rata hal itu tidak begitu menjadi masalah ke depannya,” imbuhnya.

Berbeda dengan perempuan, sambung Putri, secara natural perempuan memiliki sifat kompetitif.

“Seorang ibu cenderung posesif terhadap anak lelakinya. Ia menganggap anak lelaki masih kecil dan memikirkan apakah pasangan sang anak ini mampu merawat anaknya. Jadi, calon menantu dan mertua perempuan itu sering bermasalah,” ungkapnya.

Putri menyebutkan bahwa ada tiga hal yang memicu konflik dengan calon mertua.

“Masalah Ras. Biasanya muncul stereotip terhadap ras tertentu. Misalnya suku tertentu itu lebih blak-blakan. Agar stereotip itu tidak menganggu hubungan, ajaklah pasangan untuk lebih dekat kepada calon mertua,” sarannya.

Kemudian, soal generasi. Misalnya, ibu zaman dulu itu fokusnya untuk keluarga. Tapi, sekarang pasangan itu bekerja.

“Saat ini tengah tren self love, artinya jika kita dapat mencintai diri sendiri, maka kita dapat mencintai orang lain. Yakinkanlah kepada calon mertua bahwa diri kita tetap bekerja dan menjalankan kodrat sebagai istri dan ibu,” ungkap Putri.

Selanjutnya adalah cara komunikasi. Mengertilah kondisi mereka yang lebih tua.

“Kita dapat membawa hantaran untuk calon mertua. Hal itu sebagai bentuk perhatian kita kepada mereka,” pungkasnya. (ang)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

RELATIONSHIP

Membicarakan Budget Pernikahan Dapat Meminimalisasi Konflik dengan Pasangan

Published

on

Rumus untuk menghitung budget pertambahan tamu ini adalah jumlah undangan yang hadir dikali dua dan dibagi 10 persen.

Apakabarnews.com, Jakarta – Pernikahan adalah momen berharga sepanjang hidup, namun pasangan kerap berkonflik karena membicarakan biaya pernikahan. Oleh karena itu, ajaklah pasangan untuk membicarakan budget persiapan pernikahan sejak awal.

“Budget membengkak kerap menjadi masalah di antara calon pengantin. Misalnya saja, pasangan ingin kue pernikahan dengan tinggi tertentu, dekorasi mewah, jumlah tamu undangan bertambah, dan lain sebagainya. Sehingga, pasangan memerlukan patokan budget untuk persiapan pernikahan,” ungkap penulis buku “The Ultimate Wedding Guide” Caroline Muliawan saat berbincang dalam acara seputar pernikahan dan bedah buku “The Ultimate Wedding Guide” di Jakarta, Kamis (11/10/2018).

BACA JUGA : Pernikahan yang Bahagia Bisa Bantu Tetap Langsing

Caroline menerangkan mengenai simulasi budget pernikahan. Umpamanya, resepsi meliputi katering, rental, dan gedung (45 persen), fotografi dan videografi (12 persen), bunga dan dekorasi (7 persen), baju pengantin (9 persen), entertainment (6 persen), cincin (6 persen), suvenir (5 persen), transportasi (3 persen), kue (2 persen), dan biaya tak terduga (5 persen).

Caroline mengakui bahwa salah satu anggaran yang membengkak adalah undangan dan ini ada pengaruhnya terhadap konsumsi atau makanan. Ia membagikan tips memilih tamu.

“Jumlah tamu itu dibagi berdasarkan ring. Ada ring 1, mereka yang masuk kategori wajib diundang seperti saudara kandung orangtua, saudara sepupu orangtua, sahabat, rekan bisnis atau kolega orangtua, teman satu divisi kantor, dan tetangga. Presentasinya bisa 50-60 persen,” ujarnya.

Kemudian, sambung Caroline, ada tamu masuk kategori ring 2, misalnya saudara jauh seperti mertua dari saudara sepupu, pihak luar yang berhubungan di pekerjaan, seperti supplier atau klien, dan teman satu komunitas. “Kita dapat alokasikan undangan sekitar 20 persen,” imbuhnya.

Ada pula tamu dalam kategori ring 3, yaitu orang-orang yang dapat diundang bila memiliki budget berlebih, seperti teman masa kecil atau teman adik atau kakak.

“Rumus untuk menghitung budget pertambahan tamu ini adalah jumlah undangan yang hadir dikali dua dan dibagi 10 persen tamu yang tidak hadir,” jelas Caroline yang berlatar belakang pendidikan finance.

Setelah melihat budget tersebut, perempuan cantik ini menyarankan agar pasangan menyiapkan pembagian budget.

“Bila masing-masing pasangan ingin menabung itu bisa 10 persen dari gaji untuk tiga hingga empat tahun ke depan. Setelah tunangan, prosentase tabungan ditambahkan menjadi 30 persen,” saran Caroline. (ang)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending