Connect with us

BOLA

Polrestro Jakarta Selatan Segera Panggil Koordinator Jakmania

Published

on

Sejumlah petugas kepolisian mengamankan suporter Persija Jakarta, Jakmania, yang terlibat kerusuhan pada pertandingan lanjutan Liga Super Indonesia antara Persija Jakarta melawan Persib Bandung di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta.

Apakabarnews.com, Jakarta  – Penyidik Polres Metro Jakarta Selatan segera memanggil koordinator pendukung tim sepak bola Persija atau Jakmania terkait dugaan pemukulan terhadap putra Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.

 “Pemanggilan dalam waktu dekat,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Polisi Stefanus Tamuntuan di Jakarta Senin (2/7/2018).

Stefanus menyebutkan salah satu saksi yang akan dimintai keterangan, yakni Ketua Jakmania Feri Indrasjarif dan beberapa orang yang berada di lokasi kejadian.

 Sebelumnya, beredar video melalui media sosial yang merekam putra Imam Nahrawi itu diusir pendukung kesebelasan Persija lantaran menunjukkan kegembiraan ketika pemain Persebaya mencetak gol.

Karena terlihat ekspresi senang, oknum pendukung Persija memukul kepala dan mengusir putra Imam Nahrawi di tribun penonton.

Namun sebagian penonton yang berada di tribun berusaha menenangkan situasi yang sempat memanas tersebut.

Peristiwa pemukulan itu terjadi saat pertandingan lanjutan Liga I antara Persija melawan Persebaya di Stadion PTIK Jakarta Selatan pada Selasa (26/6/2018).

Usai terjadi pemukulan, putra Menpora RI membuat laporan polisi pada Jumat (29/6/2018) malam.

Selanjutnya, petugas Polres Metro Jakarta Selatan mengidentifikasi dan mengamankan pelaku yang diduga oknum anggota Jakmania itu.

Pelaku penganiayaan itu dijerat Pasal 351 juncto Pasal 335 KUHP terkait dugaan penganiayaan dan perbuatan memaksa dengan kekerasan. (trd)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BOLA

Laga Melawan Swedia Disebut Ujian Berat, Ketimbang Hadapi Brazil

Published

on

Mantan pelatih tim nasional Inggris, Sven-Goran Eriksson.

Apakabarnews.com, London – Mantan pelatih tim nasional Inggris Sven-Goran Eriksson menyebut laga perempat final Piala Dunia 2018 melawan Swedia akan menjadi ujian terberat Inggris di ajang tersebut.

Bahkan, Eriksson tanpa ragu menyebut laga itu merupakan tugas yang lebih menakutkan ketimbang salah satu favorit utama turnamen tersebut, Brazil.

Tentu saja Eriksson dibayangi bias saat melontarkan hal tersebut, mengingat pria Swedia yang sempat menukangi Inggris hingga perempat final Piala Dunia 2002 dan 2006 tersebut berbicara tentang negara asalnya sendiri.

“Menurut pendapat saya, akan lebih mudah bagi Inggris untuk menaklukkan Brazil ketimbang mengalahkan Swedia. Swedia hari ini adalah tim yang sangat sulit dikalahkan siapa pun,” kata Eriksson kepada Paddy Power News sebagaimana dikutip Reuters.

Eriksson meyakini laga perempat final melawan Swedia akan menjadi pertandingan tersulit bagi Inggris di Piala Dunia 2018 sejauh ini.

“Inggris memiliki peluang besar untuk menembus babak semifinal Piala Dunia. Tapi, jika ada dalam skuad yang berpikir bahwa mereka memiliki pertandingan yang mudah pada Sabtu, pikiran mereka itu salah. Ini akan menjadi pertandingan tersulit yang akan mereka mainkan sejauh ini, mereka bisa bertaruh untuk itu,” katanya.

Inggris mencapai perempat final setelah berjibaku dan menghapus catatan buruk drama adu penalti di pentas piala dunia setelah mengalahkan Kolombia 4-3 di putaran 16 besar.

Sementara Swedia untuk kali pertama kembali menjejaki perempat final piala dunia setelah terakhir kali mencapainya pada 1994 silam, kala itu mereka melaju hingga menempati peringkat ketiga turnamen, setelah mengalahkan Swiss 1-0.

Kedua tim akan berhadapan di Stadion Samara Arena, pada Sabtu (7/7/2018).

“Swedia sangat sulit untuk dipatahkan. Mereka sangat solid dan sangat tangguh. Jika Anda membangunkan mereka di tengah malam, mereka akan tahu setiap posisi dalam bertahan — kemungkinan apa pun dalam laga, mereka tahu apa yang harus dilakukan. Penyerang mereka adalah bek ketika saatnya untuk bertahan dan mereka juga dapat bertahan di daerah pertahanan mereka sendiri,” kata Eriksson.

“Sepanjang waktu saya bersama timnas Inggris, kami telah bertemu mereka sebanyak empat kali. Kami hanya kalah sekali, dan lainnya berakhir imbang. Swedia justru mampu mengalahkan Inggris di pertandingan besar, karenanya otak saya mengatakan Inggris akan jadi pemenangnya, meski hati saya justru sebaliknya menyebutkan Swedia,” ujarnya menambahkan.

Momentum penghapusan catatan buruk drama adu penalti, sedikit banyak membuat Eriksson juga percaya bahwa itu menjadi suntikan kepercayaan diri yang penting bagi Inggris untuk mengatasi halangan bernama Swedia.

“Semua orang khawatir ketika pertandingan berakhir dengan adu penalti, dan dengan rekor yang dimiliki Inggris dalam kompetisi, kemenangan itu sangat besar artinya di Inggris bahwa mereka telah berhasil memenangkan adu penalti di sini … itu bagus untuk kepercayaan diri karena sejarah Inggris,” katanya. (ant)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

BOLA

Kompany Tak Nyaman Sebutan Generasi Emas Belgia

Published

on

Bek tim nasional Belgia, Vincent Kompany.

Apakabarnews.com, Moskow  – Bek tim nasional Belgia Vincent Kompany menyatakan laga perempat final Piala Dunia 2018 melawan Brazil di Kazan, Rusia, pada Sabtu (7/7/2018) dini hari WIB, adalah pertandingan menentukan bagi tim yang kini diisi para pemain berbakat namun menegaskan bahwa ia dan rekan-rekannya tak lagi nyaman dengan sebutan generasi emas.

“Istilah generasi emas jelas tak diterima dengan baik di antara para pemain dan sebetulnya itu bukan sesuatu yang terlalu penting bagi kami,” katanya dalam konferensi pers di markas latihan timnas Belgia di luar Moskow, Rabu (4/7/2018) setempat.

“Bahwa laga melawan Brazil itu penting buat generasi kami, jelas. Namun itu tak berarti sampai saat ini kami gagal, hanya saja kami perlu mencapai level yang lebih tinggi, yang bisa dicapai lewat pertandingan yang akan kami mainkan melawan Brazil,” ujarnya menambahkan.

Kompany menegaskan bahwa pertandingan tersebut tidak hanya penting bagi Belgia tetapi juga bagi Brazil, bahkan menyebut bahwa seharusnya kedua negara tak bertemu di babak yang lebih jauh di turnamen sepak bola paling wahid.

“Jadi, ini adalah permainan yang menentukan, tetapi tidak hanya bagi kami, itu adalah permainan yang menentukan untuk Brasil juga. Dengan komposisi pemain yang dimiliki kedua tim sebetulnya layak bertemu di babak yang lebih jauh di turnamen ini dan tidak di perempat final,” katanya.

Selama beberapa tahun terakhir, label generasi emas disematkan kepada timnas Belgia, yang sebelumnya dikapteni oleh Kompany, yang berisikan pemain sekaliber Kevin De Bruyne, Eden Hazard, Thibaut Courtois dan Dries Mertens.

Namun harapan besar yang ditaruh ke generasi emas Belgia itu selalu runtuh, lewat pencapaian yang tak terlalu gemilang termasuk tersingkir di perempat final Piala Dunia 2014 demikian juga terhenti di perempat final Piala Eropa 2016.

Tapi Kompany yakin bahwa Belgia kini memiliki skala mental yang lebih tangguh, mengingat skuatnya berisikan pemain yang telah memenangi berbagai gelar di level klub di seantero Eropa.

“Dulu dalam budaya Belgia, dan saya pikir semua orang akan setuju dengan saya, kami akan merasa kalah bahkan sebelum pertandingan seperti ini tetapi semua pemain ini di tim kami, yang bermain di klub di seluruh dunia, sekarang percaya 100 persen kami bisa mengalahkan Brazil. Apakah itu realistis saya tidak tahu, Brazil adalah tim yang luar biasa tetapi tidak ada satu hari saya pergi tidur sambil berpikir ‘bagaimana kalau kita kalah?’,” katanya.

Ketika dimintai komentar mengenai drama yang ditampilkan Neymar dalam laga putaran 16 besar melawan Meksiko, saat ia berguling-guling bak cacing kepanasan setelah kontak fisik ringan dengan pemain lawan, Kompany mengaku tidak peduli.

“Saya tidak tahu. Saya tidak peduli,” katanya.

“Jika pertandingan itu hanya akan menjadi kontes individual semata, percayalah kami tidak memiliki kesempatan melawan Brazil. Tetapi jika ini persoalan penampilan kolektif tim yang tahu cara bermain dan berjuang bersama, maka kami memiliki kesempatan dan itu satu-satunya hal yang saya pedulikan. Apapun yang dilakukan pemain tim lawan tidak akan banyak berpengaruh,” pungkas Kompany, yang dalam konferensi pers itu menjawab pertanyaan dalam empat bahasa. (tri)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

BOLA

Kursi Pelatih Swiss Aman Meski Tersingkir di Putaran 16 Besar

Published

on

Pelatih klub Swiss, Vladimir Petkovic.

Apakabarnews.com, Moskow – Kursi pelatih tim nasional Swiss, Vladimir Petkovic, dipastikan tetap aman meskipun negara tersebut tersingkir dari putaran 16 besar Piala Dunia 2018 usai kalah dari Swedia 0-1, demikian Ketua Federasi Sepak Bola Swiss (SFV) pada hari Selasa waktu Moskow, Rusia.

Presiden SFV Peter Gillieron yang berbicara sehari setelah kekalahan tersebut menyatakan tidak ada yang perlu ditinjau dari kontrak Petkovic yang baru akan habis pada 2020.

“Saya dapat menjamin itu bukan masalah,” katanya kepada wartawan di markas latihan timnas Swiss di Togliatti, Rusia.

“Vladimir Petkovic telah mencapai banyak hal baik selama waktunya bersama kami,” ujarnya menambahkan.

Meski mengakui bahwa kekalahan tersebut pastinya menimbulkan kekecewaan, Gillieron mengajak semua pihak untuk tidak terpaku pada sisi negatif semata.

“Saya kecewa seperti orang lain, tetapi kita tidak hanya melihat sisi negatifnya. Ada saat-saat di masa lalu ketika kami bahkan tidak lolos ke turnamen besar. Kini lami memiliki tim yang termasuk yang terbaik di Eropa, saya tahu semua orang kecewa tetapi kami harus melihat sisi positifnya,” ujarnya.

Kekalahan tersebut membuat Swiss, yang terakhir mencapai perempat final Piala Dunia ketika mereka menjadi tuan rumah turnamen pada tahun 1954, tersingkir di babak 16 besar untuk turnamen besar ketiga berturut-turut.

Kapten tim Stephan Lichtsteiner, setuju bahwa timnya telah kehilangan kesempatan unik.

“Kami ingin menulis ulang sejarah dan kami belum melakukan itu, kami tahu kami kehilangan kesempatan bagus untuk mencapai perempat final,” katanya.

Swiss tampak lesu karena mereka digulingkan Swedia dan komentar Petkovic bahwa timnya “kurang emosi” mengangkat alis di antara media Swiss.

“Terkadang Anda memiliki hari-hari seperti itu,” kata Lichtsteiner. “Persiapannya bagus, kami memiliki lebih banyak penguasaan bola dan mendapatkan sejumlah posisi bagus, tetapi kadang-kadang hal-hal tidak berjalan sesuai keinginan Anda. (tri)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending