Connect with us

ACEH

Nelayan Aceh Barat Takut Gunakan Kapal Bantuan

Published

on

Armada bantuan KKP yang sudah sampai untuk beberapa kelompok nelayan di daerah setempat.

Apakabarnews.com, Meulaboh – Nelayan di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh tidak bersedia menggunakan armada kapal motor bantuan Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), karena tidak terbiasa memakai kapal berbahan dari fiber.

Tokoh nelayan Aceh Barat, Abu Samah di Meulaboh, Rabu (4/7/2018) mengatakan, armada bantuan KKP yang sudah sampai untuk beberapa kelompok nelayan di daerah setempat belum dioperasikan karena nelayan takut akan risiko dan keselamatan.

“Sepesifkasi kapal juga tidak sesuai dengan model dan gaya melaut kelompok nelayan ada di Aceh Barat. Kalau nelayan daerah kita, kapal yang biasa digunakan terbuat dari papan atau kayu, bukan berbahan fiber, itu yang membuat khawatir,” jelasnya.

KKP menyalurkan bantuan beberapa unit armada kapal motor kepada koperasi-koperasi nelayan di daerah setempat dan telah sampai ke daerah itu pada April 2018, namun belum dioperasionalkan karena beberapa kendala di lapangan.

Sebagai salah satu ketua kelompok penerima manfaat, Abu Samah, menuturkan, nelayan belum berani menggunakan kapal tersebut karena dinilai tidak sesuai bahan pembuatan kapal tersebut yang membuat mereka lebih khawatir.

Ia menerangkan, nelayan juga masih menunggu bantuan alat penangkapan ikan (API) dari Kementrian KP yang akan diserahkan bersamaan dengan kapal tersebut, namun saat ini bantuan alat tangkap itu belum sampai kepada kelompok usaha nelayan itu.

“Selain karena spesifikasi kapal, kami juga sampai sekarang masih menunggu alat tangkapnya, bagaimana kita hendak melaut kalau alat tangkap tidak ada, katanya bantuan ini komplit dengan alat tangkap berupa jaring yang sesuai anjuran,” jelasnya.

Lebih lanjut disampaikan, dua unit kapal dari 10 unit yang berbahan dasar fiber/roving (Serar Kasar) dikelola oleh kelompok Sejahtera asal Kecamatan Mereubo tersebut hanya terparkir d iatas lumpur pinggiran Sungai Mereubo dan terbengkalai tanpa perawatan.

Selain itu, jika dioperasikan para nelayan takut hanya mengeluarkan modal yang lebih besar daripada hasil yang dibawa pulang nantinya, sebab kapal tersebut tidak bisa berlayar dengan jarak tempuh yang biasanya mereka gunakan. (anw)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

ACEH

16 Nelayan Aceh Ditangkap di Perairan Thailand

Published

on

16 nelayan dari Idi, Kabupaten Aceh Timur, dilaporkan ditangkap di perairan Thailand.

Apakabarnews.com, Banda Aceh – Wakil Sekretaris Jenderal Panglima Laot Aceh Miftach Cut Adek menyatakan 16 nelayan dari Idi, Kabupaten Aceh Timur, dilaporkan ditangkap di perairan Thailand.

“Ada 16 nelayan Aceh Timur ditangkap di perairan Thailand. Mereka dilaporkan ditangkap orang berpakaian loreng dengan senjata,” kata Miftach Cut Adek yang dihubungi dari Banda Aceh, Jumat (9/11/2018).

Penangkapan nelayan Aceh Timur tersebut berdasarkan laporan Panglima Laot Idi Rayeuk. Mereka dilaporkan ditangkap pada Selasa (6/11) sekitar pukul 08.00 waktu setempat.

Ke-16 nelayan yang dilaporkan ditangkap tersebut yakni Jamaluddin, Nurdin, Samidan, Efendi, Rahmat, Saifuddin, Nazaruddin, Syukri, Darman, Safrizal, Umar, M Aris, Jamaluddin, Sulaiman, M Akbar, dan Paiturahman.

Belasan nelayan tersebut melaut dengan KM Bintang Jasa. Mereka berangkat dari Kuala Idi, Aceh Timur, pada 31 Oktober 2018 sekitar pukul 14.00 WIB.

“Sampai saat ini, kami kehilangan kontak dan tidak dapat dihubungi. Hari ini, kami mencoba melaporkan kepada Pemerintah Aceh maupun Kementerian Luar Negeri,” kata Miftach.

Ia menyebutkan, pihaknya juga belum mengetahui penyebab mereka masuk ke perairan Thailand. Posisi saat ditangkap di perbatasan Thailand dam Myanmar, namun masuk wilayah Thailand.

“Kami belum mengetahui apakah mereka hanyut, mesin rusak, atau penyebab teknis lainnya, belum ada informasi. Kami berupaya mencari informasi terkait penangkapan nelayan Aceh tersebut,” kata Miftach Cut Adek. (mhs)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

ACEH

Peneliti Ingatkan Waspadai Sembilan Daerah Rawan Likuifaksi di Aceh

Published

on

Sembilan daerah dari 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh yang paling rawan terjadinya likuifaksi atau pencairan tanah akibat guncangan gempa bumi.

Apakabarnews.com, Banda Aceh – Seorang peneliti dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh menyatakan ada sembilan daerah dari 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh yang paling rawan terjadinya likuifaksi atau pencairan tanah akibat guncangan gempa bumi.

“Likuifaksi itu rawan terjadi di pesisir pantai timur, seperti Langsa, Lhokseumawe, Pidie Jaya, Aceh Besar, dan Banda Aceh,” kata Ketua Program Studi Teknik Geologi Fakultas Teknik Unsyiah, Dr Bambang Setiawan, M.Eng.Sc di Banda Aceh, Senin (22/10/2018).

Kemudian, yang berada di pesisir pantai barat dan selatan di provinsi paling barat di Indonesia ini, meliputi Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Selatan, dan Aceh Singkil.

Menurut dia, daerah paling terluas berpotensi terjadinya likuifaksi berada di Aceh Singkil, Aceh Barat, terutama di Kota Meulaboh, dan Aceh Jaya di Kecamatan Krueng Sabee.

Sedangkan di Kota Banda Aceh dengan tingkat kerentanan yang sangat tinggi berada di Kecamatan Meuraxa, dan sepanjang Pantai Alue Naga.

“Suatu areal tanah yang terbentuk dari endapan atau disebut juga tanah aluvial (tanah muda). Hitungan mudanya, bisa berusia ratusan tahun. Likuifaksi terjadi, karena ada goncangan yang mengakibatkan lepasnya daya dukung tanah,” katanya menegaskan.

Ia mengemukakan, fenomena likuifaksi di wilayah Petobo dan Balaroa, Sulawesi Tengah, setelah guncangan gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter(SR), dan disusul tsunami bukan baru pertama kali di Indonesia.

“Kita di Aceh, seperti gempa 2006 menimbulkan likuifaksi di Pantai Manohara, Pidie Jaya. Gempa dan tsunami 2004, juga menyebabkan likuifaksi di Banda Aceh,” kata Bambang, geolog yang meraih gelar doktor di Universitas Adelaide, Australia.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh melalui Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) berencana melakukan penelitian terhadap sejumlah daerah rawan likuifaksi atau pergerakan tanah di daerah tersebut.

“Kami ingin ilmuwan bisa berkolaborasi dengan BPBA untuk pemetaan mana daerah rentan likuifaksi di provinsi ini,” kata Kepala Pelaksana BPBA Aceh, Teuku Ahmad Dadek.

Ia mengaku, pihaknya telah menunjuk ilmuwan Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana (TDMRC) Universitas Syiah Kuala untuk melaksanakan penelitian tersebut dalam waktu dekat ini.

BPBA sendiri telah memiliki seismograf terbaru demi menunjang studi likuifaksi, seperti Singkil dan Meulaboh, serta melakukan penelitian beberapa patahan sesar-sesar aktif di provinsi berjuluk “Serambi Mekkah” itu.

“Jika sewaktu-waktu terjadi gempa, maka kerusakan yang ditimbulkan bisa diminimalisasi. Tidak sama dengan kerusakan yang kita perkirakan dengan gempa sebelumnya,” katanya. (muh)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

ACEH

Sembilan Daerah di Aceh Rawan Likuifaksi

Published

on

Sembilan daerah dari 23 kabupaten/kota di Aceh paling rawan terjadinya likuifaksi atau pencairan tanah akibat guncangan gempa bumi.

Apakabarnews.com, Banda Aceh – Seorang peneliti dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menyatakan, ada sembilan daerah dari 23 kabupaten/kota di Aceh paling rawan terjadinya likuifaksi atau pencairan tanah akibat guncangan gempa bumi.

“Likuifaksi di pesisir pantai Timur, seperti Langsa, Lhokseumawe, Pidie Jaya, Aceh Besar, dan Banda Aceh,” ujar Ketua Prodi Teknik Geologi Fakultas Teknik Unsyiah, Dr Bambang Setiawan, MEng, Sc di Banda Aceh, Senin (22/10/2018).

Kemudian, berada di pesisir pantai Barat dan Selatan di provinsi paling Barat di Indonesia ini, meliputi Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Selatan, dan Aceh Singkil.

Menurut dia, daerah paling terluas berpotensi terjadinya likuifaksi berada di Aceh Singkil, Aceh Barat, terutama di Kota Meulaboh, dan Aceh Jaya di Kecamatan Krueng Sabee.

Sedangkan, di Kota Banda Aceh dengan tingkat kerentanan yang sangat tinggi berada di Kecamatan Meuraxa, dan sepanjang Pantai Alue Naga.

“Suatu areal tanah yang terbentuk dari endapan atau disebut juga tanah aluvial (tanah muda). Hitungan mudanya, bisa berusia ratusan tahun. Likuifaksi terjadi, karena ada goncangan yang mengakibatkan lepasnya daya dukung tanah,” tegasnya.

Ia mengemukakan, fenomena likuifaksi di wilayah Petobo dan Balaroa, Sulawesi Tengah, setelah guncangan gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter(SR), dan disusul tsunami bukan baru pertama kali di Indonesia.

“Kita di Aceh, seperti gempa 2006 menimbulkan likuifaksi di Pantai Manohara, Pidie Jaya. Gempa dan tsunami 2004, juga menyebabkan likuifaksi di Banda Aceh,” ujar Bambang yang merupakan geolog meraih gelar doktor di Universitas Adelaide, Australia.

Pemerintah provinsi (Pemprov) Aceh melalui Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) berencana melakukan penelitian terhadap sejumlah daerah rawan likuifaksi atau pergerakan tanah di daerah tersebut.

“Kami ingin ilmuwan bisa berkolaborasi dengan BPBA untuk pemetaan mana daerah rentan likuifaksi di provinsi ini,” kata Kepala Pelaksana BPBA Aceh, Teuku Ahmad Dadek.

Ia mengaku, pihaknya telah menunjuk ilmuwan Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana (TDMRC) Universitas Syiah Kuala untuk melaksanakan penelitian tersebut dalam waktu dekat ini.

BPBA sendiri telah memiliki seismograf terbaru demi menunjang studi likuifaksi, seperti Singkil dan Meulaboh, serta melakukan penelitian beberapa patahan sesar-sesar aktif di provinsi ini.

“Jika sewaktu-waktu terjadi gempa, maka kerusakan yang ditimbulkan bisa dinimalisir. Tidak sama dengan kerusakan yang kita perkirakan dengan gempa sebelumnya,” katanya. (muh)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending