Connect with us

HEALTH

Berciuman Berisiko Tularkan Radang Gusi Hingga Herpes

Published

on

Sifilis adalah kondisi yang sangat menular, dan salah satu keunggulannya adalah perkembangan luka di mulut.

Apakabarnews.com, Jakarta – Infeksi bisa menyerang kapan saja, termasuk usai dua orang saling bercumbu, meskipun kemungkinannya relatif lebih rendah.
 
Berikut adalah empat jenis infeksi yang dapat ditularkan melalui kontak mulut ke mulut dengan orang yang terinfeksi, seperti dilansir dari Medical Daily : 
 
1. Herpes

Oral herpes, sering disebut sebagai luka dingin, disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1). Menurut para ahli, infeksi ini paling umum menyebar melalui ciuman dan para perempuan lebih rentan terkena masalah ini ketimbang laki-laki. 
 
Risiko penularan juga lebih tinggi jika ada luka di mulut atau di bibir. Para ahli kesehatan menyarankan Anda segera melihat area mulut sebelum mencium seseorang karena lepuh dan luka yang terkait herpes cukup terlihat.
 
2. Gingivitis

Gingivitis, peradangan pada gusi, adalah bentuk ringan penyakit gusi. Bakteri yang bertanggung jawab menyebabkan radang berpotensi berpindah melalui kontak dengan air liur orang yang terinfeksi.
 
“Mencium seseorang yang memiliki penyakit gusi dapat menyebabkan orang lain yang sebelumnya memiliki konsentrasi rendah bakteri ‘jahat’ mengalami masalah gigi,” kata dokter gigi asal California, Mark Burhenne.
 
Dia menambahkan,  menjaga kebersihan mulut  (menyikat dua kali sehari, flossing, dll.) adalah cara terbaik untuk melindungi diri Anda dari jenis bakteri ini.
 
3. Mononukleosis

Mononukleosis menular, kadang-kadang dikenal sebagai “penyakit berciuman”, disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV). Selain berciuman, penyakit ini bisa ditularkan melalui batuk, bersin, berbagi sikat gigi atau kacamata dan lainnya. 
 
Setelah terinfeksi, seseorang dapat mengalami gejala seperti kelelahan ekstrim, sakit tenggorokan, demam, kehilangan nafsu makan, dan pembengkakan kelenjar getah bening. 
 
Penyakit ini kemungkinan besar mempengaruhi orang-orang muda berusia 15-30 tahun.
 
Menurut Mayo Clinic, EBV dapat tetap berada di ludah seseorang selama berbulan-bulan setelah infeksi. Oleh karenanya, Anda dianjurkan untuk menghindari mencium orang dan berbagi makanan atau minuman sampai beberapa hari setelah demam mereda.
 
4. Sifilis

Risiko terkena sifilis bisa muncul setelah mencium seseorang. 

“Sifilis adalah kondisi yang sangat menular, dan salah satu keunggulannya adalah perkembangan luka di mulut,” kata OB-GYN Antonio Pizarro yang berbasis di Louisiana.
 
Luka akibat sifilis biasanya bulat dan terbuka sehingga dapat membantu bakteri (Treponema pallidum) menyebar melalui kontak dekat.
 
“Setiap kali ada sakit terbuka dan / atau darah, secara teoritis, infeksi dapat ditularkan secara oral,” tambah Pizarro. (lws)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HEALTH

D GumpH, Permen Karet Pencegah Gigi Berlubang Karya Mahasiswa UGM

Published

on

Permen karet D GumpH mampu mendeteksi pH rongga mulut, sebab pH rongga mulut biasanya sekitar 6 hingga 8.

Apakabarnews.com, Jakarta  – Permen karet kini tak lagi semata bisa menurunkan stres, tetapi juga bisa mencegah munculnya karies gigi atau gigi berlubang dengan mendeteksi pH rongga mulut.

Permen karet bernama D GumpH ini merupakan karya dua mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi serta satu mahasiswa Fakultas MIPA UGM, yakni Fifit Indriyanti, Aprilia Nur Pratiwi dan Ida Bagus Alit Rai Sugiharta.

Bahan dasar yang mereka gunakan adalah ekstrak kol merah, karena memiliki kandungan zat warna antosianin. Antosianin bisa berubah-ubah warna pada kondisi derajat keasaman (pH) yang bervariasi. Zat ini merupakan metabolit sekunder flavonoid dan memiliki aktivitas antibakteri.

“Alasan lainnya, kol merah sendiri merupakan suatu bahan makanan yang sering dibuat salad sehingga mudah ditemukan di Indonesia. Untuk itu kami ingin membuatnya sebagai bahan permen karet,” ujar Ftfit, ketua tim D GumpH dalam keterangan tertulisnya kepada ANTARA News belum lama ini.  

Berbagai tahap pengujian

Fifit dan tim melakukan penelitian sejak April lalu dengan dukungan dana hibah dari Dikti melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2018.

Tahap pertama, mereka membuat ekstrak kol merah dengan ekstraksi maserasi menggunakan pelarut etanol dan asam sitrat.

Setelahnya, tim menguji kandungan antosianin pada ekstrak kol merah dengan spektrofotometer UV-Vis, lalu menguji ekstrak kol merah dengan larutan buffer pH  1-13 dan saliva buatan pH 5-9, untuk melihat perubahan warna yang terjadi pada kedua larutan tersebut.

“Uji kualitatif warna inilah yang nantinya digunakan untuk mencocokkan perubahan warna pada saliva buatan setelah berinteraksi dengan antosianin yang keluar dari permen karet,” terang Aprilia.
 
Setelah itu, barulah pembuatan permen karet yang dimulai dengan melelehkan gum base (bahan dasar permen karet). Lelehan tadi lalu diberi ekstrak kol merah dan dicampurkan hingga tercampur seluruhnya. Sesudahnya,  xylitol ditambahkan, lalu dibentuk bulat kecil-kecil.

Permen karet yang sudah jadi lantas menjalani pengujian lagi pada saliva buatan dengan pH 5-9.

“Kami amati perubahan warna yang terjadi pada saliva setelah dikenai permen D GumpH. Perubahan warna yang terjadi, kami cocokkan dengan uji kualitatif warna ekstrak sebelumnya,” jelas Bagus.

Tahapan pengujian belum selesai, karena tim masih harus dilakukan pengujian aktivitas antibakteri S.mutans dengan ekstrak kol merah. Uji antibakteri ini mereka lakukan pada berbagai variasi konsentrasi ekstrak yang kami bandingkan khasiatnya dengan amoxicillin.

Hasil penelitian menunjukkan perubahan warna saliva buatan dengan pH 5-9 berturut-turut menjadi jingga, jingga kecoklatan, coklat, coklat kehijauan, dan hijau setelah dicampurkan dengan permen karet D GumpH.

Artinya, permen karet D GumpH mampu mendeteksi pH rongga mulut, sebab pH rongga mulut biasanya sekitar 6 hingga 8. Di samping itu, pengujian kemampuan ekstrak untuk menghambat pertumbuhan bakteri penyebab karies (S.mutans) juga menghasilkan hasil yang positif.

“Ekstrak mampu menghambat pertumbuhan bakteri dengan baik, walaupun kemampuannya masih berada di bawah amoxicillin,” imbuhnya.

Fifit dan tim berharap penelitiannya bisa berlanjut secara in vivo serta dapat diproduksi secara masal. (lws)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HEALTH

Derita Skoliosis, Tapi Dia Tetap Aktif Menari

Published

on

Penyebab Skoliosis yaitu kelainan pembentukan tulang atau kelainan neurologis dan habitual atau kebiasaan dalam membawa barang berat.

Apakabarnews.com, Jakarta  – Awalnya, Sang Ayu Putu Cynthia Maharani tak pernah merasakan ada nyeri pada bagian tertentu tubuhnya. Dia menjalani kehidupannya tanpa masalah, termasuk menari setiap seminggu sekali di suatu sanggar.

Hingga akhirnya saat Ayu duduk di bangku sekolah menengah pertama, sang ibunda menyadari ada yang salah pada Ayu. Punggung sebelah kanan putrinya itu lebih besar daripada yang sisi kiri.

BACA JUGA : Perempuan Lebih Rentan Terkena Skoliosis

“Awalnya ibu saya yang melihat. Waktu itu lagi membuat kebaya, ibu lihat punggung sebelah kanan kok lebih besar. Padahal tidak ada rasa nyeri apapun. Hanya merasa ada yang berat sebelah,” tutur Ayu di Jakarta belum lama ini.

Ayu langsung memeriksakan diri pada ahli medis. Hasil pemeriksaan menunjukkan, dia menderita skoliosis atau kelainan pada rangka tubuh berupa kelengkungan tulang belakang, dengan kurva lengkung 45 derajat.

Setelah berdiskusi dengan keluarga, dia memilih terapi non-operasi, termasuk yoga dan filates, lalu fisioterapi dan menggunakan brace selama satu tahun.

Saat memakai brace pertama kali, dia mengaku ingin menangis karena merasa tak nyaman dan tak percaya diri. Brace membuat tubuhnya kelihatan lebih gemuk.

“Saya takut operasi. Itu pilihan terakhir kalau derajat bertambah seiring usia saya bertambah,” kata dia.

Kurva kelengkungan punggungnya bertambah menjadi 53 derajat. Padahal saat itu Ayu sudah menempuh pendidikan tinggi.    

Di tengah kondisi skoliosis, Ayu masih saja menari tarian khas Bali karena merasa kondisinya itu tak berpengaruh pada gerakan tarinya. Walau terkadang rasa pegal menghampirinya.

“Saya sudah hobi menari sejak SD. Tidak ada masalah saat menari,” tutur dia.

Membutuhkan waktu satu tahun baginya untuk menemukan brace yang tepat, hingga kurva kelengkungannya turun menjadi 30 derajat.

Skoliosis dan perawatannya

Ahli fisiologi dan anatomi dari klinik Skoliosis Care, Labana Simanihuruk, B.Sc. mengatakan, mereka yang menderita skoliosis pada usia anak-anak remaja cenderung tak merasakan nyeri apa-apa, karena postur tubuhnya masih ideal.

“Sampai kurva 50 derajat ke bawah, usia di bawah 17 tahun biasanya tidak merasakan apa-apa, karena tubuh masih ideal, optimal,” tutur dia di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sekitar 80 persen skoliosis adalah idiopatik dengan kurva lebih dari 10 derajat dan prevalensinya 0,5-3 per 100 anak dan remaja.

Selain karena kelainan kongenital, skoliosis juga bisa muncul karena kelainan kongenitalneurologi dan posisi duduk dan tidur tertentu. 

Saat ini, ada dua cara perawatan skoliosis yakni operasi dan terapi non-operasi. Umumnya, terapi non-operasi mencakup penggunaan brace, exercise, dan latihan fisik dengan alat fisioterapi untuk mengurangi rasa nyeri.

Terapi ini tentunya tergantung sesuai dengan keparahan dari lekukan.Brace misalnya, bisa mengoreksi kurva terutama bagi mereka yang memiliki kurva lebih dari 30 derajat dan di bawah 60 derajat.

Harus tetap bergerak aktif

Labana menyarankan pada penderita skoliosis untuk tetap bergerak aktif secara rutin, untuk memperkuat tubuh secara umum.

Hal senada juga pernah diungkapkan spesialis bedah ortopedi dan konsultan tulang belakang dari RS Pondok Indah, dr Didik Librianto, SpOT.

“Olahraga apa saja boleh. Sit up, nge-gym, renang. Tetapi yang sifatnya stretching bagus supaya otot punggung bisa lebih rileks,” kata dia dalam kesempatan berbeda.

Semakin aktif seseorang, semakin sulit kurva kelengkungan tulang belakangnya bertambah.

Di sisi lain, Ayu mengaku kondisinya lebih baik saat tubuhnya sudah terbiasa bergerak aktif. Inilah alasan, dia tetap menari bahkan lebih aktif melakukan aktivitas fisik ketimbang sebelumnya

“Nge-gym 3 kali seminggu. Kalau dulu, saya hanya menari, dan banyak duduk,” tutur dia.

Aktif bergerak bahkan harus berlanjut bahkan setelah penderita melepas brace. Hal ini agar otot tulang belakang stabil di posisi baru.

“Setelah lepas brace, kasih waktu 5 tahun maintain level fitness, agar otot tulang belakang stabil di posisi baru,” ujar Labana. (lws)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HEALTH

Kulit Semangka sebagai Gel Anti Jerawat

Published

on

Semangka merupakan salah satu tanaman yang dapat mengatasi jerawat.

Apakabarnews.com, Purwokerto, Jawa Tengah – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE) Fakultas Farmasi menciptakan gel antijerawat yang terbuat dari limbah kulit semangka.

“Semangka merupakan salah satu tanaman yang dapat mengatasi jerawat. Buah ini dapat tumbuh dalam segala musim sehingga mudah diperoleh dan harganya murah,” kata Ketua Kelompok Mahasiswa PKM-PE, Yola Anggraeni, di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (19/7/2018).

Sementara itu, kata dia, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki iklim tropis sehingga masyarakat harus siap menerima risiko yang berkaitan dengan masalah jerawat.

Ia mengatakan hal itu terjadi karena pada iklim tropis, tubuh lebih sering berkeringat sehingga kelenjar keringat akan bekerja sangat aktif dan menghasilkan minyak berlebih sehingga memicu timbulnya jerawat.

“Banyak masyarakat yang beranggapan kulit semangka bagian dalam yang berwarna putih itu sebagai limbah. Namun ternyata, kulit bagian dalam buah semangka ini memiliki banyak kandungan gizi,” katanya.

Terkait dengan hal itu, dia bersama dua rekannya, yakni Tika Ambarwati dan Irmas Miranti melakukan penelitian guna membuat gel antijerawat dengan memanfaatkan limbah kulit semangka dengan bimbingan dosen Fakultas Farmasi UMP, Erza Genatrika.

Menurut dia, penelitian tersebut dilakukan karena kulit buah semangka (Citrullus lanatus) memiliki senyawa aktif yang dapat berfungsi sebagai antibakteri, yakni terpenoid.

“Terpenoid ini mengandung senyawa likopen dari golongan karotenoid. Nah, likopen ini diklaim memiliki kerja lebih baik dibanding antioksidan,” jelasnya.

Oleh karena itu, kata dia, Tim PKM-PE Fakultas Farmasi UMP berinisiatif membuat gel antijerawat dari kulit buah semangka dengan nama Citrula Gel dari limbah kulit buah semangka.

Ia mengharapkan Citrula Gel dapat menjadi solusi bagi masyarakat dalam mengatasi masalah jerawat. (sum)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending