Connect with us

DESTINASI

Pantai Manalusu Garut Butuh Perhatian Pemerintah

Published

on

Kawasan wisata Pantai Manalusu di Kecamatan Mekarmukti, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Apakabarnews.com, Garut – Kawasan wisata Pantai Manalusu di Kecamatan Mekarmukti, Kabupaten Garut, Jawa Barat, membutuhkan perhatian dari pemerintah untuk mengembangkan wisata tersebut agar menjadi destinasi wisata favorit di kawasan selatan Garut.

“Pembangunan sarana dan prasarana di Pantai Manalusu memang perlu diperhatikan pemerintah agar lebih menarik dan nyaman,” kata Ridwan tokoh masyarakat wisata setempat di Garut, Minggu (8/7/2018).

Objek wisata Pantai Manalusu salah satu wisata pantai yang menarik dibandingkan wisata serupa lainnya di sepanjang jalur selatan laut Kabupaten Garut.

Namun sarana dan prasarananya, kata dia, belum cukup bagus dan lengkap dibandingkan dengan wisata pantai lainnya seperti Pantai Santolo, dan Pantai Rancabuaya yang selama ini banyak dikunjungi wisatawan pada musim libur.

“Pantai Manalusu memang belum sebaik yang ada di Pantai Santolo, Sayangheulang atau Rancabuaya, meskipun begitu ada juga pengunjung karena memang tempatnya bagus,” katanya.

Pantai Manalusu memiliki daya tarik tersendiri yakni pasir putih yang bersih serta banyak batu karang dan genangan air yang jernih.

Pantai yang masih asri itu membuat wisatawan seringkali berlama-lama untuk bermain maupun menikmati keindahannya.

“Hamparan pasir putih di sepanjang bibir pantai menjadi ciri khas, ada juga batu karang dengan genangan air yang jernih membuat pengunjung betah,” katanya.

Ia berharap potensi wisata pantai di Garut mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah untuk menyiapkan infrastruktur yang dapat membuat wisatawan nyaman dan aman.

“Kami berharap pemerintah memperhatikan pembangunan sarana infrastruktur yang dapat menunjang wisawatan sehingga bisa lebih menarik perhatian,” katanya.

Seorang wisatawan lokal, Farhan, mengatakan Pantai Manalusu sudah seharusnya dibenahi oleh pemerintah agar memiliki daya tarik.

Menurut dia, objek wisata itu membutuhkan fasilitas untuk wisatawan duduk atau berkumpul sambil menikmati keindahan pantai, juga fasilitas lainnya seperti penginapan atau wahana yang dapat menghibur wisatawan.

“Tempatnya memang bagus, jadi sayang kalau pemerintah tidak mengembangkannya,” katanya. (fer)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DESTINASI

Bulan Ini Waktu yang Tepat Menikmati Bunga Liar di Negara Tetangga

Published

on

Everlastings Trail adalah salah satu rute bunga liar paling spektakuler di Australia Barat, yang dapat dengan mudah diakses dari Perth. 

Apakabarnews.com, Jakarta  – Ingin menikmati indahnya bunga-bunga liar musim semi? Australia Barat salah satu tempat yang bisa jadi pilihan untuk menikmati keindahan alam yang memanjakan mata. Australia Barat merupakan rumah bagi rangkaian bunga liar terbesar di dunia, dengan lebih dari 12,000 jenis – sekitar 60 persennya tidak ditemukan di belahan dunia manapun.

Musim bunga liar di Australia Barat berawal di bagian utara pada Juni dan berakhir di sepanjang pesisir selatan pada November. Para pelancong Indonesia yang ingin menikmati hamparan karpet bunga-bunga liar yang menawan cukup menempuh perjalanan selama 4,5 jam menuju ke kota Perth,  ibu kota Australia Barat.

Tourism Western Australia menghimpun daftar tempat terbaik menikmati cantiknya bunga-bunga liar di Australia Barat.

Perth Trail

Waktu terbaik untuk berkunjung : September sampai Oktober

Menghadap ke cakrawala kota dan Sungai Swan yang indah, Kings Park dan Botanic Garden mencakup area semak alami yang luas, taman botani, dan taman yang rimbun. Taman-taman ini memiliki lebih dari 1.700 spesies bunga liar Australia Barat di jantung kota. Sempurna bagi para pecinta alam, area Perth Hills menggabungkan lima taman nasional. Di sini Anda dapat melihat spesies bunga liar, seperti Kangaroo Paws, Hakea, Grevillea, Wattle, Anggrek, dan Pea. 

Naiklah feri ke Rottnest Island, rumah bagi marsupial kecil yang terkenal, Quokka, flora unik, dan beberapa pantai dan teluk terbaik di dunia. Sewalah sepeda untuk berkeliling sembari melihat Rottnest Island Pine, Rottnest Island Tea Tree, dan Blue Rottnest Daisy.

Everlastings Trails

Waktu terbaik untuk berkunjung : Juni sampai September

Everlastings Trail adalah salah satu rute bunga liar paling spektakuler di Australia Barat, yang dapat dengan mudah diakses dari Perth. 

Berjalanlah di sepanjang pantai di Indian Ocean Drive dari Perth ke Cervantes, Jurien Bay, dan Leeman. Bagi banyak orang, ini adalah pemandangan bunga liar yang selalu mereka bayangkan. Lesueur National Park memiliki flora yang sangat beragam yang tidak bisa ditemukan di tempat lain di dunia. Taman menjadi penuh warna di akhir musim dingin dan musim semi dengan bermekarannya bunga-bunga bagi penggemar bunga liar.  

Coral Coast Trail

Waktu terbaik untuk berkunjung : Juli sampai Oktober

The Coral Coast, yang membentang dari daerah Jurien Bay / Cervantes di utara Perth hingga Exmouth, adalah rumah bagi pemandangan luar biasa (sebut saja ngarai di pedalaman, gurun, sungai dan The Pinnacles – formasi batu gamping yang unik), ditambah lebih dari 1.100 kilometer pantai putih dan pertemuan laut tak tertandingi di perairan mereka. 

Ini adalah area yang penuh dengan satwa liar dan bunga liar Australia. Jutaan dari mereka menyelimuti area pedalaman, menciptakan ladang bunga yang penuh warna. Anda dapat menemukan mulla mullas, Sturt’s Desert Pea, banksias, spider orchids, wreath flowers, coastal morrisons, feather flowers, Geraldton wax, smoke bush, black kangaroo paw, dan masih banyak lagi.

Southern Trails

Waktu terbaik untuk berkunjung : September sampai November

Dari pohon-pohon yang tinggi, rindang, dan daerah hutan belantara, berkelana melewati pemandangan pegunungan dari Stirling dan Porongurup Ranges, di mana Anda dapat menemukan bunga liar yang unik dan berlimpah, Banksia, Dryandras, Queen Sheba Orchids, Mountain Bells, yellow Acacia dan purple Hovea. 

Anda juga akan menemukan keragaman fauna dari walabi, antechinus, southern brown bandicoots, dan kanguru abu-abu. Kemudian pergilah menuju  garis pantai selatan yang spektakuler. Kagumi warna warna alami yang semarak di antara beragam flora di sepanjang jalan. Warna-warna kaya berpadu dengan pemandangan memukau untuk menciptakan keindahan alam sejati.

Tak hanya itu, Anda juga dapat mengunjungi acara-acara musim liar di sana seperti Kings Park Festival – Destination Perth juga The Ravensthorpe Wildflower Show & Spring Festival sampai  Busselton Wildflower Festival – Australia’s South West.

Bila Anda sudah meneguhkan niat untuk pergi ke sana, jangan lupa untuk tidak sembarangan memetik bunga liar. Sebab, itu termasuk dalam perbuatan ilegal dan Anda bisa dikenai denda 2.000 dolar Australia. Cukup nikmati dengan mata, bila memang ingin mengambil sesuatu, cukup ambil foto atau video untuk kenang-kenangan.

Selain itu, hargailah properti pribadi dan jangan masuk tanpa izin. Terakhir, lindungi tanaman canola dan cegah penyebaran penyakit dengan tetap berada di luar ladang canola. (nan)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

DESTINASI

Menengok Saudara Serumpun di Pedalaman Formosa

Published

on

Warga Suku Asli Pulau Formosa dalam diorama di Formosan Aboriginal Culture Village, Taiwan.

Apakabarnews.com, Jakarta – Dengan pakaian adat merah-merah beraksen hitam penuh manik-manik serta hiasan kepala dari bulu binatang, para perempuan melenggang lincah disusul langkah cepat pria-pria berlilit cawat hitam-putih yang membopong kursi kepala suku.

Sang kepala suku, yang baru saja ditarik untuk dinobatkan dan didandani dengan jubah adat serta mahkota penuh bulu burung, melambaikan tangan dari atas singgasana, disambut sorak sorai penonton.

Kepala suku “cabutan” yang merupakan pengunjung asal Indonesia itu tampak masih takjub ketika kembali diturunkan dari panggulan dengan iringan tabuhan musik tradisional.

Atraksi tarian menyambut tamu suku-suku asli Pulau Formosa itu dipentaskan di Formosan Aboriginal Culture Village, sebuah museum luar ruang berupa taman replika kehidupan suku-suku di pedalaman Taiwan.

Bukan hanya tarian lincahnya yang khas, pakaian yang ramai dengan hiasan serta bulu-bulu binatang, tato badan, serta adat-istiadat mereka pun punya banyak kemiripan dengan kehidupan suku-suku di pedalaman Nusantara, seperti Suku Dayak di Kalimantan.

Dalam upaya penyembuhan misalnya, di sana juga ada dukun yang dianggap memiliki kekuatan untuk mengusir roh jahat dengan prosesi tertentu.

Di Formosa, juga ada suku yang membangun rumah panggung kayu bertopang kayu atau bambu seperti rumah tradisional suku-suku di pedalaman Nusantara.

Selain itu, pada masa lalu suku-suku asli Pulau Formosa memiliki kebiasaan memajang tengkorak kepala musuh yang dipenggal dalam perang seperti halnya orang suku Dayak tertentu di Kalimantan bagian utara.

Di rak-rak batu dekat rumah kepala Suku Paiwan sekarang di taman seluas 62 hektare di kawasan Nantou, Taiwan, ada deretan tengkorak yang terpajang, namun hanya replika.
 
Keserupaan

Menurut Manajer Departemen Perencanaan Desa Budaya Asli Formosa, Richard Huang, saat ini ada 16 suku asli yang telah diakui oleh Pemerintah Taiwan, yakni Suku Amis, Atayal, Bunun, Hla`alua, Kanakanavu, Kavalan, Paiwan, Puyuma, Rukai, Saisiyat, Tao, Thao, Tsou, Truku, Sakizaya dan Sediq.

“Tigapuluh tahun lalu hanya diketahui ada sembilan suku asli. Tapi sekarang sudah ada 16. Sebentar lagi akan jadi 18, karena mereka ingin independen diakui pemerintah sebagai suku tersendiri,” katanya.

Jumlah penduduk asli Formosa antara 400 ribu sampai 500 ribu orang dari total jumlah penduduk Taiwan yang 23 juta jiwa, dan diperkirakan telah mendiami pulau tersebut sejak 10 ribu tahun lalu, sebelum kedatangan bangsa Han dari China daratan baru pada abad ke-16.

Suku-suku ini kebanyakan mendiami Taiwan bagian timur dari utara ke selatan. Sebagian tinggal di dataran rendah dan sebagian lagi lebih terpencil di dataran tinggi.

Menurut Huang, suku-suku asli Pulau Formosa hingga kini tidak banyak bercampur dengan bangsa yang datang dari daratan Tiongkok, dan justru termasuk dalam suku-suku berbahasa Austronesia.

Bahasa Austronesia secara garis besar dituturkan oleh bangsa-bangsa di kepulauan Asia Tenggara seperti Indonesia, Thailand selatan, Kamboja, Malaysia, Brunei, Filipina, hingga ke Kepulauan Mikronesia di Pasifik. Bahasa ini jauh berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh umumnya bangsa Taiwan dan China daratan.

Sang pemandu wisata yang biasa disapa Lu dan berasal dari suku Amis menyebut bahwa bahasa-bahasa suku asli di Pulau Formosa sebagai cikal-bakal Bahasa Austronesia.

“Dari Formosa ini menyebar ke Filipina, ke Borneo dan seterusnya ke selatan dan ada yang menyebar ke arah timur di Pasifik,” kata perempuan berkulit kuning langsat itu.

Ia lantas menyebut beberapa kata dalam bahasa asli orang Formosa yang sama atau mirip dengan bahasa bangsa Melayu, misalnya “mata” yang artinya adalah mata dalam Bahasa Melayu, dan “tagila” untuk telinga.

Lu juga menuturkan kemiripan dalam penyebutan angka. Dalam bahasa Suku Amis (suku asli Taiwan dengan jumlah terbanyak), angka satu sampai sepuluh berturut-turut disebut sicey, tosa, tolo, sepat, lima, enem, pito, valo, siwa, dan poloh.

Sementara Suku Atayal menyebutnya kingan, taha, telo, sepat, lima, matalu, putu, mesepat, mengali, dan maksen, serta Paiwan menyebutnya ita, dusa, chelu, sepat, lima, unem, picu, alu, siva, dan puluk.

Penyebutan itu menunjukkan kemiripan dengan penyebutan angka dalam Bahasa Dayak dan Jawa. Dalam Bahasa Dayak di Kalimantan Tengah angka satu sampai sepuluh berturut-turut disebut ije, dua, tilu, epat, lime, jahawen, uju, hanya, dan sepulu. Dan dalam Bahasa Jawa disebut siji, loro, telu, papat, limo, enem, pitu, wolu, songo, sepuluh.
 
Satu Keturunan

Kemiripan bahasa-bahasa di wilayah Asia Pasifik sudah lama diamati oleh para pakar, termasuk arkeolog Harry Truman Simanjuntak yang menyebut rumpun bahasa Austronesia meliputi 1.200 bahasa dan dituturkan oleh hampir 300 juta penduduk.

Penggunaan bahasa dalam rumpun ini meliputi lebih dari separuh bola Bumi, dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di ujung timur, dari Taiwan-Mikronesia di utara hingga Selandia Baru di selatan, dan sebagian besar memang dituturkan oleh suku-suku bangsa yang ada di Nusantara.

Studi genetik Human Genome Organization (Hugo), menurut pakar genom dari Lembaga Eijkman Sangkot Marzuki, juga menunjukkan bahwa bangsa-bangsa di Asia Tenggara hingga ke Asia Pasifik bagian utara memang memiliki keterkaitan genetik.

Namun orang-orang di Asia Tenggara memiliki keanekaragaman genetik yang lebih tinggi dibanding bangsa-bangsa Asia di utaranya, sehingga bisa disimpulkan bahwa bangsa-bangsa di selatan, seperti suku-suku di Sumatera dan Jawa, lebih dulu ada dan kemudian menyebar ke timur dan utara, termasuk ke Pulau Formosa.

Nenek-moyang bangsa-bangsa Asia yang keluar dari Afrika Timur sekitar 100.000 tahun lalu itu menyusuri sepanjang pesisir selatan melalui India selatan ke arah timur dan lebih dulu berpusat di Asia Tenggara sekitar 60.000 tahun lalu.

“Kita ini bersaudara, nenek moyang kita sama,” kata Lu sambil memeluk satu-satu para pengunjung dari Indonesia. (dew)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

DESTINASI

Paduan Suara dari Manado Juara di Italia

Published

on

Paduan Suara Univoice Choral Society dari Manado. Mereka baru saja meraih tempat terhormat pada turnamen International Choir Festival and Competition yang berlangsung pada 13-14 Juli 2018 di Roma, Italia. (Kedutaan Besar Indonesia di Roma).

Apakabarnews.com, Jakarta – Kelompok Univoice Choral Society dari Manado berhasil menjadi juara kategori Gospel & Spiritual dalam The 9th Musica Eterna Roma pada turnamen International Choir Festival and Competition yang berlangsung pada 13-14 Juli 2018 di Roma, Italia. 

Tim paduan suara dengan konduktor Ivan Larry Besouw itu juga mampu memperoleh gelar prestisius Gold Diploma untuk kategori paduan suara campuran dalam kompetisi yang dipandang bergengsi ini.

Sebagaimana dinyatakan Konselor Penerangan dan Sosial Budaya Kedutaan Besar Indonesia di Roma, Charles F Hutapea, dari Roma, Senin malam, turnamen bergengsi ini siselenggarakan di Basilica dei Santi XII Apostoli yang terletak di tengah kota Roma.

Kompetisi Musica Eterna Roma 2018 ini diikuti oleh kelompok paduan suara dari berbagai negara, antara lain Italia, Inggris,  Afrika Selatan, Finlandia, Rusia, Malaysia, dan Jerman. 

Penampilan mereka mencuri perhatian karena koreografi yang menarik dengan kostum khas Papua dalam lagu Wor (Kankarem & Morinkin), aransemen Budi Susanto Yohanes. 

Menurut pimpinan rombongan, Edwin Kindangen, prestasi itu sangat membanggakan mengingat Univoice Choral Society tampil dalam kondisi kurang maksimal setelah menempuh perjalanan panjang dari Manado dan tidak memiliki waktu yang cukup untuk persiapan teknis serta tes akustik ruangan.

Sementara itu salah satu anggota tim, Septian Paendong, menyatakan bahwa para juri secara khusus memuji teknik dan kekuatan vokal mereka. 

Duta Besar Indonesia untuk Italia, Esti Andayani, dalam pertemuan dengan personil Univoice menyampaikan apresiasi dan harapan agar semakin banyak anak bangsa yang berhasil mencatat kemenangan dalam berbagai ajang kompetisi di Italia. 

Sementara itu, Wakil Kepala Perwakilan Indonesia di Roma, George Lantu, hadir memberikan dukungan selama kompetisi berlangsung.  Dia menyampaikan rasa bangga atas prestasi Paduan Suara Univoice Choral Society. (apm)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending