Connect with us

JAWA TIMUR

Tunggakan Piutang Pajak Kota Malang Rp 100 Miliar

Published

on

Kepala BP2D Kota Malang, Ade Herawanto.

Apakabarnews.com, Malang – Tunggakan piutang pajak daerah yang tercantum dalam neraca keuangan Pemerintah Kota Malang saat ini mencapai Rp100 miliar lebih dan sudah kedaluwarsa.

Kepala BP2D Kota Malang Ade Herawanto di Malang, Jawa Timur, Senin (9/7/2018) mengatakan, piutang pajak dinilai kedaluwarsa karena subjek dan objek pajak sulit ditemukan.

“Karena itu kami mengusulkan untuk dihapuskan atau diputihkan saja melalui aturan daerah,” kata Ade.

Ade berharap piutang pajak yang tak terdeteksi itu segera bisa direalisasikan melalui program penghapusan tunggakan piutang pajak daerah. Jika tahun ini aturan tentang penghapusan piutang pajak daerah itu disahkan, penghapusan piutang pajak tersebut segera bisa dilakukan tahun depan.

Ia menerangkan penghapusan tunggakan piutang pajak daerah ini penting karena akan berpengaruh pada keseimbangan neraca keuangan Pemkot Malang. Apalagi nilai tunggakan itu lebih dari Rp100 miliar.

Jika piutang pajak itu bisa dihapuskan, katanya, akan berpengaruh terhadap neraca keuangan daerah, artinya akan seimbang. “Piutang pajak daerah itu sangat sulit ditagih, karena ada sejumlah faktor,” katanya.

Pajak daerah itu menjadi terutang karena tak terbayar akibat SPPT dobel. Selain itu, objek pajak juga merupakan fasilitas umum, seperti masjid dan lapangan olahraga serta pajak yang sudah kedaluwarsa. bahkan ada yang mulai dari tahun 1980-an.

Menurut Ade, piutang pajak tersebut didominasi oleh pajak bumi dan bangunan (PBB) serta denda dari piutang pajak itu sendiri. Jika diakumulasikan, piutang pajak itu sekitar Rp100 miliar lebih.

Ia mengakui piutang pajak yang mencapai Rp100 miliar lebih itu merupakan warisan ketika pajak daerah dikelola oleh pemerintah pusat (Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan).

Hanya saja, meskipun ada penghapusan piutang pajak daerah, tidak mudah untuk menghapus piutang itu. Penghapusan itu harus melewati regulasi dan persetujuan.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Negara/Daerah, disebutkan penghapusan (piutang) secara mutlak ditetapkan oleh gubernur/bupati/wali kota untuk jumlah sampai dengan Rp5 miliar, dan ditetapkan oleh gubernur/bupati/walikota dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah untuk jumlah lebih dari Rp5 miliar.

Aturan ini, kata Ade, harus masuk di regulasi daerah. Untuk Kota Malang, revisi Perda Pajak Daerah tersebut, saat ini dibahas di dewan. Jika bisa masuk ke pasal tambahan,” tegasnya.

Tim BP2D sudah berkonsultasi dengan Kementerian Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Bagian Hukum Pemkot Malang, Kejaksaan dan Kepolisian, serta publik, seperti akademisi.

Hasil konsultasi itu secara tertulis sudah dibuatkan kompilasi dan kesimpulan yang saat ini sedang dikaji di Badan Diklat Provinsi Jatim. “Kami berharap usulan BP2D diterima sehingga bisa menyehatkan neraca keuangan Pemkot Malang,” tuturnya. (esw)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

JAWA TIMUR

Banjir Timbulkan Kerugian Rp5 Miliar Lebih di Tulungagung

Published

on

Bencana banjir berdampak pada lahan-lahan pertanian di 12 dari total 19 kecamatan yang ada di Tulungagung.

Apakabarnews.com, Tulungagung – Banjir yang melanda sebagian wilayah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, dalam sepekan terakhir membuat para petani yang lahannya terdampak banjir menanggung kerugian sampai Rp5 miliar lebih menurut data Dinas Pertanian dan Holtikultura setempat.

“Kalau diestimasi, nilai kerugian akibat banjir di sektor pertanian ini mencapai Rp5 miliaran lebih sedikit. Katakan asumsinya per hektare rata-rata bisa menghasilkan tujuh ton, maka taksiran kerugiannya ya Rp5,075 miliar. Sekitar itu,” kata Koordinator Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Dinas Pertanian Tulungagung Gatot Rahayu di Tulungagung, Senin (11/3/2019).

“Khusus tanaman padi saja, sawah yang terendam banjir mencapai 1.121 hektare. Belum komoditas tanaman lain,” ia menambahkan.

Ia menjelaskan 145 hektare dari total 1.121 hektare lahan tanaman padi yang terdampak banjir sudah pasti puso.

Banjir juga berdampak pada 11 hektare tanaman melon dan tujuh hektare di antaranya diperkirakan puso. Selain itu banjir berdampak pada 33 hektare lahan tanaman cabai, 22 hektare di antaranya diperkirakan gagal panen.

Lima hektare lahan tanaman kacang panjang juga terdampak banjir dan diperkirakan puso semua, sementara lahan tanaman bawang merah yang terdampak banjir total 13 hektare dan sembilan hektare di antaranya diperkirakan puso.

Bencana banjir berdampak pada lahan-lahan pertanian di 12 dari total 19 kecamatan yang ada di Tulungagung.

“Terparah ada di dua kecamatan, yaitu di Campurdarat dan Sumbergempol,” kata Gatot.

Guna meringankan beban para petani, pemerintah kabupaten akan memberikan bantuan benih. Pemerintah daerah juga akan menyiapkan pompa untuk menyedot air yang hingga kini masih merendam tanaman petani.

Sampai sekarang sebagian sawah masih terendam banjir, meski airnya sudah menyusut dibandingkan dengan pada hari sebelumnya.

“Ini sedang kami siapkan bantuan berupa benih dan mesin pompa untuk menguras air yang masih menggenangi (sawah),” kata Gatot. (dhs)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

JAWA TIMUR

Banjir di Jatim Surut, Tapi Warga Harus Waspada

Published

on

Banjir dengan ketinggian 50-100 centimeter, terjadi di Kabupaten Ngawi akibat meluapnya Sungai Bengawan Madiun yang merendam rumah warga sebanyak 4.490 KK di 18 desa di enam kecamatan.

Apakabarnews.com, Surabaya – Banjir yang menggenangi sejumlah daerah di Jawa Timur pada Kamis (7/3/2019), kini sudah mulai surut, tapi masyarakat tetap harus waspada karena masih ada potensi hujan lebat hampir di sebagian besar wilayah tersebut yang dapat memicu terjadinya banjir susulan.

Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda Surabaya menyebutkan bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang berpotensi terjadi di sejumlah daerah di Jatim hingga dua hari ke depan, di antaranya Lumajang, Probolinggo, Situbondo dan Bondowoso.

Selain itu, kondisi yang sama berpeluang terjadi di Malang, Pasuruan, Bangkalan, Madiun, Tulungagung, Trenggalek, Gresik, Sampang, Ngawi, Ponorogo, Blitar, Pacitan, Tuban dan Sumenep.

Terkait dengan hal tersebut Perum Jasa Tirta (PJT) I Subdivisi Jasa ASA III/2 Madiun, Jawa Timur, meminta daerah hilir tetap waspada dalam menghadapi luapan Bengawan Solo, karena ketinggian air kembali naik, akibat pasokan air dari hulu.

“Ketinggian air Bengawan Solo sempat turun, tapi sekarang naik lagi karena ada pasokan air dari Kali Madiun juga Jurug, Solo, Jawa Tengah, yang sempat masuk siaga merah sehari lalu,” kata Petugas PJT I Subdivisi Jasa ASA III/2 Madiun Muhammad Yudo Nugroho, di Madiun, Jumat.

Oleh karena itu, menurut dia, adanya tambahan pasokan air dari Kali Madiun dan air dari Jurug, Solo, Jawa Tengah, itu akan mempengaruhi kenaikan air Bengawan Solo secara signifikan di hilir Jawa Timur.

Mengenai kewaspadaan dalam menghadapi ancaman banjir luapan Bengawan Solo dibenarkan Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Nadif Ulfia yang menyebutkan Bengawan Solo di hilir memperoleh pasokan air dari Kali Madiun.

“BPBD sudah menetapkan tanggap darurat banjir sejak beberapa hari lalu. Kewaspadaan tetap kita lakukan, sebab ada kiriman tambahan air dari hulu,” ujarnya.

Data di BPBD setempat menyebutkan luapan Bengawan Solo dengan status siaga kuning merendam 48 desa yang tersebar di 10 kecamatan, antara lain, Kecamatan Kota, Kalitidu, Trucuk, Kanor dan Baureno.

Di wilayah genangan banjir air merendam tanaman padi seluas 1.594 hektare, juga pemukiman warga, di antaranya, satu rumah warga di Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas, hanyut terbawa banjir. Perhitungan BPBD untuk kerugian akibat rusaknya areal pertanian, juga lainnya mencapai Rp1 miliar lebih.

Data PJT I Subdivisi Jasa ASA III/3 Bojonegoro menyebutkan ketinggian air Bengawan Solo, di Karangnongko, Kecamatan Ngraho, sekitar 70 kilometer dari Kota Bojonegoro, merangkak naik menjadi 28,25 meter pukul 07.00 WIB.

Ketinggian air Bengawan Solo di Karangnongko itu, karena memperoleh pasokan air dari hulu, juga hulu, Jawa Tengah, menjadi naik tajam dibandingkan sehari lalu yang hanya mencapai 27,44 meter.

Begitu pula ketinggian air di TBS di Desa Ledokwetan, Kecamatan Kota, semula sudah berangsur-ansur turun menjadi 14,18 meter. Tapi kemudian naik menjadi 14,20 meter, padahal sebelumnya sempat mencapai 14,53 meter pada 7 Maret.

Di hilirnya mulai Babat, Laren, Karanggeneng, dan Kuro, Lamongan, pada waktu bersamaan status Bengawan Solo juga siaga dengan ketinggian air masing-masing 8,26 meter (merah), 5,65 meter (merah), 4,52 meter (merah) dan 2,21 meter (kuning).

“Sodetan Plangwot-Sedayu Lawas, Lamongan, berfungsi normal bisa mengalirkan debit air banjir Bengawan Solo ke laut sekitar 640 meter kubik per detik,” kata Yudo menambahkan.

Madiun Surut

Bencana banjir yang melanda wilayah Kabupaten Madiun, Jawa Timur sejak tiga hari yang lalu pada Jumat pagi terpantau mulai surut.

Bupati Madiun Ahmad Dawami, Jumat mengatakan sejak Kamis (7/3/2019) malam, ketinggian air yang sebelumnya menggenang di area permukiman warga, seperti yang terpantau di wilayah Balerejo, sudah berangsur surut.

“Dusun Pojok, Desa Sogo, Balerejo, yang berbatasan dengan Ngawi, pada Kamis malam terpantau air naik di sana. Tapi desa lainnya sudah surut semua,” ujar Bupati Dawami kepada wartawan di Madiun, Jumat (8/3/2019).

Karena air telah berangsur surut, sejumlah warga yang sebelumnya bertahan di posko bencana, baik yang berada di tiap desa ataupun kecamatan, terpantau pulang ke rumah masing-masing.

Demikian juga warga yang mengungsi ke rumah saudara ataupun tetangga yang tidak terdampak banjir. Kebanyakan semua telah kembali untuk membersihkan rumah pascabanjir surut.

Bupati menjelaskan, setelah fokus pada penanganan warga terdampak banjir guna menghindari korban jiwa pada dua hari terakhir, selanjutnya, selama 14 hari status tanggap darurat, akan dilakukan penanganan pascabanjir.

“Seperti sudah disampaikan, pertama adalah selamatkan manusianya dulu supaya tidak ada korban jiwa. Setelah itu kita pikirkan penanganan pascabanjir, seperti soal rehabilitasi dan reksontruksi,” kata Bupati yang akrab disapa Kaji Mbing ini.

Menurutnya, penanganan pascabanjir dari sisi kesehatan yang paling penting dan maksimal. Ia menginstruksikan kebutuan kesehatan dan air bersih akan ditangani langsung oleh pemerintah kabupaten. Hal itu dipenuhi selama masa tanggap darurat bencana berlangsung.

Sementara, kondisi yang sama terpantau untuk banjir yang melanda di Kabupaten Ngawi. Warga yang semalam bertahan di posko pengungsian, telah pulang untuk melakukan aktivitas bersih-bersih rumah.

“Air sudah surut, hanya tinggal genangan di area sawah yang lebih rendah dari jalan dan rumah,” kata warga Desa Waruk Tengah, Kecamatan Pangkur, Sadaryanto.

Data BPBD Jawa Timur mencatat, selama beberapa hari terakhir, bencana banjir telah menerjang 15 kota/kabupaten di Jatim. Daerah yang paling parah terlanda banjir adalah Kabupaten Madiun akibat meluapnya sungai Jeroan yang merupakan anak sungai Bengawan Madiun

Sebanyak 39 desa, delapan kecamatan di kabupaten setempat terendam banjir sehingga menyebabkan 4.317 KK atau 17.268 jiwa terdampak banjir, dua unit rumah rusak berat, 253 hektare sawah tergenang , tiga titik tanggul rusak, dua unit jembatan rusak, satu unit gorong-gorong rusak dan ribuan ternak terdampak.

Sedangkan di Ngawi, banjir terjadi akibat meluapnya Sungai Bengawan Madiun yang merendam rumah warga sebanyak 4.490 KK di 18 desa di enam kecamatan.

Jalan Tol

PT Jasamarga Ngawi-Kertosono (JNK) membuka akses Tol Ngawi-Kertosono setelah banjir di kawasan itu surut, dan sejumlah kendaraan untuk arah Jakarta kini diperbolehkan kembali melewatinya dengan batasan kecepatan maksimal 40 km.

“Alhamdulillah yang sebelumnya kami tutup sudah mulai dibuka sejak pukul 02.30 WIB, dan mulai pagi ini kendaraan arah Jakarta diperkenankan melewati akses tersebut,” kata Area Manager Tol Ngawi-Kertosono, Sabililah ketika dikonfirmasi, Jumat (7/3/2019).

Meski telah dibuka, kata Sabil, namun pihak PT JNK tetap memasang sejumlah rambu lalu lintas di sekitar KM 603 hingga KM 604, tujuannya agar pengendara bisa tetap berhati-hati karena masih adanya genangan air di sisi tepi tol.

“Untuk tepi ruas jalan tol ketinggian genangan air masih sekitar mata kaki orang dewasa, namun di sisi tengah sudah surut dan bisa kembali dilewati normal,” katanya.

Sebelumnya, penutupan akses tol Ngawi-Kertosono arah Jakarta akibat banjir membuat pihak PT JNK melakukan rekayasa lalu lintas dengan “contra flow” dari KM 602 hiingga KM 607.

Selain itu, kendaraan yang sebelumnya terlanjur masuk tol dan terjebak di sekitar SS Madiun, dilakukan pengawalan oleh Patroli Jalan Raya (PJR) untuk putar balik dan keluar di gerbang tol Caruban.

Sementara itu AVP Corporate Communications PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Heru mengatakan mitigasi risiko di kawasan jalan tol sudah dilakukan sejak tahap desain.

Ketinggian jalan tol juga dibangun sudah lebih tinggi dari daerah milik jalan atau “Right of way” (ROW), atau minimal 1 meter di atas ROW.

“Selain itu, juga ada saluran crossing (cross drain) sebanyak 4 cross drain di dekat lokasi banjir yg melintang di bawah jalan tol,” katanya.

Namun demikian, kata dia, untuk banjir di tol Ngawi-Kertosono diakibatkan debit air saat ini sangat tinggi, sehingga jalan tol terendam.

“Oleh karena itu, kami lakukan rekayasa lalu lintas dengan contraflow sehingga jalan tol tetap dapat dioperasikan,” katanya.

15 Kabupaten/Kota

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 12.495 kepala keluarga terdampak banjir yang terjadi di 15 kabupaten di Jawa Timur.

“Data sementara, banjir menyebabkan lebih dari 12.495 KK terdampak dan sebagian masyarakat mengungsi ke tempat yang lebih aman,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho pada siaran pers yang diterima di Surabaya, Kamis (7/3/2019) malam.

Berdasarkan laporan Pusdalops BPBD Jatim, kata dia, 15 kabupaten yang dilanda banjir adalah Kabupaten Madiun, Nganjuk, Ngawi, Magetan, Sidoarjo, Kediri, Bojonegoro, Tuban, Probolinggo, Gresik, Pacitan, Tranggalek, Ponorogo, Lamongan, dan Blitar.

“Daerah yang paling parah terlanda banjir adalah Kabupaten Madiun, akibat meluapnya Sungai Jeroan yang merupakan anak sungai Madiun,” ucapnya.

Ia merinci, sebanyak 39 desa yang tersebar di delapan kecamatan di Madiun terendam banjir, sehingga menyebabkan 4.317 KK atau 17.268 jiwa terdampak banjir, dua unit rumah rusak berat, 253 hektare sawah tergenang , tiga titik tanggul rusak, dua unit jembatan rusak, satu unit gorong-gorong rusak, dan ribuan ternak terdampak.

Banjir dengan ketinggian 50-100 centimeter, kata Sutopo, terjadi di Kabupaten Ngawi akibat meluapnya Sungai Bengawan Madiun yang merendam rumah warga sebanyak 4.490 KK di 18 desa di enam kecamatan.

Lalu, banjir di Kabupaten Nganjuk disebabkan luapan air Sungai Kuncir di Desa Sonopatik Berbek, sehingga merendam jalan raya dan permukiman warga di delapan dusun, tiga kelurahan, 12 desa, enam kecamatan dengan ketinggian 10-100 centimeter.

“Sebanyak 456 KK terdampak banjir dan sampai saat ini pendataan serta penanganan darurat masih masih dilakukan,” katanya.

Sedangkan, beberapa daerah yang menjadi perbatasan Surabaya yang merupakan Ibu Kota provinsi juga terjadi banjir, seperti Gresik dan Sidoarjo.

Di Gresik, banjir akibat luapan Kali Miru berdampak pada tiga kecamatan, yaitu Kedamaean, Driyorejo dan Dukun dengan ketinggian 20-100 centimeter hingga mengakibatkan 90 unit rumah tergenang.

Kemudian di Sidoarjo, banjir disebabkan luapan Sungai Avoer Krembung II sehingga berdampak pada rumah tergenang dan 498 KK di tiga desa terendam antara ketinggian 20-40 centimeter.

Sementara itu, di Kabupaten Probolinggo puting beliung dan banjir terjadi di Desa Tambak Rejo Kecamatan Tongas yang mengakibatkan seorang meninggal dunia dan seorang lainnya luka ringan.

Beberapa daerah lainnya, yaitu Kabupaten Magetan akibat meluapnya air sungai ke jalan dengan ketinggian air mencapai 125 centimeter, di Kabupaten Kediri karena luapan di Desa Gempolan Kecamatan Gurah menyebabkan SDN Gembolan 1 terendam air setinggi 30-50 centimeter.

Berikutnya di Kabupaten Bojonegoro akibat luapan air Sungai Pacal, banjir Kabupaten Tuban karena meluapnya Sungai (Kali Kening), banjir di Kabupaten Pacitan setelah hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan meluapnya air Sungai Grindulu di Kecamatan Arjosari, dan banjir di Kabupaten Trenggalek akibat luapan Sungai Ngasinan.

Daerah lainnya yakni banjir di Kabupaten Ponorogo di di wilayah Kecamatan Balong mengakibatan ruas jalan dan permukiman terendam, di Kabupaten Lamongan karena luapan Bengawan Solo, serta di Kabupeten Blitar akibat hujan deras hingga menyebabkan banjir, longsor dan pohon tumbang.

“BPBD bersama TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan dan masyarakat masih melakukan penanganan darurat. Evakuasi, pemberian bantuan permakanan, pendirian tenda dan lainnya juga masih dilakukan,” katanya. (shp)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

JAWA TIMUR

Korban Banjir Trenggalek Mulai Tinggalkan Posko Pengungsian

Published

on

Plt Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin (kedua kanan) menyalurkan bantuan logistik makanan untuk korban banjir bandang di Trenggalek, Jawa Timur, Kamis (7/3/2019).

Apakabarnews.com, Trenggalek – Korban banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Trenggalek mulai meninggalkan posko-posko pengungsian dan kembali ke rumah masing-masing.

Di Balai Kantor Kecamatan Pogalan, Kamis sore (7/3/2019), sudah tidak terlihat ada pengungsi yang bertahan di tempat penampungan sementara.

Kondisinya lengang, tidak seperti pada siang hari ketika masih banyak keluarga yang mengungsi sambil membawa tas-tas berisi baju dan barang berharga.

Suasana serupa terlihat di posko Dinas Sosial Trenggalek. Hanya ada petugas Dinas Sosial dan tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang siaga sambil menyiapkan logistik bantuan bagi warga di daerah-daerah terdampak bencana.

“Di dua posko pengungsian utama di Balai Kecamatan Pogalan dan Dinsos sekarang sudah sepi. Warga memilih pulang untuk membersihkan rumahnya yang kotor akibat banjir bandang,” kata Pelaksana Tugas Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin.

Ia mengatakan meski banjir sudah surut dan warga terdampak bencana mulai kembali ke rumah, aparat pemerintah tetap siaga untuk mengantisipasi kemungkinan hujan turun lagi dan menyebabkan banjir.

“Meski sudah surut, namun semua terus siaga. Sebab cuaca sampai saat ini masih mendung dan berpotensi turun hujan lagi, yang bisa memicu banjir susulan,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Trenggalek menetapkan status siaga bencana sesaat setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor menerjang 28 desa dan kelurahan di daerah itu.

Wilayah yang terdampak banjir tercatat berada di sembilan desa di Kecamatan Trenggalek, Pogalan, Karangan dan Panggul. Sementara tanah longsor menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah Trenggalek terjadi di Kecamatan Pule, Bendungan, Tugu, Dongko, Durenan, Pule, Panggul, dan Trenggalek.

Bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Trenggalek berdampak pada 4.923 keluarga, termasuk di dalamnya 14.779 murid sekolah.

Selain itu ada desa-desa yang menghadapi terjangan angin kencang di Kecamatan Karangan. (dhs)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending