Connect with us

FINANSIAL

Menkeu : APBN Masih Sesuai dengan Kebutuhan Penyelenggara Negara

Published

on

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.

Apakabarnews.com, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan postur APBN 2018 masih sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan negara sehingga tidak membutuhkan APBN Perubahan.
       
“Dengan penerimaan dan belanja negara tetap sesuai, maka kami memutuskan ini telah mencerminkan kebutuhan penyelenggaraan perekonomian negara tahun 2018,” kata Sri Mulyani di Jakarta, Rabu (11/7/2018).

BACA JUGA : Menkeu : APBN 2018 Tidak akan Diubah
     
Ia menjelaskan penerimaan negara saat ini masih terjaga dengan baik dengan proyeksi pada akhir tahun bisa mencapai target yang telah ditetapkan dalam APBN.
     
Pendapatan ini terbantu oleh penerimaan pajak yang realisasinya mencapai 40 persen dari target hingga semester I-2018 dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang didukung oleh tingginya harga minyak dunia.
     
“Kombinasi antara pajak dan PNBP, jumlahnya sesuai dengan pendapatan negara yang kami rencanakan pada tahun 2018,” kata Sri Mulyani.
       
Selain itu, kebutuhan belanja negara juga masih sesuai dengan yang direncanakan, termasuk belanja akomodasi tambahan untuk keperluan mendesak dan penyelenggaraan Asian Games.
     
“Postur keseluruhan APBN 2018 masih bisa dipertahankan dengan baik. Seluruh kebutuhan belanja yang sudah direncanakan di 2018 tetap berjalan,” ujarnya.
     
Saat ini, beberapa asumsi makro dalam APBN sudah tidak sesuai dengan realisasi rata-rata, seperti harga ICP minyak, nilai tukar rupiah dan lifting minyak.
     
Harga minyak mentah Indonesia yang diasumsikan sebesar 48 dolar AS per barel, realisasinya hingga akhir Mei 2018 sudah mencapai 66 dolar AS per barel.
     
Meski demikian, pemerintah untuk tidak mengajukan APBN Perubahan karena kenaikan harga minyak dunia ini telah memberikan tambahan pendapatan dari PNBP sektor migas.
     
Tambahan penerimaan tersebut ikut memberikan dampak positif, karena bisa menekan postur defisit anggaran, seiring dengan membaiknya penyerapan belanja negara.
     
Tidak adanya APBN Perubahan merupakan hal yang jarang terjadi, karena pemerintah selalu mengajukan APBN Perubahan setiap tahunnya, akibat asumsi makro yang meleset. (sat)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FINANSIAL

BI : Kritik Trump ke EFD Lemahkan Rupiah

Published

on

Deputi Gubernur BI, Erwin Rijanto.

Apakabarnews.com, Jakarta – Pelemahan nilai tukar Rupiah Jumat hingga ke Rp14.520 per dolar AS lebih disebabkan perkembangan arah ekonomi Amerika terutama setelah Presiden Donald Trump mengkritik kebijakan Bank Sentral The FED yang akan menaikkan suku bunganya.

Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto sesuai ibadah Jumat di Jakarta, mengatakan kontradiksi sikap pemerintah dan Bank Sentral AS mengenai suku bunga kebijakan moneter AS menimbulkan ketidakpastian bagi negara berkembang.

Alhasil, mata uang dolar AS serentak menguat ke sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia yang baru saja menahan kenaikan suku bunga acuan “7-Day Reverse Repo Rate” di 5,25 persen Kamis (19/2/2018) kemarin.

“Domestik tidak ada masalah, masalahnya adalah Trump yang membuat pernyataan berlawanan dengan Fed,” ujar Erwin.

Arah perkembangan ekonomi AS menghentak pelaku pasar setidaknya dua kali pekan ini. Gubernur The Fed Jerome Powell pada pidatonya awal pekan ini mengindikasikan konsistensi menaikkan suku bunga acuannya empat kali tahun ini.

Namun, Presiden Trump, Kamis (19/1/2018) melontarkan kritiknya kepada Bank Sentral AS karena kenaikan suku bunga bisa menghambat percepatan pemulihan ekonomi AS.

Berbarengan dengan itu, eskalasi perang dagang antara dua negara raksasa ekonomi AS dan China semakin meningkat setelah kontradiksi pernyataan Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow dan penasihat ekonomi senior pemerintah China Liu He.

“China itu melakukan, misalnya devaluasi menurunkan kursnya berkaitan dengan ‘perang dagang’ itu,” ujar Erwin.

Erwin membantah jika melemahnya nilai rupiah Jumat ini karena pelaku pasar merespons negatif keputusan BI yang mempertahankan suku bunga acuan “7 Day Reverse Repo Rate” sebesar 5,25 persen pada Kamis (19/7/2018) kemarin.

“Jika melihat lebih luas, bukan hanya Rupiah yang melemah hari ini, tapi juga mata uang lainnya,” ujar dia.

Kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dolar Rate yang diumumkan Bank Indonesia, Jumat ini, menunjukkan Rupiah diperdagangkan di Rp14.520 per dolar AS, melemah 102 poin dibanding acuan Kamis (19/7/2018) yang sebesar Rp.14.418 per dolar AS.

Di pasar spot pada Jumat pukul 14.35 WIB, rupiah juga masih menunjukkan tren depresiatif. Mata uang garuda diperdagangkan di Rp14.520 per dolar AS. (iap)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

FINANSIAL

Darmin : Penerbitan SBI untuk Tarik Modal

Published

on

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution.

Apakabarnews.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai rencana penerbitan kembali Sertifikat Bank Indonesia (SBI) bertenor 9 dan 12 bulan oleh bank sentral, bertujuan untuk menarik likuditas valas.

“Kalau SBI itu benar-benar likuid, bisa dipakai untuk instrumen investasi,” ujar Darmin saat ditemui di Jakarta, Jumat (20/7/2018).

Darmin mengatakan kondisi saat ini yang penuh ketidakpastian membuat bank sentral harus merumuskan instrumen investasi agar modal bisa menetap lebih lama di dalam negeri.

“Sekarang ini adalah situasi dimana kita perlu memberi ruang untuk pemilik dana supaya tertarik masuk, kemudian dicoba oleh BI untuk menyediakan instrumen investasi lebih banyak,” ujarnya.

Dengan adanya instrumen investasi tersebut, ia mengharapkan investor tidak cepat-cepat melarikan dana ke luar negeri dan berinvestasi di instrumen dengan minim risiko seperti SBI.

“Yang tadinya orang merasa dia mau keluar, bisa saja daripada keluar ya dia beli, tapi itu kalau dia percaya BI bisa menjalani lebih baik,” ujar mantan Gubernur Bank Indonesia ini.

Saat ini, Bank Indonesia mengkaji pengaktifan kembali SBI bertenor 9 dan 12 bulan guna menambah portofolio yang dapat menyerap modal asing sehingga dapat menjadi instrumen untuk menstabilkan rupiah.

“Kami ingin memperluas instrumen, kemungkinan reaktivasi SBI, sedang dikaji. Dalam waktu dekat kami akan umumkan. Sudah di ‘pipeline’,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis (19/7).

Jika SBI kembali diaktifkan, maka instrumen untuk menyimpan modal asing akan bertambah, selain dari obligasi, deposito, dan saham.

Meski demikian, penerbitan SBI pernah menyebabkan terjadinya defisit anggaran Bank Indonesia pada 2009 karena bank sentral harus membayar bunga SBI yang tinggi.

Bank Indonesia bahkan pernah menyatakan pada 2016 bahwa transaksi untuk operasi moneter seluruhnya akan menggunakan SBN pada 2024 untuk menggantikan instrumen SBI. (sat)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

FINANSIAL

Luhut : Pelemahan Rupiah Tidak Perlu dikhawatirkan

Published

on

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan.

Apakabarnews.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menilai pelemahan rupiah tidak perlu dikhawatirkan karena secara fundamental, ekonomi Indonesia masih baik.

“Rupiah biasa, tidak apa-apa, tidak masalah. Fundamental ekonomi kita, inflasi bagus,” katanya di Kemenko Kemaritiman Jakarta, Jumat (20/7/2018).

Meski Luhut mengakui negara mengalami defisit transaksi berjalan, ia meyakini pelaksanaan mandatori biodiesel B20 akan mampu mendongkrak penerimaan negara.

Neraca transaksi berjalan Indonesia yang terus mengalami defisit menjadi faktor domestik yang selama ini membuat nilai tukar rupiah terus tergerus, selain karena tekanan ekonomi eksternal.

“Tapi tadi dengan kita mau menggunakan B20/ kita hitung penerimaan hampir 4 miliar dolar AS dalam dua tahun ke depan. Tahun ini kalau digunakan 500 ribu ton biodiesel saja saya kira sudah hampir 1 miliar dolar AS. Jadi defisit ‘current account’ (transaksi berjalan) kita bisa jadi baik juga,” tuturnya.

Dengan kondisi demikian, Luhut memastikan kondisi rupiah tidak perlu dikhawatirkan meski kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dolar Rate yang diumumkan Bank Indonesia, Jumat ini, menunjukkan rupiah diperdagangkan di Rp14.520 per dolar AS, melemah 102 poin dibanding acuan Kamis (19/7/2018) yang sebesar Rp.14.418 per dolar AS.

“‘Overall’ (secara keseluruhan) saya kira tidak ada yang harus dikhawatirkan,” imbuh Luhut.

Pada pembukaan perdagangan Jumat ini, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank juga melemah 35 poin menjadi Rp14.477 dibanding posisi sebelumnya Rp14.442 per dolar AS.

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan pergerakan rupiah masih melemah seiring imbas kenaikan dolar AS yang masih merespons pidato Gubernur Bank Sentral AS (The Federal Reserve) Jerome Powell akan optimismenya terhadap pertumbuhan ekonomi AS yang stabil.

Optimisme Powell menyiratkan potensi kenaikan suku bunga The Federal Reserve sebanyak dua kali lagi di sisa tahun, setelah kenaikan dua kali pada semester I 2018.

“Meskipun di sisi lain Powell tidak menyampaikan secara detil kebijakan moneter The Fed ke depannya,” ujar dia. (ade)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending