Connect with us

HUKUM

Pejabat Kemenag di Aceh Dipolisikan Akibat Status Facebook

Published

on

Tajri dilaporkan ke Polres Abdya karena diduga telah melakukan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) melalui akun facebooknya.

Apakabarnews.com, Blangpidie – Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kementerian Agama Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Tajri bin Yakub dilaporkan ke pihak berwajib oleh aktifis LSM Koalisi Rakyat Bersatu (KRB), akibat status facebook yang dinilai merugikannya.

Ketua LSM KRB, Saharuddin di Blangpidie, Kamis (12/7/2018) mengatakan, Tajri dilaporkan ke Polres Abdya karena diduga telah melakukan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) melalui akun facebooknya.

“Tajri sudah kami laporkan ke Polres Abdya Rabu (11/7/2018). Pejabat di Kemenag itu, kami laporkan ke pihak berwajib atas tindak dugaan pelanggaran UU ITE,” ungkap Saharuddin di dampingi dua pengacara dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA).

Dua pengacara dari YARA yang ikut mendampingi Saharuddin membuat laporan ke Polres Abdya tersebut, yaitu Andi Suhanda, SH dan Muzakir AR, SH, kemudian ditambah lagi Said Fadhli, aktifis LSM KRB yang membidangi Ketua Devisi Advokasi dan Investigasi.

“Saya sangat tersudut ketika membaca sebuah status di akun facebook Tajri bin Yakub pada tanggal 8 Juli 2018. Sebab dalam status tersebut ditulis kata-kata yang mengandung unsur fitnah yang sangat merugikan nama baik saya,” ungkap Saharuddin.

Karena, lanjut dia, dalam status tersebut ditulis PT Cemerlang Abdya (CA) menyiapkan dana untuk kegiatan demo tenaga kontrak melalui dirinya nominal Rp2,5 miliar yang diperuntukkan untuk peserta unjuk rasa Rp500 ribu/orang dengan kalkulasi Rp500 ribu dikalikan 5.000 orang.

“Status facebook yang ditulis oleh Tajri bin Yakub tentang PT CA menyiapkan dana melalui saya sebanyak Rp2,5 miliar untuk kegiatan demo itu hoax, sama sekali tidak benar,” ujar warga Desa Kuta Jumpa tersebut sambil menunjukkan bukti surat laporan polisi kepada wartawan.

Saharuddin mengaku dengan dipostingnya status hoax oleh seorang pegawai Kemenag Abdya tersebut membuat kehidupan dirinya tidak nyaman. Selain timbul berbagai anggapan miring dari masyarakat, banyak peserta aksi mencari dirinya untuk meminta uang tersebut.

“Makanya saya lapor kasus ini pada polisi agar warga mengetahui apa yang dituduhkan ke saya itu sama sekali tidak benar,” katanya.

Ia menjelaskan, aksi damai tenaga kontrak yang digelar di DPRK Abdya beberapa hari lalu murni tanpa ditungangi oleh siapapun.

Terpisah, Kasubag TU Kemenag Abdya Tajri bin Yakub saat diminta tangapannya oleh wartawan mengaku tidak masalah jika dirinya dilaporkan ke pihak berwajib, apalagi setiap warga negara Indonesia berhak melaporkan sebagaimana diatur oleh undang-undang.

“Silahkan saja dilaporkan, karena itu hak setiap warga negara Indonesia. Bagi saya itu tidak masalah dan saya selaku abdi negara, abdi masyarakat yang taat, tunduk, dan patuh terhadap negara saya jalani proses hukumnya. Jadi, tidak masalah, laporkan saja,” kata Tajri.

Tajri mengaku, status yang ditulis tersebut hingga kini masih ada di akun facebook milik dirinya, hanya saja tidak bisa lagi diakses untuk dilihat ataupun dibaca oleh orang lain, karena status tersebut sudah dikuncinya untuk barang bukti penyidik maupun pengadilan nanti.

“Kita ini tetap ada sahabat di antara mereka-mereka itu. Sebelum isu ini mencuat, sahabat yang masih setia itu sudah lebih duluan beritaukan ke saya bahwasannya status saya itu akan dilaporkan ke polisi. Tidak ada masalah saya bilang, dan tidak saya hapus status itu,” sambung dia.

“Berhubung isu lapor itu sudah mencuat, makanya saya kunci dulu. Kalau tidak saya kunci nanti bias ke yang lain. Dan pesan saya beginilah yang paling bagus, kalau bisa warga Abdya harus cerdas semua, jangan hanya ketawa-ketawa di warung kopi saja,” ujarnya. (ant)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HUKUM

Polisi Limpahkan Perkara Abu Tour ke Kejaksaan

Published

on

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes, Dicky Sondani.

Apakabarnews.com, Makassar – Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan melimpahkan kasus jemaah umrah PT Amanah Bersama Ummat (Abu Tours) ke Kejaksaan Negeri Makassar setelah semua berkas perkara dinyatakan lengkap oleh tim jaksa peneliti.

“Karena kasusnya sudah P-21 (dinyatakan lengkap) oleh jaksa peneliti di Kejati Sulsel, maka sesuai dengan jadwal hari ini langsung pelimpahan tahap dua,” ujar Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani, di Makassar, Jumat (20/7/2018).

Ia mengatakan pelimpahan perkara dengan tersangka bos Abu Tours Hamzah Mamba yang ditanganinya sejak beberapa bulan lalu itu telah beberapa kali mendapat perbaikan-perbaikan sesuai dengan petunjuk dari tim jaksa peneliti.

Dicky menyatakan semua syarat formil dan materiil yang diminta oleh tim jaksa peneliti Kejati Sulsel sudah dipenuhi hingga akhirnya kasusnya dinyatakan lengkap.

“Setelah pelimpahan tahap dua selesai, tersangka dan barang buktinya, maka proses selanjutnya sudah berada di tangan kejaksaan sebelum disidangkan di pengadilan,” katanya.

Kepala Seksi Penerangan dan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Sulsel Salahuddin menyatakan pelimpahan tahap dua dilakukan setelah semua proses pemeriksaan berkas perkara dinyatakan lengkap dan memenuhi semua unsur tindak pidananya.

“Setelah semua selesai, pelimpahan dari polda ke kejati kemudian diteruskan ke Kejari Makassar untuk didaftarkan di panitera pengadilan sebelum disidangkan,” katanya lagi.

Sebelumnya, Jumat (23/3/2018), penyidik Polda Sulsel menetapkan Hamzah Mamba sebagai tersangka karena perusahaannya yang bergerak di bidang travel umrah itu tidak mampu memberangkatkan jemaahnya ke Arab Saudi.

Total kerugian para jemaah umrah yang jumlahnya sebanyak 96.601 orang itu diperkirakan lebih dari Rp1,4 triliun sesuai dengan besaran dana yang masuk dari setiap jemaah.

Atas ketidakmampuan dari pihak Abu Tour dalam memberangkatkan jamaah umrah ini, pihaknya menjerat tersangka dengan Undang Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah jo pasal 372 dan 378 KUHP tentang penipuan dan penggelapan serta pasal 45 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Kombes Dicky Sondani menyatakan ancaman hukuman yang disangkakan kepada tersangka adalah pidana penjara maksimal 20 tahun dan denda Rp10 miliar. (muh)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HUKUM

KPK Ancam Umar Ritonga Masuk dalam DPO

Published

on

Bupati Labuhanbatu, Pangonal Harahap.

Apakabarnews.com, Jakarta – KPK meminta Umar Ritonga selaku orang dekat Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap agar segera menyerahkan diri maksimal pada 21 Juli 2018, bila tidak maka Umar akan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

“KPK mengingatkan kembali kepada Umar Ritonga agar bersikap kooperatif dan segera menyerahkan diri ke KPK. Imbauan ini berlaku sampai Sabtu, 21 Juli 2018. Jika tidak, KPK akan memproses penerbitan DPO untuk yang bersangkutan,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Jumat (20/7/2018).

Umar melarikan diri saat Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK pada Selasa (17/7/2018) di depan kantor BPD Sumut. Umar adalah orang yang ditugaskan oleh Pangonal untuk mengambil uang Rp500 juta dari petugas bank.

Namun Umar tidak kooperatif, saat tim KPK memperlihatkan tanda pengenal KPK, Umar melawan dan hampir menabrak pegawai KPK yang akan menangkapnya.

Sempat terjadi kejar-kejaran antara mobil tim KPK dan Umar, namun karena kondisi hujan dan tim harus mengamankan pihak lain maka Umar pun berhasil lolos dan diduga kabur ke daerah kebun sawit dan rawa di sekitar lokasi.

“Kepada pihak keluarga dan kolega tersangka agar secara aktif mengajak saudara Umar Ritonga untuk datang ke KPK atau menyerahkan diri ke Polres Labuhanbatu atau kantor kepolisian setempat,” kata Febri.

Selain itu, KPK juga sedang melakukan pencarian terhadap saksi Afrizal Tanjung, Direktur PT Peduli Bangsa yang diduga berperan dalam pencairan cek di BPD Sumut.

Afrizal adalah orang yang menarik cek Rp576 juta dari pemilik PT Binivan Konstruksi Abadi Effendy Sahputra.

“Kami ingatkan, sikap kooperatif akan lebih baik dan menguntungkan bagi tersangka, saksi dan proses hukum ini. Kontak kantor KPK yang dapat dihubungi adalah 021-2557 8300,” tambah Febri.

KPK menduga Pangonal menerima Rp576 juta dari Effendy Sahputra terkait proyek-proyek di lingkungan kabupaten Labuhanbatu, Sumut TA 2018 senilai Rp576 juta yang merupakan bagian dari pemenuhan dari permintaan Bupati sekitar Rp3 miliar.

Sebelumnya sekitar bulan Juli 2018 diduga telah terjadi penyerahan cek sebesar Rp1,5 miliar, namun tidak berhasil dicairkan.

Tersangka pemberi suap adalah Effendy Sahputra yang disangkakan melanggar pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau pasal 13 UU No 31 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sedangkan tersangka penerima suap adalah Pangonal Harahap dan Umar Ritonga yang disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 UU No 31 Tahun 1999 tentang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-l KUHP. (dln)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HUKUM

Dirut PLN Penuhi Panggilan KPK

Published

on

Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sofyan Basir saat memenuhi Panggilan KPK di Jakarta.

Apakabarnews.com, Jakarta – Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sofyan Basir memenuhi panggilan KPK untuk diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi suap kesepakatan kerja sama pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-1.

“Diperiksa sebagai saksi ya,” kata Sofyan saat tiba di gedung KPK Jakarta, Jumat (20/7/2018).

Sofyan tampak didampingi sejumlah stafnya.

Saat ditanya soal penunjukan langsung proyek senilai 900 juta dolar AS itu, Sofyan tidak menjelaskannya kepada wartawan.

“Nggak, nggak, nggak ada,” kata Sofyan.

Pada Kamis (19/7/2018), KPK juga sudah memeriksa Menteri Sosial Idrus Marham dalam kasus yang sama.

Rumah Idrus adalah lokasi Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK pada Jumat (13/7/2018) yang menjadi awal kasus ini. Idrus mengaku kenal dengan dua orang tersangka dalam kasus tersebut yaitu Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dari Fraksi Golkar Eni Maulani Saragih dan pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited Johannes Budisutrisno Kotjo.

Pada Minggu (15/7/2018) petugas KPK menggeledah rumah Dirut PLN Sofyan Basir, sedangkan pada Senin (16/7/2018) KPK menyita dokumen dan CCTV dari penggeledahan di kantor Pembangkit Jawa Bali (PJB) I di gedung Indonesia Power yang merupakan anak perusahaan PLN, ruang kerja Eni Maulani Saragih di gedung DPR dan kantor pusat PLN.

Saat OTT, KPK mengamankan sejumlah barang bukti yaitu uang Rp500 juta dan dokumen atau tanda terima uang sebesar Rp500 juta tersebut.

Diduga penerimaan uang sebesar Rp500 juta merupakan bagian dari “commitment fee” sebesar 2,5 persen dari nilai proyek yang akan diberikan kepada Eni Maulani Saragih dan kawan-kawan terkait kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1.

Sebelumnya Eni sudah menerima dari Johannes sebesar Rp4,8 miliar yaitu pada Desember 2017 sebesar Rp2 miliar, Maret 2018 sebanyak Rp2 miliar dan 8 Juni 2018 sebesar Rp300 juta yang diberikan melalui staf dan keluarga. Tujuan pemberian uang adalah agar Eni memuluskan proses penandatanganan kerja sama terkait pembangunan PLTU Riau-1.

Proyek PLTU Riau-1 merupakan bagian dari proyek pembakit listrik 35.000 MW secara keseluruhan. PLTU Riau-1 masih pada tahap letter of intent (LOI) atau nota kesepakatan. Kemajuan program tersebut telah mencapai 32.000 MW dalam bentuk kontrak jual beli tenaga listrik (power purchase agreement/PPA).

PLTU tersebut dijadwalkan beroperasi pada 2020 dengan kapasitas 2 x 300 MW dengan nilai proyek 900 juta dolar AS atau setara Rp12,8 triliun.

Pemegang saham mayoritas adalah PT Pembangkit Jawa Bali (PJB) Indonesia, anak usaha PLN. Sebanyak 51 persen sahamnya dikuasai PT PJB, sisanya 49 persen konsorsium yang terdiri dari Huadian dan Samantaka.

Johannes Budisutrisno Kotjo ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap dengan sangkaa pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 juncto pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sedangkan sebagai tersangka penerima suap yaitu Eni Maulani Saragih disangkakan melanggar pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 11 UU No. 31 Tahun 1999 yang diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 64 ayat (1) ke-1 KUHP. (dln)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending