Connect with us

FINANSIAL

Rupiah Melemah Menjadi Rp14.441 Per Dolar AS

Published

on

Nilai tukar rupiah bergerak turun 56 poin menjadi Rp14.441 per dolar AS dari Rp14.385 per dolar AS.

Apakabarnews.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah dalam transaksi antarbank di Jakarta pada Kamis pagi (12/7/2018) bergerak turun 56 poin menjadi Rp14.441 per dolar AS dari Rp14.385 per dolar AS.

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan sejumlah sentimen positif dari dalam negeri yang belum terespons dengan baik dapat membuka peluang pelemahan lanjutan rupiah.

“Tidak berbeda dengan sebelumnya dimana masih rentannya rupiah menghalangi potensi kenaikan lanjutan sehingga perlu dicermati berbagai sentimen, terutama pergerakan sejumlah mata uang global terhadap USD,” ujar Reza.

Imbas apresiasi nilai tukar dolar AS belum meninggalkan rupiah, membuatnya cenderung melemah.

Sentimen dari dalam negeri dari persetujuan DPR terhadap sejumlah asumsi dasar makro RAPBN 2019 tampaknya belum menjadi sentimen yang dapat mengimbangi penguatan dolar AS. Akibatnya rupiah masih terdepresiasi. (cit)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

FINANSIAL

Defisit November, Menkeu Sebut Ekspor Masih Terdampak Tekanan Eksternal

Published

on

Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati.

Apakabarnews.com, Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan sektor ekspor masih terdampak oleh tekanan eksternal, salah satunya karena pengurangan permintaan dari negara tujuan ekspor utama seperti China.

“Ini harus dilihat secara hati-hati karena pertumbuhan ekonomi China lagi ada penyesuaian dari sisi internal atau karena ada perang dagang dengan AS,” kata Menkeu di Jakarta, Senin (17/12/2018).

Ia menambahkan perlemahan kinerja ekspor juga terjadi akibat lesunya perdagangan dengan pasar nontradisional, seperti di Amerika Latin dan Afrika, yang ikut terdampak oleh kondisi global.

“Pasar-pasar baru, barangkali dalam kondisi ekonomi sekarang, tendensinya menjadi lemah. Jadi kemampuan untuk menyerap ekspor jadi terbatas,” ujarnya.

Selain itu, menurut dia, terdapat juga komoditas ekspor yang sensitif terhadap isu-isu non ekonomi, seperti CPO (minyak sawit mentah), sehingga ikut mengurangi permintaan di negara-negara Eropa.

Melihat kondisi global yang diliputi ketidakpastian ini, pemerintah terus memperkuat daya saing ekspor dengan memberikan insentif kepada eksportir agar gairah sektor perdagangan tidak melemah.

“Ekspor dipacu dari sisi daya kompetisi kita, melalui berbagai kebijakan untuk mendukung, seperti insentif. Namun kita perlu memahami, dinamika pasar global sedang sangat tinggi atau tidak menentu,” ujarnya.

Dari sisi impor, pemerintah akan melakukan kajian lebih mendalam atas kebijakan pengurangan impor yang sudah diterbitkan, seperti peningkatan tarif PPh impor.

“Untuk sektor lain, migas dan nonmigas harus tetap perhatikan kemampuan industri dalam negeri untuk menghasilkan subtitusi, jadi kita tetap fokus dalam porsi itu,” tambah Sri Mulyani.

Ia memastikan upaya pengelolaan sektor perdagangan ini harus diupayakan untuk menahan pelebaran defisit neraca transaksi berjalan yang saat ini telah mendekati tiga persen terhadap PDB.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik mencatatkan defisit neraca perdagangan pada November 2018 tercatat sebesar 2,05 miliar dolar AS, yang berasal dari realisasi ekspor 14,83 miliar dolar AS dan impor 16,88 miliar dolar AS.

Dengan demikian, secara akumulatif, neraca perdagangan Januari-November 2018 telah tercatat defisit sebesar 7,52 miliar dolar AS dan makin berpotensi membebani neraca transaksi berjalan. (sat)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

FINANSIAL

Menkeu : Pergerakan Suku Bunga dan Likuiditas Pengaruhi Properti

Published

on

Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati.

Apakabarnews.com, Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan pergerakan suku bunga acuan maupun kurs dan pengetatan likuditas menjadi faktor yang bisa mempengaruhi pertumbuhan sektor properti.

“Kondisi ini sesuatu yang harus diwaspadai karena sepanjang tahun 2018 terjadi masalah nilai tukar, suku bunga, dan likuiditas yang cukup ketat,” kata Sri Mulyani dalam membuka seminar Proyeksi Properti 2019 di Jakarta, Senin (17/12/2018).

Ia menjelaskan koordinasi stabilitas makroekonomi dengan kebijakan moneter selalu dilakukan agar suku bunga acuan, nilai tukar, dan likuiditas, tidak mempengaruhi penjualan rumah maupun bangunan.

Pengelolaan ini menjadi penting, karena tidak hanya terkait pemenuhan rumah atau bangunan bagi masyarakat, namun juga kondisi perekonomian secara keseluruhan.

Sri Mulyani bahkan menceritakan kejatuhan sektor properti di AS karena buruknya pengelolaan kredit perumahan dan berdampak kepada krisis keuangan global 2008-2009.

Pemulihan baru terjadi setelah Bank Sentral AS melakukan Quantitative Easing serta menurunkan suku bunga acuan hingga mendekati nol agar permintaan kembali meningkat.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya untuk mendorong kinerja sektor properti agar tetap tumbuh dan permintaan tidak berkurang terutama dari generasi milenial.

Selama ini, tambah dia, pemerintah juga telah menerbitkan kebijakan fiskal untuk mendukung pertumbuhan sektor properti, salah satunya melalui relaksasi kebijakan perpajakan.

Relaksasi dari pungutan Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), maupun Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), ini diharapkan bisa menggairahkan penjualan properti.

“Pertumbuhan sektor properti harus didukung karena mempunyai multiplayer effect yang tinggi. Oleh karena itu, pemerintah memformulasikan kebijakan fiskal untuk menumbuhkan ekonomi,” katanya.

Dalam kesempatan ini, Menkeu juga menekankan pentingnya para pemangku kepentingan dalam bidang properti untuk aktif dalam revolusi industri 4.0 untuk mengantisipasi cepatnya perubahan teknologi.

Selain itu, sinergi pemerintah dan swasta juga perlu ditingkatkan agar tercipta kerja sama yang lebih produktif terutama untuk mengantisipasi permintaan dari generasi milenial.

Seminar proyeksi properti 2019 merupakan acara yang diselenggarakan Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) untuk membahas berbagai informasi, data, fakta maupun pandangan properti tahun depan.

Terdapat tiga isu utama dalam seminar ini yaitu tren perkembangan properti 2019 dipandang dari peluang, potensi dan tantangan, potensi properti di era Revolusi Industri 4.0, serta isu global terkait pemanfaatan aset dan potensi optimalisasi. (sat)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

FINANSIAL

Penguatan IHSG Dibayangi Sentimen Negatif Eksternal

Published

on

IHSG BEI dibuka menguat 2,16 poin atau 0,04 persen menjadi 6.172,01.

Apakabarnews.com, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (17/12/2018) dibuka menguat tipis karena terpengaruh sentimen negatif eksternal.

IHSG BEI dibuka menguat 2,16 poin atau 0,04 persen menjadi 6.172,01. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 0,79 poin atau 0,08 persen menjadi 987,45.

Kepala Riset Valbury Sekuritas Alfiansyah di Jakarta, Senin (17/12/2018) mengatakan bahwa IHSG bergerak menguat meski tipis ditopang sentimen dari dalam negeri mengenai defisit APBN yang menurun.

“Defisit anggaran pada 2018 diperkirakan berada di kisaran 1,86-1,87 persen. Perkiraan itu lebih rendah dari target yang ditetapkan sebesar 2,19 persen terhadap PDB,” paparnya.

Realisasi anggaran itu, lanjut dia, menunjukan kuatnya penerimaan dari sektor perpajakan dan kinerja belanja pemerintah yang efektif dan efisien.

Kendati demikian, lanjut dia, pergerakan IHSG masih dibatasi sentimen negatif eksternal, terutama mengenai perang dagang, sehingga membuka potensi pembalikan arah IHSG.

“Gencatan tarif dagang AS-China selama 90 hari diperkirakan masih menemui banyak kendala, itu menjadi kekhawatiran investor,” katanya.

Sementara itu terpantau, pergerakan IHSG pada pukul 09.40 WIB berada di area negatif atau melemah sebesar 26,34 poin (0,43 persen) menjadi 6.143,50 poin.

Bursa regional, di antaranya indeks Nikkei menguat 110,08 poin (0,52 persen) ke 21.484,91, indeks Hang Seng melemah 52,89 poin (0,20 persen) ke 26.041,89, dan indeks Strait Times menguat 40,45 poin (1,31 persen) ke posisi 3.117,54. (zub)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending