Connect with us

DIGITAL

WhatsApp akan Batasi Pesan Yang Diteruskan

Published

on

WhatsApp akan menghilangkan tombol meneruskan secara cepat (quick forward button) di dekat pesan media.

Apakabarnews.com, Jakarta – Facebook Inc sedang menguji coba membatasi pesan yang diteruskan, setelah kejadian di India yang menelan korban jiwa akibat pesan berantai yang beredar melalui WhatsApp.

“Kami yakin perubahan-perubahan ini, yang akan terus kami evaluasi, akan membantu WhatsApp tetap menjadi seperti tujuan aplikasi ini dibuat: aplikasi untuk pesan pribadi,” kata WhatsApp di blog mereka.

Saat ini uji coba masih dilakukan di India, belum ada informasi apakah negara lain juga akan mengalami hal yang sama. Di India, pesan yang diteruskan akan dibatasi hanya lima percakapan, baik secara pribadi maupun dalam grup.

Masih di India, seperti diberitakan Reuters, WhatsApp akan menghilangkan tombol meneruskan secara cepat (quick forward button) di dekat pesan media.

India disebut sebagai pengguna salah satu yang banyak meneruskan pesan, foto dan video.

Beberapa waktu lalu, pesan berantai yang beredar melalui WhatsApp menyebabkan massa memukul lebih dari 12 orang yang diduga penculik anak, beberapa di antaranya meninggal.

Pemerintah India meminta WhatsApp turun tangan dalam mengatasi persebaran informasi di dalam platform.

Merespons permintaan India, WhatsApp mengeluarkan fitur label untuk meneruskan pesan agar orang yang menerima pesan tersebut tahu bahwa pengirim mendapatkannya dari orang lain. (ant)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

DIGITAL

Berhenti Cari Tahu Gejala Penyakit Lewat “Googling”

Published

on

Internet memudahkan setiap orang mendapat informasi atau dikenal dengan istilah "googling".

Apakabarnews.com, Jakarta – Internet memudahkan setiap orang mendapat informasi atau dikenal dengan istilah “googling”, termasuk mencari tahu soal gejala penyakit.

Bahkan, kini banyak orang beralih ke “Dr. Google” untuk mendapatkan nasihat medis dibanding berkunjung ke dokter, menurut ahli kesehatan.

Dikutip dari dpa, Selasa (18/12/2018), pada pertemuan kesehatan baru-baru ini di Hannover, Jerman, Martina Wenker dari asosiasi medis negara bagian untuk Lower Saxony (AEKN) mengatakan, “Akses informasi medis yang konstan dari pelbagai tingkat akurasi di internet sangat menganggu bagi banyak pasien.”

Konferensi ini mempertemukan para profesional medis, politisi, pebisnis, dan tokoh masyarakat untuk mendiskusikan digitalisasi dalam perawatan kesehatan.

Wenker menunjuk pada “cyberchondria”, ketakutan tak berdasar tentang penyakit serius setelah meneliti gejala di internet.

Penelitian telah menunjukkan bahwa penelitian sejenis itu memperkuat ketakutan orang-orang yang cenderung hipokondria.

“Kami para dokter harus mengatasi ketakutan pasien ini dengan serius dan memilah informasi yang tepat bagi mereka, yang terbauk dilakukan dalam komunikasi tatap muka antar dokter dan pasien,” katanya.

Menurut penelitian yang dipublikasikan pada awal tahun ini oleh Bertelsmann Stiftung, yayasan swasta Jerman, separuh dari semua pengguna internet Jerman melakukan penelitian daring tentang topik kesehatan setidaknya sebulan sekali — 58 persen sebelum kunjungan dokter dan 62 persen setelah menerima dokter diagnosa.

Lebih dari setengah dari mereka yang disurvei mengatakan bahwa mereka “umumnya atau selalu puas” dengan hasil penelitian, sementara 44 persen mengatakan mereka “kadang-kadang puas.”

“Dalam pandangan kami, kemungkinan, dan manfaat dari internet lebih besar daripada bahaya yang mengintai,” kata Marion Grote-Westrick, yang memimpin penelitian itu, mengatakan kepada dpa, menambahkan dokter harus menyediakan informasi lebih banyak kepada pasien dan ditautkan dengan situs web berbasis sains.

Ia menambahkan, “Kami mendesak bahwa informasi yang dapat dipercaya seperti ini, termasuk video, disimpan dalam file pasien di masa depan.”

Dia mengatakan bahwa bantuan keputusan standar untuk membantu pasien memilih antara alternatif pengobatan juga diperlukan. (ant)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

DIGITAL

Kominfo Blokir Ratusan Tekfin Ilegal

Published

on

Menkominfo, Rudiantara.

Apakabarnews.com, Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Informatika kembali memblokir ratusan aplikasi dan situs perusahaan teknologi finansial (tekfin) yang tidak mengantongi izin dari pemerintah Indonesia.

“Jadi, di luar yang terdaftar, yang berizin, yang resmi, itu ilegal. Kami blok saja. Biar masyarakat tenang,” kata Menkominfo Rudiantara saat ditemui di acara Huawei, Selasa (18/12/2018).

Kominfo selama sepekan terakhir melacak aplikasi dan situs tekfin dengan mesin crawling yang mereka miliki, menjaring 127 aplikasi dan 6 situs dalam pemantauan tersebut.

Kominfo memberikan daftar 133 aplikasi situs dan aplikasi yang terjaring ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk dicek legalitasnya.

Hasilnya, hanya 27 aplikasi dan 3 situs dari total 133 yang terjaring, yang resmi terdaftar di OJK.

Kominfo segera menutup 103 aplikasi dan situs yang ilegal tersebut.

“Langsung kita blok saja, akunnya kita minta tutup,” kata Rudiantara.

Kominfo menyatakan bersikap proaktif dalam menyikapi perusahaan tekfin ilegal yang belakangan ini merugikan konsumen, tidak hanya menunggu laporan dari masyarakat, karena memiliki mesin crawling tersebut.

Daftar perusahaan tekfin yang terdaftar dan mengantongi izin dapat dilihat di situs resmi ojk.go.id, per Desember ini terdapat 78 penyelenggara tekfin yang berizin dan terdaftar di OJK.

Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK Hendrikus Passagi pada Jumat (14/12) lalu menegaskan akan mencabut tanda terdaftar penyelenggara tekfin yang melanggar aturan.

“Siapapun yang bersalah harus mendapatkan tindakan yang jelas. Kalau ada fintech lending kami yang terbukti melakukan pelanggaran, kami tidak ada keraguan untuk mencabut tanda terdaftarnya,” kata Hendrikus.

Pos Pengaduan Korban Pinjaman Online oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) menerima 1.330 aduan dari korban pinjaman online.

LBH Jakarta pada 14 Desember lalu mencatat, semua aduan yang diterima melaporkan jenis pelanggaran hukum pengambilan informasi dan penyebaran data pribadi. Sementara sebanyak 1.145 aduan melaporkan mengenai masalah bunga. (nat)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

DIGITAL

Menkominfo Dorong Rintisan “Unicorn” Mencatatkan Saham di BEI

Published

on

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara.

Apakabarnews.com, Jakarta – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara akan mendorong perusahaan rintisan (startup) yang menyandang status “unicorn” untuk mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Startup yang sudah ‘unicorn’ dan belum sampai ‘decacorn’ kita dorong masuk ke Bursa. Kalau sudah keburu menjadi ‘decacorn’, saya khawatir ekosistemnya yang tidak sanggup,” ujar Rudiantara di sela Peringatan Ulang Tahun ke-30 Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) di Jakarta, Kamis (13/12/2018).

Ia mengemukakan “decacorn” merupakan sebutan untuk perusahaan yang valuasi lebih dari 10 miliar dolar AS. Sementara “unicorn” lebih dari satu miliar dolar AS.

Menkominfo memaparkan terdapat empat perusahaan rintisan di Indonesia yang tingkatnya sudah masuk dalam “unicorn”, yakni Go-Jek, Traveloka, Bukalapak dan Tokopedia.

Rudiantara menyampaikan akan membantu perusahaan rintisan untuk masuk ke pasar modal. Namun demikian, itu tergantung dari masing-masing perusahaan untuk melihat peluang dalam mencari dana.

Sementara itu Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas jasa keuangan (OJK), Hoesen mengatakan perusahaan rintisan di Indonesia dapat memanfaatkan pasar modal melalui mekanisme penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) sebagai sumber pendanaannya.

“Kebijakan di pasar modal sudah ada tinggal dimanfaatkan atau tidak oleh perusahaan, pilihannya ada pada mereka, bisa IPO disini atau di bursa luar,” ujarnya.

Menurut dia, setiap perusahaan juga memiliki strateginya masing-masing dalam menentukan aksi korporasi ke depannya.

“Itu keputusan mereka mau IPO atau tidak, kalau IPO kan ada timing-nya, dan penghitungan nilai terbaiknya,” katanya. (zub)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending