Connect with us

RELATIONSHIP

Waktu Berkualitas Antara Orangtua-Anak Kurangi Kecanduan Gawai

Published

on

Kualitas kebersamaan antara orangtua dan anak harus ditandai dengan adanya interaksi yang responsif.

Apakabarnews.com, Jakarta – Pemerhati anak dari Traditional Games Returns (TGR) Aghnina Wahdini mengatakan kecanduan gawai (gadget) akan berkurang jika orangtua bisa lebih sering menghabiskan waktu berkualitas dengan anaknya.

“Orangtua bisa membuat anak berpaling dari gadget, bukan hanya dengan membelikan mainan jenis lain, tapi bisa juga dengan memberikan `quality time` untuk keluarganya,” ujar Aghnina, yang sekaligus pendiri dan direktur proyek TGR, kepada Antara di Jakarta, Sabtu (13/10/2018).

BACA JUGA : Kurangi Kecanduan Anak pada Gadget, Saint John’s School Gelar Pekan Literasi Media

Ia kemudian menerangkan kualitas kebersamaan antara orangtua dan anak harus ditandai dengan adanya interaksi yang responsif.

Interaksi itu bisa dengan anak didongengi atau sekedar mengobrol, serta mendengarkan tanpa memotong pernyataan anak saat mengungkapkan pendapatnya, tutur Aghnina.

“Ini sering terlupakan. Kebiasaan sekarang kan, orangtua itu kasih gadget agar mereka tidak terganggu saat bekerja dan juga sebagai cara untuk mendiamkan anak. Cara-cara itu harus diubah dan ditinggalkan,” kata dia.

Aghnina tidak menampik bahwa pemberian mainan yang mengasah otak atau edukatif juga bisa menjadi alternatif bagi orangtua yang ingin anaknya tidak ketagihan bermain gawai.

“Bermain puzzle manfaatnya memang baik, tapi anak itu utamanya harus dekat dengan orangtuanya. Kalau sudah dekat, secara otomatis tidak tergantung gadget lagi,” kata dia. (agt)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RELATIONSHIP

Enam Tipe Teman yang Harus Dihindari

Published

on

Pertemanan mempengaruhi perilaku kita, Jika berkumpul dengan orang-orang yang positif, maka kita juga akan mendapatkan energinya.

Apakabarnews.com, Jakarta – Tahun baru tiba, saatnya untuk membuat hal yang lebih baik untuk kemajuan diri, salah satunya bisa dimulai dari lingkungan pertemanan.

Secara tidak langsung, lingkungan pertemanan mempengaruhi perilaku kita. Jika berkumpul dengan orang-orang yang positif, maka kita juga akan mendapatkan energinya. Sebaliknya, bergaul dengan orang-orang negatif, akan membawa dampak buruk pada kebiasaan kita.

Untuk itu, 2019 ini baiknya menghindari orang-orang yang dapat membawa pengaruh buruk pada hidup Anda, seperti enam tipe yang akan dibahas berikut ini menurut Huffpost, Kamis (3/1/2019).

1. Menghilang tiba-tiba

Tipe seperti ini biasanya akan pergi jika sudah menemukan teman baru. Awalnya mereka akan penuh perhatian dan mampu menarik rasa simpati. Namun kemudian, mereka bisa menghilang begitu saja tanpa ada komunikasi.

2. Tidak dewasa

Berteman dengan seseorang yang memiliki sifat kekanak-kanakan atau tidak dewasa memang sangat merepotkan. Biasanya, mereka terus-menerus meminta pertolongan Anda untuk menyelesaikan masalahnya. Selalu ada drama baru yang mereka ciptakan untuk menarik simpati.

3. Narsis

Teman yang narsis cenderung memiliki sifat egois atau memikirkan diri sendiri. Oleh karenanya, lebih baik kita menghindari tipe teman ini.

“Orang-orang yang hanya menerima berpikir bahwa dunia adalah semua tentang mereka. Mereka akan membuat kesal secara emosional. Jangan biarkan mereka ada di ruang dalam hidupmu,” ujar Talia Wagner, seorang terapis pernikahan dan keluarga di Los Angeles.

4. Tukang kritik

Saling bertukar pendapat dan pandangan memang bagus dalam pertemanan. Namun, jika ia terus-menerus mengkritik semua yang Anda pilih, mungkin sudah waktunya untuk mengevaluasi kembali tempat mereka di hidup Anda.

5. Pencari perhatian

Orang yang mencari perhatian biasanya akan mendominasi percakapan dan mendikte semua rencana Anda.

“Mereka merasa tahu apa yang terbaik untuk semua orang dan akan memberitahumu apa itu, meski Anda tidak pernah bertanya. Jika Anda tidak menyukai atau bosan, mereka akan beralih ke orang lain yang akan mendukung kejenakaan mereka,” ujar Becky Whetstone, terapis pernikahan dan keluarga di Little Rock, Arkansas.

6. Penghasut

Dalam hidup, pasti Anda akan menemukan tipe teman yang seperti ini. Jika sedang ada gosip terbaru, Anda pasti mendengarnya dari orang-orang tipe ini. Bahayanya adalah Anda juga bisa jadi bahan gosipnya.

“Biasanya mereka tidak dapat dipercaya dan tidak setia dalam hubungan, dan mereka menunjukkan ini dalam cara-cara kecil yang tak terhitung jumlahnya. Ingatlah bahwa penghasut benar-benar berkembang ketika menciptakan perpecahan, menimbulkan keraguan dan ketidakpastian,” kata Becky. (mar)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

RELATIONSHIP

Mendongeng dan Membaca Nyaring, Apa Bedanya?

Published

on

Bercerita pada anak adalah cara mengembangkan kemampuan otaknya yang sedang berkembang, yakni lewat rangsangan berupa kata-kata.

Apakabarnews.com, Jakarta – Mendongeng dan membaca nyaring adalah aktivitas yang sangat disarankan para ahli untuk orangtua dengan buah hati.

Ada perbedaan mencolok antara mendongeng dan membaca nyaring, kata penerjemah buku “Read Aloud” Rossie Setiawan.

“Mendongeng biasanya tidak menggunakan buku, tetapi membaca nyaring itu memakai buku,” kata Rossie di gelar wicara “Mempererat Ikatan Ibu dan Anak dengan Metode Read Aloud”, Jakarta, Rabu (12/12/2018).

Rossie mengatakan anak mendapatkan dua pengetahuan ketika orangtua membacakan cerita padanya, berupa huruf dan bunyi.

Bercerita pada anak adalah cara mengembangkan kemampuan otaknya yang sedang berkembang, yakni lewat rangsangan berupa kata-kata.

Proses ini juga dapat membangun ketertarikan anak pada buku. Ketika melihat dia dan orangtua bisa bersenang-senang dengan buku, anak lama-kelamaan akan gemar membaca setelah memahami banyak kosa kata.

Sama seperti mendongeng, sebaiknya orangtua menyampaikan cerita secara ekspresif. Mainkan intonasi agar cerita tidak membosankan, bila perlu gunakan beberapa suara yang berbeda untuk setiap karakter.

“Disarankan gunakan tanda baca yang ada, jadi anak tahu bagaimana intonasi bertanya ketika ada tanda tanya,harus berhenti sejenak ketika ada tanda koma dan harus berhenti saat bertemu tanda titik. Ini adalah salah satu cara mengajari anak cara membaca,” tutur dia.

Manfaat lain yang tak kalah berharga adalah mempererat hubungan dengan anak. Mendengar suara orangtua, melihat ekspresi anak ketika terpesona dengan cerita, kontak fisik selama proses bercerita adalah proses memperkuat ikatan antara orangtua dan anak.

Membacakan cerita secara nyaring untuk anak bisa dilakukan kapan pun, yang pasti seluruh fokus harus dicurahkan untuk kegiatan tersebut sehingga tercipta waktu berkualitas bersama anak.

Tidak perlu waktu terlalu lama dalam bercerita, selama orangtua bisa berkomitmen menjadikan hal itu sebagai rutinitas. Orangtua yang banyak menghabiskan waktu untuk bekerja di luar rumah juga bisa mempraktikannya.

“Sepuluh menit sehari, tapi rutin,” kata Rossie soal durasi bercerita. (nan)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

RELATIONSHIP

Jika Bercerai, Orangtua Harus Minta Maaf pada Anak

Published

on

Setelah perceraian terjadi, orangtua harus saling bahu membahu dalam membesarkan anak.

Apakabarnews.com, Jakarta – Keputusan perpisahan atau perceraian dapat mempengaruhi perkembangan sang anak. Yang pertama-pertamharus dilakukan oleh orangtua yang mengalami perceraian adalah meminta maaf kepada anak.

“Itu perlu ada penyelesaian yang konstruktif dan rendah hati. Pertama orangtua harus berani meminta maaf saat terjadi perpisahan. Ayah yang salah, bunda yang salah, kami minta maaf,” kata Seto Mulyadi atau Kak Seto, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia saat berbincang di Jakarta, Rabu (28/11/2018).

BACA JUGA : Pentingnya Peran Kakek Nenek Ketika Orangtua Bercerai

“Ayah minta maaf. Ini terpaksa ayah sama bunda tidak bisa sama-sama lagi. Kenapa? Harus diberikan dengan bahasa anak. Karena kalau sama-sama ayah sama bunda berantem. Kamu sedih kan melihatnya,” jelas Kak Seto menambahkan.

Setelah perceraian terjadi, orangtua harus saling bahu membahu dalam membesarkan anak. Jangan sampai anak kehilangan salah satu sosok orangtuanya.

“Yang penting anak tidak kehilangan kedua-duanya. Oke mungkin hari ini bersama bunda, mungkin saat ini juga bisa bersama ayah dan jangan ada penutupan akses,” ujar Kak Seto.

“Karena sekarang ini terjadi segitiga maut. Pertama, segitiga maut itu adalah perceraian. Kedua adalah perebutan hak asuh, ketiga adalah penutupan akses. Ini pelanggaran hak anak saat ini,” lanjutnya.

Kak Seto mengatakan sebisa mungkin perpisahan orangtua harus dilakukan dengan baik. Jika tidak, anak akan mengalami trauma hingga dewasa.

“Bisa menjadi benci kepada orangtuanya, bisa menjadi benci terhadap perkawinan. Ada anak yang saya temui, dia bilang pokoknya seumur hidup tidak akan menikah. Sehingga harusnya orangtua tetap rukun tetap bersama anak sehingga jika ada pasangan lagi harus akrab dengan anak anaknya,” terang Kak Seto. (mar)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending