Connect with us

FINANSIAL

Citibank Akui Sulit Penuhi Target Kredit UMKM

Published

on

Jajaran Direksi Citibank Indonesia mamparkan kinerja kuartal III 2018, (8/11/2018).

Apakabarnews.com, Jakarta – Citibank Indonesia mengakui masih kesulitan untuk memenuhi target rasio penyaluran kredit UMKM yang diminta regulator Bank Indonesia sebesar 20 persen tahun ini.

Chief Executive Officer (CEO) Citibank N.A Indonesia Batara Sianturi di Jakarta, Kamis (8/11/2018), merinci hingga kuartal III 2018 atau akhir September 2018, porsi kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dari total kredit yang disalurkan perusahaan baru 8,9 persen atau masih jauh dari 20 persen.

“Memang ada keterbatasan untuk penyaluran kredit di sektor itu,” kata Batara.

Padahal, secara keseluruhan pertumbuhan kredit bank yang berpusat di New York, Amerika Serikat itu mencapai 22 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp48,5 triliun. Penopang penyaluran kredit Citibank adalah layanan kredit institusional (institutional banking) di sektor keuangan, pertambangan dan manufaktur.

“Memang agak sulit untuk 20 persen. Di samping itu, pembanding kami yakni kredit secara keseluruhan makin besar yakni tumbuh 22 persen, jadi rasio (UMKM) makin kecil,” ujar dia.

Batara tidak memungkiri rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) di kredit UMKM juga masih tinggi yakni 4,88 persen secara gross. Angka itu naik tipis dibandingkan akhir Desember 2017 yang sebesar 4,71 persen.

Bank Indonesia sejak 2015 menerapkan regulasi rasio penyaluran kredit UMKM agar perbankan dapat menopang perkembangan UMKM. Peraturan itu tercantum di PBI No 17/12/PBI/2015 itu yang diantaranya mengatur bank harus dapat menyalurkan kredit UMKM sebesar minimum 20 persen dari total portofolio kreditnya di 2018.

BI mendorong perbankan asing untuk turut mendongkrak penyaluran kredit UMKM dengan skema “linkage” (jaringan kredit) bersama perbankan domestik. (iap)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

FINANSIAL

BI Prediksi Januari 2019 Inflasi 0,5 Persen

Published

on

Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Apakabarnews.com, Jakarta – Indeks harga konsumen selama Januari 2019 diperkirakan inflasi 0,5 persen secara bulanan dipicu kenaikan harga beberapa komoditas pangan, ditambah peningkatan harga perhiasan, kata Gubernur BI Perry Warjiyo berdasarkan Survei Pemantauan Harga hingga pekan ketiga Januari 2019.

Jika perkiraan inflasi di Januari 2019 itu benar, maka inflasi tahunan di bulan pertama tahun ini adalah 3,0 persen (yoy).

Perry merinci penyumbang inflasi adalah kenaikan harga bawang merah, daging ayam ras, dan tomat sayur serta emas dan perhiasan. Namun, selain komoditas tersebut, pergerakan beberapa harga koomoditas pangan lainnya masih stabil dan dalam kategori rendah.

Di awal tahun ini, Bank Sentral masih melihat kondisi pasokan pangan terjaga sehingga bisa mengurangi potensi kenaikan harga pangan.

“Kita tidak melihat adanya suatu kenaikan harga, memang ada beberapa kenaikan harga seperti biasanya lah komoditas bawang merah, daging ayam ras, tomat sayur maupun juga perhiasan,” ujar dia.

Bila dibandingkan dengan perkembangan harga sepanjang Desember 2018, inflasi Januari 2019 masih lebih rendah. Pada Desember 2018, inflasi tercatat sebesar 0,62 persen.

Dengan perkembangan inflasi hingga Januari 2019, Perry meyakini pada tahun ini, inflasi berada pada titik tengah sasaran kisaran 3,5 plus minus satu persen.

“Dengan berkoordinasi dengan pusat dan daerah, inflasi bisa di bawah 3,5 persen,” kata Perry. (iap)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

FINANSIAL

Kata Menkeu, Pertumbuhan Ekonomi 2019 Masih Hadapi Risiko

Published

on

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.

Apakabarnews.com, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan pertumbuhan ekonomi pada 2019 masih menghadapi sejumlah risiko karena masih tingginya ketidakpastian global.

“Momentum yang terjadi di 2018 akan tetap terjaga, tapi asumsi di APBN 5,3 persen akan berat tercapai dari sisi demand and supply, jadi ada downside risk,” ujar Sri Mulyani dalam seminar outlook perekonomian Indonesia 2019 di Jakarta, Selasa (8/1/2019).

Sri Mulyani menjelaskan upaya menjaga pengelolaan APBN agar tidak menjadi sumber ketidakpastian baru dan menjadi insentif untuk mendorong kinerja pembangunan harus dilakukan sebagai antisipasi kondisi global.

Untuk menjaga pengelolaan APBN, hal yang dapat dilakukan adalah dengan mengawal asumsi ekonomi makro yang rentan terhadap situasi eksternal dan berpengaruh kepada penerimaan negara.

Salah satu asumsi makro tersebut adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang ditetapkan dalam APBN 2019 sebesar Rp15.000, padahal saat ini terdapat tren penguatan rupiah.

Kondisi ini terjadi akibat pengaruh pelaku pasar global yang merespon positif dari pernyataan pimpinan Bank Sentral AS (The Fed) atas rencana normalisasi kebijakan moneter.

“Kenaikan dari suku bunga The Fed tidak se-ekstrim yang dibayangkan, maka akan ada perubahan, dan nilai tukar ada ‘adjustment’ lebih terapresiasi,” kata Sri Mulyani.

Selain itu, tambah dia, asumsi makro harga mentah Indonesia yang ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel, diperkirakan sepanjang tahun rata-rata tidak akan setinggi yang diproyeksikan.

“Saat ini AS menjadi produsen surplus migas, sehingga permintaan minyak berpotensi menurun, dan harga minyak mungkin tidak setinggi di awal 2018,” ujarnya.

Sri Mulyani memastikan pengelolaan asumsi makro yang disertai upaya menjaga pencapaian yang telah berjalan dengan baik di 2018, seperti rendahnya laju inflasi, dapat membuat kinerja ekonomi makin kuat.

Dengan demikian, kehati-hatian tersebut dapat menciptakan persepsi positif bagi Indonesia dan mengundang investasi yang bermanfaat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Dengan daya tarik Indonesia yang lebih baik, maka terjadi ‘capital inflow’. Ini sesuatu yang kita jaga terus menerus, melalui koordinasi pusat dan daerah, swasta serta ‘stakeholder’,” kata Sri Mulyani. (sat)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

FINANSIAL

Jokowi dan Prabowo Punya Tantangan Genjot Investasi

Published

on

Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Berly Martawardaya.

Apakabarnews.com, Jakarta – Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Berly Martawardaya, menilai baik pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno punya tantangan yang sama dalam menggenjot investasi jika terpilih nanti.

Kedua pasangan calon presiden-wakil presiden dalam Pilpres 2019 itu menurut dia punya tantangan berat meyakinkan investor berinvestasi di Indonesia.

“Keduanya sama tantangannya untuk meyakinkan pelaku ekonomi dan investor jika terpilih nanti,” katanya, saat dihubungi, di Jakarta, Senin (7/1/2019).

Meski Jokowi dinilai memiliki citra positif di pasar internasional, Martawardaya menilai posisi petahana itu tidaklah aman.

Demikian pula posisi Prabowo karena arah kebijakan ekonomi pemerintahan nantinya akan menjadi hal utama yang akan disorot investor dan pelaku usaha.

“Maka penting ketika nanti siapa pun yang terpilih harus segera menentukan arah prioritas ekonomi dan timnya,” kata dosen Program Magister Kebijakan dan Perencanaan Kebijakan Publik di Universitas Indonesia itu.

Memasuki tahun politik, dia memperkirakan investasi akan sedikit melambat pada awal tahun karena banyak investor yang akan menunggu kondisi setelah Pemilu 2019.

Ia memprediksi laju investasi akan mulai membaik paling cepat akhir 2019 menunggu hasil Pemilu. (aij)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending