Connect with us

HIBURAN

“Keluarga Cemara” Tayang Perdana di Jogja-Netpac Asian Film Festival

Published

on

Jumpa Pers film "Keluarga Cemara" yang akan tayang di bioskop umum mulai tanggal 3 Januari 2019.

Apakabarnews.com, Jakarta  – Film “Keluarga Cemara” akan ditayangkan perdana pada perhelatan Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) yang diadakan 27 November – 4 Desember 2018.

“Kita diberikan kesempatan sangat berharga untuk film ini bisa dinikmati lebih dulu di Jogja-Netpac. Ini pertama teman-teman bisa menikmatinya dan kami sangat bangga bisa membagikan,” ucap Anggia Kharisma, Produser film “Keluarga Cemara” dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (13/11/2018).

BACA JUGA : Jogja-Netpac Asian Film Festival Angkat Tema “Disruption”

Film “Keluarga Cemara” disutradarai oleh Yandy Laurens yang diadaptasi dari cerita sinetron populer di Indonesia yang pernah tayang tahun 1996 lalu.

Film ini menceritakan mengenai kehidupan keluarga Abah (Ringgo Agus Rahman) dan Emak (Nirina Zubir) yang semula baik-baik saja, namun terpaksa berubah karena tertimpa masalah.

Hal itu membuat anak-anak mereka Euis (Zara JKT48) dan Ara (Widuri Puteri), harus pindah sekolah menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Film “Keluarga Cemara” mengangkat nilai-nilai yang lekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Semoga film ini bisa mengisi kekosongan akan film keluarga dan bisa menjadi alternatif menyenangkan bagi kita bersama keluarga kembali ke bioskop mulai awal tahun 2019,” kata Anggia Kharisma.

Film produksi Visinema Pictures ini akan tayang di bioskop umum mulai tanggal 3 Januari 2019. (yog)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HIBURAN

“DreadOut”, Hantu VS Ponsel Pintar

Published

on

'DreadOut', game horror bikinan studio asal Bandung, diangkat menjadi film layar lebar melalui dukungan dari distributor game Lyto.

Apakabarnews.com, Jakarta – Bagi generasi melek Internet, mungkin lebih baik ketinggalan dompet ketimbang lupa membawa ponsel pintar. Fungsinya sudah bergeser dari sekadar alat komunikasi menjadi benda praktis multifungsi, dari sumber hiburan hingga pengganti kamera.

Ponsel pintar bahkan bisa jadi senjata melawan makhluk halus, setidaknya dalam dunia game indie horor “DreadOut” yang diadaptasi ke layar lebar oleh sutradara Kimo Stamboel.

Meski di luar negeri sudah ada sederet film yang diangkat dari game sukses —sebut saja Tomb Raider, Resident Evil dan Silent Hill—, praktik ini belum lazim terjadi di Tanah Air.

Adaptasi game buatan pengembang lokal ke layar lebar ini bukan cuma bisa jadi hal yang dinantikan pencinta game “DreadOut”, tapi para penggemar film horor yang penasaran melihat bagaimana Kimo Stamboel meracik game jadi tayangan menegangkan.

Kimo yang biasanya berduet dengan Timo Tjahjanto — Mo Brothers — membuat film-film sadis penuh darah seperti Macabre, “Killers”, “Headshot” kali ini beraksi solo.

Prekuel game

Cerita yang disajikan dalam film merupakan prekuel dari game “Dreadout”, menceritakan awal mula Linda sang protagonis dalam game bisa berinteraksi dengan makhluk supranatural.

Banyak karakter baru yang tak ada di dalam game dimunculkan di film ini sebagai penunjang cerita. Linda (Caitlin Halderman) si protagonis di film ini berpetualang di apartemen kosong bersama teman-teman satu sekolahnya, yakni Erik (Jefri Nichol), Beni (Irsyadillah), Jessica (Marsha Aruan), Dian (Susan Sameh) dan Alex (Ciccio Manassero).

Film “Dreadout” menceritakan tentang sekelompok siswa SMA yang berharap mendapatkan popularitas di dunia maya karena ingin mengalahkan temannya yang lebih ternama di dunia maya. Caranya? Menayangkan video berpetualang ke tempat seram secara live lewat media sosial.

Fenomena ini memang terasa dekat dengan budaya anak muda zaman sekarang yang tak asing dengan idola-idola yang mengemuka berkat media sosial, entah itu YouTuber atau selebgram.

Poster game Dread Out, buatan pengembang lokal asal Bandung, Digital Happiness. (ANTARA News/digitalhappiness.net)

Pada bagian ini, “DreadOut” sedikit mengingatkan pada film horor Korea Selatan “Gonjiam: Haunted Asylum” di mana beberapa YouTuber memberanikan diri menjelajahi rumah sakit kosong dan angker demi mencapai jumlah penonton yang fantastis di Internet.

Film ini menyuguhkan sudut pandang dari kamera yang dibawa oleh tiap karakter, memberi sensasi menonton film dokumenter.

Bedanya, sudut pandang “DreadOut” tidak hanya ditampilkan dari kamera yang dibawa oleh karakter. Plot “mencari popularitas di dunia maya” hanyalah pengantar menuju keseruan film yang sebenarnya, menghadapi hantu-hantu Indonesia yang ternyata bisa dihadapi dengan ponsel pintar.

Linda dan kawan-kawan harus melawan rasa takut ketika diserbu oleh pocong bercelurit serta hantu terkuat berupa perempuan berkebaya merah (Rima Melati Adams).

Adegan intens menjadi pembuka “DreadOut”, memperlihatkan kisah mengerikan di apartemen yang bertahun-tahun kemudian jadi tempat idaman remaja untuk membuat video uji nyali, berharap keberanian mereka bakal terbayar dengan jumlah penonton yang meroket.

Game “DreadOut” dibuat oleh studio pengembang asal Bandung, wajar bila budaya Sunda yang kental menghiasi game tersebut.

Kimo menghormati akar budaya dari “DreadOut” yang diaplikasikannya lewat dialog-dialog makhluk halus, logat Sunda para tokoh (meski kerap timbul tenggelam), sampai musik tradisional yang sukses menambah keseraman dari makhluk alam astral karena kehororan itu terasa lebih dekat, serupa seperti budaya Jawa yang membuat bulu kuduk meremang di film “Keramat” (2009).

Efek-efek komputer grafis melebur dengan baik dalam berbagai adegan. Dari sisi kebrutalan, dosis di film yang pengambilan gambarnya berlangsung di Jakarta, Ciawi dan Cibodas itu jauh lebih sedikit dibandingkan film-film Mo Brothers lain yang biasanya penuh percikan darah.

Nyaris tidak ada visual yang membuat mata ingin terpejam, walau bukan berarti tidak ada sama sekali. Kimo memang “menahan diri” agar film ini bisa dinikmati penonton dari kalangan yang lebih luas, hingga akhirnya lolos sensor untuk penonton 17 tahun ke atas.

Sosok hantu di “DreadOut” lebih terasa seperti monster yang harus ditaklukkan, bukan penampakan yang bikin jantung terasa ingin copot di saat-saat tak terduga.

“DreadOut” memang disertai adegan-adegan berbahaya tanpa peran pengganti yang membuat penonton penasaran bagaimana cara Linda dan teman-temannya bertahan hidup di tengah serbuan setan lokal.

Selipan humor ada di sana-sini, termasuk di situasi genting hingga adegan pamungkas yang mungkin takkan mudah dilupakan. Jangan buru-buru beranjak dari tempat duduk setelah film usai karena ada adegan tambahan yang bisa jadi petunjuk soal dunia “DreadOut” kelak.

Keluar dari bioskop, mungkin Anda jadi penasaran ingin memainkan game-nya atau buru-buru mengisi daya baterai handphone dan menyadari pentingnya membawa power bank.

“DreadOut” mulai tayang pada 3 Januari 2019. (ant)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HIBURAN

Aquaman Masih Berjaya di Puncak Box Office

Published

on

Film Aquaman meraih 51,5 juta dolar AS atau Rp745,4 miliar untuk pekan kedua dan mengalahkan film DC Comics "Justice League".

Apakabarnews.com, Jakarta – “Aquaman” masih setia di puncak box office Amerika Utara pada pekan kedua perilisannya. Posisi ini mengalahkan “Mary Poppins Returns” yang berada di urutan kedua.

Film superhero yang dibintangi Jason Momoa, Amber Heard dan Nicole Kidman ini dengan meraih 51,5 juta dolar AS atau Rp745,4 miliar untuk pekan kedua dan mengalahkan film DC Comics “Justice League” dengan pendapatan total di seluruh dunia sebesar 657,9 juta dolar AS atau Rp9,52 triliun demikian dilansir Aceshowbiz, Rabu (2/1/2019).

Sedangkan untuk jumlah total di Amerika Utara, “Aquaman” mencapai 188,7 juta dolar AS atau Rp2,73 triliun. Sementara untuk pendapatan globalnya telah melewati angka 748,8 juta dolar AS atau Rp10,8 triliun.

Sementara itu, “Mary Poppins Returns” yang berada di peringkat dua box office mendapat 28 juta dolar AS atau Rp405,3 miliar serta 100 juta dolar AS atau Rp1,4 triliun untuk total pendapatan di Amerika Serikat.

“Bumblebee” yang merupakan spin-off dari “Transformers” hanya berada di urutan ketiga box office dengan pendapatan 20,5 juta dolar AS atau Rp296,7 miliar. Sedangkan “Spider-Man: Into the Spider-Verse” berada di urutan keempat dengan perolehan 18,6 juta dolar AS atau Rp269,2 miliar.

Berikut adalah 10 film teratas box office pekan ini :

1. “Aquaman”
2. “Mary Poppins Returns”
3. “Bumblebee”
4. “Spider-Man: Into the Spider-Verse”
5. “The Mule”
6. “Vice”
7. “Holmes & Watson”
8. “Second Act”
9. “Ralph Breaks the Internet”
10. “The Grinch”. (mar)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HIBURAN

10 Resolusi Paling Populer 2019

Published

on

Dengan rutin berolahraga, seseorang akan mendapatkan tubuh yang segar tidak mudah lelah dan juga bisa menambah semangat.

Apakabarnews.com, Jakarta – Pergantian tahun selalu dibarengi dengan resolusi baru. Harapannya untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik.

Para peneliti mengatakan bahwa sekitar 60 persen dari kita membuat resolusi tahun baru, tetapi hanya sekitar 8 persen yang berhasil mencapainya. Terlepas dari apakah kita mencapai resolusi sebelumnya atau tidak, sebagian besar dari kita terus maju dan membuat resolusi baru dan berharap yang terbaik.

Menurut survei yang dilakukan terhadap 2000 orang, menabung menjadi salah satu dari lima resolusi teratas dan juga yang paling sering gagal. Bahkan, kegagalan terjadi sebelum 31 Januari.

Berikut ini adalah 10 resolusi Tahun Baru yang paling sering diucapkan, menurut Inc, pada Rabu (2/1/2019).

1. Diet atau makan lebih sehat (71 persen)

2. Olahraga lebih banyak (65 persen)

3. Menurunkan berat badan (54 persen)

4. Hemat (32 persen)

5. Pelajari keterampilan atau hobi baru (26 persen)

6. Berhenti merokok (21 persen)

7. Lebih banyak membaca (17 persen)

8. Mencari pekerjaan baru (16 persen)

9. Mengurangi alkohol (15 persen)

10. Menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga dan teman (13 persen). (nan)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending