Connect with us

OPINI

Aneh, Pak Prabowo Mau Shalat Jumat Kok Dilarang?

Published

on

Calon Presiden RI 2019, Prabowo Subianto.

Oleh : Nasruddin Djoha

JUJUR sekali ini saya benar-benar gak paham dengan kelakuan pendukung kubu petahana. Garuk-garuk kepala saja gak cukup. Kayaknya garuk-garuk tanah juga tetap tidak cukup.

Press rilis yang dibuat oleh Ketua Takmir Masjid Agung Semarang KH Hanif Ismail pagi ini (14/2/2019) terpaksa bikin saya jedot-jedotin kepala, biar paham. Jangan-jangan jaringan di otak saya lagi korslet, sehingga gagal paham.

Kok bisa Kyai Hanif menolak Pak Prabowo yang berencana salat Jumat di masjid Kauman, Semarang. Sejak kapan ada orang mau salat Jumat harus lapor?

Salat kan urusan ibadah kepada sang khalik. Lha ini kok harus bawa-bawa nama KPU dan Bawaslu?

Sejauh informasi yang saya baca di media, Pak Prabowo saat ini berada di Jawa Tengah. Foto dan videonya digendong-gendong pendukungnya di Purbalingga viral di medsos. Tapi tidak di media mainstream.

Hari Jumat (15/2/2019) rencananya akan menggelar Pidato Kebangsaan di sebuah hotel di Semarang. Wajar dong kalau harus salat Jumat? Lha kalau tidak boleh salat Jumat di masjid, harus salat dimana?

Apa harus salat di alun-alun Simpang Lima?

Barangkali Kyai Hanif lupa atau salah orang. Menduga Pak Prabowo itu sama dengan Pak Jokowi. Kalau salat harus ada kamera.

Saya setuju! Kalau ada jamaah salat dan kemudian ada kamera dimana-mana. Itu sangat mengganggu. Apalagi sampai posisi salat para jamaah harus diatur-atur.

Kalau masalahnya itu kan tinggal bikin perjanjian dengan tim Pak Prabowo. Kalau perlu tandatangan di atas materai enam rebu perak. “ Kalau salat jangan ada kamera. Jangan sampai atur sana, atur sini. Atur bloking kamera, memindah-mindahkan posisi para jamaah, jangan sampai menghalangi kamera. Jangan pasang kamera dari posisi imam.” Kan gitu.

Tim Prabowo juga pasti ngerti. Pasti paham dan manut. Mereka pasti tau diri. Mereka tidak boleh menyamai Pak Jokowi yang setiap salat harus menghadap kamera.

Pak Prabowo, sejauh keterangan guru ngajinya Ustad Sambo, tidak pernah mau dipotret, setiap salat. Tapi karena para pendukung petahana selalu mempertanyakan dimana Pak Prabowo salat Jumat. Sampai-sampai #Prabowosalatjumatdimana jadi trending topic, Ustad Sambo sampai nekad foto candid.

Itu hanya sebagai bentuk tabayun. Jangan sampai fitnah terus berkembang. Bukan pamer. Tapi itupun digoreng lagi. Katanya bukan salat Jumat. Tapi seminar. Prabowo tukang bohong. Tukang hoax.

Salat itu kan urusan personal. Hubungan dengan sang khalik. Kalau dipamer-pamerkan jadi riya’. Hangus semua amalannya. Pak Prabowo tau banget itu.

Beliau juga tau diri dan tau tatacara salat yang benar. Tau bahwa untuk jadi imam itu harus dipilih orang yang paling fasih bacaannya. Kalau ada imam yang tidak fasih bacaannya, salatnya bisa batal. Kalau ada orang yang tidak fasih bacaannya, tetap memaksa jadi imam. Nekad namanya.

Sekali lagi sikap Kyai Hanif ini sangat sulit saya mengerti. Menghalangi orang salat Jumat itu sebuah bentuk kebathilan dan dzalim.

Kyai Hanif pasti paham. Doa orang yang didzalimi apalagi sedang dalam perjalanan (safar) itu langsung diijabah oleh Allah SWT. Tidak ada hijab. Langsung dikabulkan. Lha ini dobel mustajab!

Istighfar pak Kyai. Jangan hanya karena beda pilihan politik, sampai harus berbuat dzalim. Gusti Allah mboten sare!

Nasruddin Djoha, adalah wartawan senior.


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

OPINI

BUKAN SOAL GBHN, TAPI SOAL MORALITAS DAN KAPASITAS

Published

on

Moralitas sangat krusial. Itulah yang membuat proses pemilihan pemimpin dan rekrutmen politik menjadi relatif bersih di mesin demokrasi Barat.

PERDEBATAN hangat tentang kesinambungan pembangunan, tidak menyentuh persoalan fundamental yang kita hadapi. Banyak yang berpendapat ketiadaan GBHN (Garis Besar Haluan Negara) membuat penjabaran kekuasaan pemerintahan menjadi amburadul, akhir-akhir ini. Yang lainnya mengatakan, berbagai klausul UUD 1945 juga menjadi masalah.

Sesungguhnya, bukan itu yang menjadi persoalan. Bukan GBHN. Bukan juga isi UUD 1945.

Masalah besarnya adalah moralitas dan kapasitas pemimpin. Kapasitas politisi. Itu yang menjadi problem utama. Inilah yang absen. Inilah yang menyebabkan politik Indonesia menjadi kacau.

Sebaik apa pun GBHN dan UUD, tidak ada artinya kalau para politisi dan pimpinan negara tidak punya moralitas dan kapasitas. Sehebat apa pun GBHN, di tangan orang yang ‘brainless’ tetap saja tidak ada gunanya. Begitu pula UUD.

Jadi, presiden tanpa GBHN bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah kalian tak punya moralitas. Kalian curangi proses pilpres sehingga dimenangkanlah orang yang tidak berkapasitas. Yang tidak bisa apa-apa.

Kalian atur lembaga pelaksana pemilu agar capres kalian menang. Inilah yang menjadi masalah mendasar. Capres yang bagus kualitasnya kalian rekayasa menjadi kalah. Padahal, jelas-jelas capres yang dikalahkan itu punya kemampuan dan dipilih oleh mayoritas rakyat.

Kalian singkirkan capres yang memiliki visi pembangunan jangka panjang. Yang paham tentang kesinambungan. Kalian paksakan capres yang berambisi jangka pendek. Yang tidak paham meletakkan dasar-dasar pembangunan yang bervisi jauh ke depan. Sekarang, kalian salahkan ketiadaan GBHN.

Capres berkapasitas yang dipilih mayoritas, kalian paksa kalah. Berantakanlah. Kesapakatan mayoritas rakyat, kalian batalkan dengan kekuasaan kalian. Rakyat mengatakan capres ini mampu mendefinisikan pembangunan yang berkelanjutan. Tapi kalian intervensi semua lembaga pemilu, lembaga peradilan, dan lembaga kekuasaan lainnya agar capres pilihan mayoritas itu tidak menang.

Akibatnya sangat fatal. Negara ini terombang-ambing. Rajut sosial compang-camping. Perekonomian dan pembangunan morat-marit. Presiden kalian tebirit-birit. Dia menyerahkan banyak urusan kepada beberapa orang saja. Pembangunan infrasturktur dan pengembangan ekonomi dilaksanakan acak-acakan, tanpa pedoman.

Inilah pilihan kalian, ahli pencitraan. Tidak ada kapasitas. Dan berada di bawah kendali koalisi. Koalisi yang hanya memikirkan dana parpol dari pemilu ke pemilu, dari pilkada ke pilkada. Kalau presiden memiliki kapasitas, dia tak akan mengutamakan pencitraan untuk ditayangankan di televisi.

Tak ada moral, nol kapasitas. Dia tidak tahu bahwa dia tak mampu. Tapi kalian paksakan terus. Tanpa moral, kalian paksakan kemenangannya. Dan tanpa moral juga, dia terima kemenangan syubhat itu.

Tanpa kapasitas, dia jalankan jabatan yang direbut secara brutal itu. Sekarang, kalian mulai ragu. Pembangunan tanpa visi. Tidak ada arah. Tak jelas apa yang ingin dicapai dalam 20-25 tahun ke depan. Dia tak punya bayangan. Asyik dengan angan-angannya sendiri.

Itulah akibat ketiadaan moralitas dan kapasitas. Tidak ada rasa malu ketika rakyat memberikan aba-aba “sudah cukuplah Anda”. Inilah yang disebut tak bermoral. Setelah dipaksakan terus, pengelolaan negara menjadi amburadul. Inilah pertanda nol-kapasitas.

Moralitas sangat krusial. Itulah yang membuat proses pemilihan pemimpin dan rekrutmen politik menjadi relatif bersih di mesin demokrasi Barat. Pencurangan suara adalah dosa besar bagi mereka. Orang yang melakukan itu akan hilang dari peredaran. Karir mereka selesai.

Moralitas politisi di negeri lain didukung oleh moralitas dua pilar demokrasi lainnya. Yaitu, media massa dan sistem peradilan. Di sana, tidak akan pernah terjadi media massa mendiamkan para politisi bejat. Meskipun media tsb adalah pendukung ideologi partai si politisi bejat itu. Di sini, media massa mainstream terang-terangan melindungi para politisi busuk yang mereka sukai.

Begitu juga sistem peradilan mereka. Tidak bisa dicampuri oleh siapa pun. Tidak akan pernah ada kontak antara pemegang kekuasaan dengan para hakim. Apalagi intimidasi.

Di negeri ini, kelihaian menipu atau mencurangi pemilihan dianggap sebagai kehebatan. Para politisi tak merasa risih ketika kekalahan mereka, dengan segala cara, mereka balikkan menjadi kemenangan. Inilah yang sekarang mencelakakan Indonesia.

Pada usia 70 tahun tempohari, seharusnya Indonesia memiliki pemimpin yang cerdas, kuat, dan jujur. Yang lahir dari proses seleksi demokratis tanpa rekayasa dan intervensi. Dia lahir dari pergelutan kapasitas di bawah sorotan tajam media massa.

Kalau pemimpin punya moralitas, dia pasti menghindarkan perbuatan korup. Dan jika dia punya kapasitas, dia akan mampu dan mengerti menjalankan pemerintahan. Dengan sendirinya, dia paham tentang konsep pembangunan yang berkesinambungan. Dia tahu tujuannya dan paham cara mencapainya. Tanpa GBHN.

Jadi, sekali lagi, semua ini bukan soal GBHN. Melainkan moralitas dan kapasitas. Kalau kedua aspek ini eksis, insyaAllah Indonesia akan memiliki pemimpin yang hebat dari segala sisi.

[Oleh: Asyari Usman. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia]


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

OPINI

BUKAN MERDEKA BILA…

Published

on

MERDEKA adalah kesadaran untuk mengembalikan jiwa yang “hilang” dari diri kita.
                                                                                                                                     BUKAN merdeka bila memilih terpenjara pikiran dan perbuatan; bukan merdeka pula bila bernafas tanpa bersyukur; merdeka pun bukan bernyawa tapi tidak benar-benar hidup.... Merdeka itu berarti tetap membaca; membaca kehidupan ... 

MERDEKA ATAOE MATI !
Merdeka, bukanlah sebongkah batubata yang menjadi rumah hari ini
Merdeka, bukanlah sebulir nasi yang kita makan hari ini
Merdeka, bukan pula selembar uang yang ada di kantong hari ini
Merdeka, tak lagi raga tapi jiwa

MERDEKA, memang kata yang sakral bagi kita, bangsa Indonesia
MERDEKA, adalah kata yang menjadi energi kita untuk terus berjuang

Lalu, apa makna MERDEKA hari ini ?

Manusia yang MERDEKA adalah manusia yang terbebas dari rasa iri, dengki, srei, dahwen, panasten dan patiopen. Sehingga menjadi manusia yang selalu setiti, nastiti, surti dan hati-hati”. Manusia yang MERDEKA bukan manusia yang ‘hanya’ mampu bersikap BAIK, juga bukan manusia yang ‘hanya’ mampu bersikap BIJAKSANA. Tapi manusia yang mampu bersikap BAJIKSANA. Begtu kata Ir. Soekarno, Presiden ke-1 dan pendiri bangsa Indonesia,

Tanggal 17 Agustus 2019 ini, 74 tahun sudah Indonesia MERDEKA.

Usia yang tidak lagi muda sebagai bangsa. 74 tahun, adalah usia sepuh. Sangat matang. Usia yang tidak hanya harus bijaksana, tapi juga bajiksana. Apa artinya terlahir sebagai bangsa yang merdeka bila gagal untuk memerdekakan diri sendiri; bila gagal mendidik diri sendiri.

Sekali lagi, apa makna MERDEKA itu ?

MERDEKA bukanlah kebencian, bukan pula hujatan. MERDEKA sama sekali bukan mentalitas korban, apalagi menyalahkan keadaan. MERDEKA sekali lagi bukan korupsi yang kian merajalela. Bukan pula ekonomi yang makin kuat. MERDEKA bukan arogansi untuk meraih kekuasaan. MERDEKA, sungguh tak membutuhkan “panggung politik” apalagi berturut kebaikan tanpa aksi nyata. Merdeka, apanya ?

MERDEKA adalah kesadaran untuk mengembalikan jiwa yang “hilang” dari diri kita. Apa yang sudah “hilang” dari bangsa sebesar Indonesia? MERDEKA adalah ketika kita dapat mengembalikan KEJUJURAN, TANGGUNG JAWAB, dan KEPEDULIAN yang telah hilang, yang makin langka di negeri ini.

JUJUR untuk berbuat yang lebih baik sebagai rakyat; sebagai pemimpin bangsa. TANGGUNG JAWAB terhadap rakyat yang masih miskin atau belum mampu hidup layak. PEDULI kepada sesama rakyat yang lain untuk saling membantu, saling asih dan asuh. MERDEKA, bila kita mampu mengembalikan jiwa yang “hilang” dari bangsa ini. Merdeka untuk memerdekakan…

MERDEKA bukanlah bebas tanpa batas. Bukan pula bertindak semau gue. Kita MERDEKA karena kita bisa lebih JUJUR, lebih TANGGUNG JAWAB, dan lebih PEDULI dalam segala bidang kehidupan yang dekat dengan kita. MERDEKA itu harus mau berbuat, mau berbakti dalam bentuk aksi nyata sekecil apapun. Itu saja cukup disebut merdeka.

Merdeka, bukan pikiran atau perasaan orang-orang yang merasa kekuarangan. Sehingga gagal berbuat untuk orang banyak. Merdeka itu keberanian untuk bertindak, berbagi, dan memberdayakan orang lain. Bukan cuma narasi atau petuah belaka. Sekecil apapun itu.

Bangsa ini dan rakyatnya sudah terlalu sibuk membangun raga dan fisik. Di saat yang sama, kita lupa membangun jiwa atau batin. Bukankah Kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian HANYA ada pada JIWA, bukan pada RAGA. MERDEKA-kan JIWA kita jauh lebih baik dari MERDEKA-kan RAGA kita. MERDEKA bukan RAGA tapi JIWA, begitulah seharusnya.

JIWA yang MERDEKA adalah JIWA yang NURUTI KAREPING RAHSA = JIWA yang TUNDUK KEPADA SUKMA SEJATI bukan JIWA yang NURUTI RAHSANING KAREP = JIWA yang DITAKLUKKAN OLEH RAGA.

MERDEKA JIWA itu sangat penting di zaman now. Karena JIWA adalah tempat hidupnya RAGA yang diikat oleh RASA. MERDEKA JIWA menjadikan kita sadar bahwa “hidup bukanlah segala-galanya bagi kita”. Kata pepatah Jawa “urip iku paribasane mung mampir ngombe”; hidup itu ibarat numpang minum. MERDEKA JIWA lebih memikirkan akhir setelah hidup. Memikirkan sikap yang dilandasi KEBAIKAN dan KEPEDULIAN. Karena di dunia, kita ada untuk sebentar dan sementara saja.

Maka, sekali lagi.

Bukan merdeka bila memilih terpenjara pikiran dan perbuatan; bukan merdeka pula bila bernafas tanpa bersyukur; merdeka pun bukan bernyawa tapi tidak benar-benar hidup. Merdeka itu berarti tetap membaca; membaca kehidupan …

Inilah momentum bangsa Indonesia untuk kembali ke JIWA, bukan ke RAGA. Bukan MERDEKA bila … !! #74TahunRI #DirgahayuRI.

[Oleh: Syarifudin Yunus. Penulis adalah Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka]


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

OPINI

TERIMA KASIH TUHAN, TERIMA KASIH RAJA

Published

on

PANGGILAN haji itu rahasia Tuhan. Misteri ilahi, kata orang. Sudah daftar, mati. Gak sempat pergi haji. Kasus begini banyak. Apalagi daftar tunggu haji bisa 22 tahun. Kedepan akan makin lama lagi. Bisa 50 tahun. Tapi masih lumayan. Setidaknya mereka sudah daftar. Ada di catatan malaikat.

Ada orang yang hanya punya keinginan. Duit banyak, ingin haji, tapi gak daftar-daftar. Lalu mati. Nah, ini baru masalah. Punya duit, tapi gak ada ekskusi. Wacana terus. Mirip seperti para politisi, suka berwacana.

Ada juga haji tanpa daftar. Tahu-tahu ada yang panggil dan memberangkatkannya. Gratis lagi. Namanya juga nasib lagi baik. Tentu tak ada yang kebetulan. Semua ada sekenario takdirnya. Tercatat di Lauhil Mahfuz.

Saya termasuk yang bernasib baik itu. Dipanggil kedutaan Arab Saudi. Berangkat haji, hadiah dari raja, katanya. Padahal saya belum pernah kenalan sama raja. Jangan tanya biaya, karena semuanya ditanggung. Masih dapat hp plus kartu dan pulsanya. Enak bukan?

Ada 1300 undangan dari seluruh dunia. Termasuk kepala Polisi Selandia Baru,seorang wanita yang sempat populer namanya setelah aksi pembantain di hari Jumat beberapa bulan lalu. Semua tamu dijamu full service di satu hotel oleh kerajaan Saudi. Jangan tanya fasilitasnya, super VVIP.

Baru sampai di Makkah, di depan hotel disambut oleh sejumlah anak-anak berseragam menyuguhi air zam zam. Dua langkah masuk hotel, disambut Copi Arab. Qahwah…qahwah… katanya. Dua langkah lagi, minuman juz buah ditawarkan.

Kalau makan dan minum itu biasa. Hanya cara menyuguhkan, itu yang membedakan. Disini ada aspek nilai dan peradaban. Jika anda ingin melihat kelembutan orang Arab dan kehangatan tatakramanya, jadilah tamu (dhuyuf) raja. Soal kelembutan dan kehangatan, ini perkara langka bagi mereka yang pernah punya pengalaman umroh atau haji. Pengalaman bergaul dengan masyarakat Arab.

Hotel yang disiapkan tentu bintang lima. Tak beda dengan haji plus. Kecuali service dan menunya. Sudahlah, kalau soal ini, orang Batak bilang: Muantabs.

Tamu dari Indonesia 19 orang. Ada dari MUI, pimpinan ormas, rektor, wartawan, bahkan perwira polisi. Ada pemilih Jokowi, pemilih Prabowo, bahkan pemilih dua-duanya. Golput dong? Ada yang beristri satu, beristri dua, dan bahkan beristri empat. Ada juga yang takut istri. Ups… Lalu, apa hubungannya? Hehehe. Ini menunjukkan tak ada diskriminasi identitas dan profesi. Sebab, berhaji itu pesan utamanya adalah persamaan dan kesetaraan semua umat manusia. Nah, ini baru nyambung.

Saya iseng foto tenda yang di Arafah. Kok ada karpetnya? Tanya teman saya. Seorang pembimbing haji plus plus. Karpet merah dikombinasi dengan warna hijau yang menghiasi dengan indah halaman tenda ternyata tak pernah ada di maktab haji plus plus. Sejumlah kursi yang ditata layaknya pemandangan di lobby hotel bintang lima memberi sentuhan kenyamanan sendiri saat wukuf. Tapi, ini penting untuk diperhatikan: Spirit wukuf tak boleh hilang. Yang paling utama adalah bagaimana menjiwai wukuf sebagaimana para Nabi melakukan.

Maktab di Mina paling depan. Dekat sekali dengan tempat lempar jumroh. Tempat tidurnya nyaman. Temen saya yang pernah haji plus seharga USD 32.000 bilang: tak semewah ini.

Jamaraat itu tempat buang setan, kata banyak orang. Historisnya Nabi Ibrahim, Ismail dan Sayyidah Hajar menghajar setan. Setelah pulang dari Jamaraat mestinya tak lagi tergoda setan. Kalau pulang haji masih terus korupsi, berarti jamaraat bukan jadi tempat ia buang setan, tapi…

Di Mina, temen kami kehilangan celana. Lapor ke panitia. Langsung diganti. Begitulah SOP nya, kata panitia. Apapun barang yang hilang akan diganti. Asal gak hilang akal dan nyawa aja.

Sampai di Madinah disambut sejumlah remaja berseragam yang melantunkan syair: ” Thala Al Badru alaina minsaniyyatil wada’… Teruskan sendiri. Air mata saya tak terbendung. Jatuh satu satu… Cengeng! Teringat Nabi. Ingat Rasul. Ingat Habibullah. Ingat Muhammad ketika datang dan disambut penduduk Madinah. Rasanya kami tak layak dapat sambutan itu. Itu sambutan untuk Nabi, bukan untuk kami. Saya seka air mata, agar tak kelihatan seperti orang punya masalah. Padahal aslinya memang punya masalah. Masalah spiritual.

Sehari di Madinah, kemudian besoknya berziarah ke Masjid Quba’, ke Jabal Uhud dan ke percetakan Al-Qur’an. Percetakan terbesar. Nomor duanya di Turki. Setahun lalu saya sempat ke Turki, lihat percetakan disana.

Soal ziarah di Madinnah, semua travel punya program. Bedanya, kami dikawal polisi. Lengkap dengan pistolnya. Sempurna sudah sebagai tamu kerajaan. Terima kasih Tuhan, terima kasih Raja Salman.

[Oleh: Tony Rosyid. Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa]


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending