Connect with us

HEALTH

Apakah Aman Operasi Bariatrik untuk Atasi Obesitas?

Published

on

Teknik bedah bariatrik bisa menghilangkan 55 hingga 85 persen berat badan dengan pengurangan IMT 20-40 kg/m2.

Apakabarnews.com, Jakarta – Bedah bariatrik menjadi salah satu jalan keluar untuk mengatasi masalah kesehatan obesitas. Namun, tak semua penderita obesitas bisa menempuh prosedur ini.

Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestive RS Pondok Indah, Dr. dr. Peter Ian Limas, Sp. B-KBD mengatakan hanya mereka yang memiliki indeks massa tubuh (IMT) di bawah 27,5 yang bisa menjalani bedah bariatrik.

“Karena biaya. Bukan berarti tanpa risiko. Kalau hanya mau menghilangkan 10 kilogram dengan biaya sekian, enggak pantas. Makanya lebih ke arah berat badan yang lebih tinggi,” kata dia di Jakarta, Kamis (14/3/2019).

Ada empat jenis bedah bariatrik, dua di antaranya umum dilakukan di Indonesia, yakni sleeve gastrectomy dan gastric bypass. Kedua tindakan ini sama-sama memiliki hasil akhir penurunan berat badan akibat berubahnya bentuk organ pencernaan pasien sehingga mempengaruhi pola makan dan penyerapan makanan di dalam tubuh.

Sleeve gastrectomy merupakan tindakan pemotongan lambung pasien kurang lebih sebanyak 85 persen sehingga ukuran lambung jadi lebih kecil.

Sementara gastric bypass adalah tindakan penggabungan bagian atas lambung dengan usus kecil sehingga makanan tidak lagi melewati lambung dan kalori makanan yang diserap sedikit.

Kisah Naufal

Salah satu pasien yang pernah menjalani sleeve gastrectomy adalah Muhammad Naufal Abidllah (23). Pria yang semula memiliki bobot 239 kilogram pada Desember 2018 kini berat badannya susut 36 kilogram.

“Seperti yoyo, ketika sudah berat (badannya) ikut diet lalu turun, naik lagi. Sampai puncaknya 239 kilogram. Saya dari kecil setiap bulan naik (bobot) satu kilogram. Sakit saja naik setengah kilogram. Waktu kelas 6 SD berat saya 110 kilogram,” kata Naufal.

Menyoal kasus Naufal, Peter mengatakan bahwa pilihan sleeve gastrectomy bukannya gastric bypass karena ada kemungkinan sang pasien membutuhkan tindakan lebih lanjut.

“Pada prinsipnya pengobatan harus kerjasama dengan pasien. Ini bukan telur emas, enggak mau diet, olahraga bisa selesai. Tidak begitu,” kata Peter.

Dia berharap melalui teknik sleeve gastrectomy berat badan Naufal bisa turun menjadi 80 kilogram.

Menurut Peter, teknik bedah bariatrik bisa menghilangkan 55 hingga 85 persen berat badan dengan pengurangan IMT 20-40 kg/m2.

Lalu, apakah semua penderita obesitas bisa menjalani kedua teknik bedah ini? Peter mengungkapkan sleeve gastrectomy tidak bisa dilakukan pada mereka yang mengalami panas di ulu hati.

Sementara gastric bypass tak disarankan bagi penderita obesitas yang tak bisa menahan diri mengonsumsi makanan manis dalam jumlah banyak.

“Karena terlalu banyak makanan manis sekaligus ada efek dumping yakni karbohidrat cepat masuk ke usus halus, insulin banyak sehingga overwhelming. Gula darah drop. Terasa sakit perut, mules,” kata Peter. (lws)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HEALTH

Kalsium Hingga Olahraga Pastikan Tulang Tetap Sehat Selama Ramadhan

Published

on

Latihan seperti squat atau sit-up juga bisa dilakukan untuk membuat tubuh lebih bugar.

Apakabarnews.com, Jakarta – Berpuasa bukan berarti tidak memikirkan kesehatan, justru bulan suci ini harus dimanfaatkan untuk menjaga tubuh lebih bugar.

Selain menjaga agar tubuh terhidrasi serta menyantap makanan sumber energi untuk beraktivitas sepanjang hari, orang yang berpuasa harus mempraktikkan hal-hal yang menjaga kesehatan tulang.

Dilansir Khaleej Times, dokter konsultan bedah ortopedi Bhuvaneshwar Machani memberi kiat sederhana untuk memastikan tulang tetap kuat dan sehat selama Ramadhan.

1. Pastikan asupan kalsium cukup

Orang dewasa butuh 1000 hingga 1200 miligram kalsium per hari yang dibutuhkan untuk tulang. Santaplah produk susu, misalnya yogurt dengan beri dan kacang untuk sahur sebagai makanan ringan namun mengenyangkan.

2. Pilih makanan sehat

Lapar mata bisa membuat kita memilih makanan lezat dibandingkan makanan sehat. Jus dan minuman soda yang membuat air liur ingin menetes bisa diganti dengan minuman berbahan dasar yogurt atau milkshake tanpa gula.

Ketimbang memenuhi piring dengan nasi atau lasagna, coba tambah porsi sayur mayur seperti wortel, kacang, brokoli dan bayam.

3. Paparan matahari

Vitamin D penting untuk menjaga optimalnya kesehatan tulang dan sebagian besar diserap tubuh lewat paparan sinar matahari. Kurangnya paparan sinar matahari dapat membuat tulang melemah, mengakibatkan osteoporosis dan osteo artritis.

4. Olahraga

Setelah buka puasa, pastikan Anda sudah mengonsumsi cukup cairan sebagai bekal berolahraga ringan. Coba praktikkan zumba atau video aerobik, atau jalan kaki 20 menit di treadmill. Latihan seperti squat atau sit-up juga bisa dilakukan untuk membuat tubuh lebih bugar. (nan)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HEALTH

Inspirasi Menu Sahur dan Berbuka Puasa di Pertengahan Ramadhan

Published

on

Meskipun makan sahur tidak wajib dilakukan namun hal ini sangat penting dan dianjurkan baik oleh agama maupun ilmu kesehatan karena ada begitu banyak manfaat di dalamnya.

Apakabarnews.com, Jakarta – Ingin mencoba menu berbeda saat sahur di jelang pertengahan Ramadhan? Coba simak saran berikut seperti dilansir Gulfnews :

Sahur (jumlah berbeda dari satu orang ke orang lain)

Satu cangkir susu rendah lemak ditambah dua sendok makan gandum, satu potong buah seperti pisang, segenggam campuran buah-buahan kering dan kacang-kacangan tawar.

Pilihan lainnya, roti gandum hangat, potongan keju rendah lemak atau dua butir telur dan (secangkir atau dua cangkir) sayuran, secangkir yogurt rendah lemak atau susu dan sepotong buah.

Berbuka puasa

Satu atau dua buah kurma ditambah satu cangkir air dan semangkuk sayur atau sup lentil.

Makan malam

1,5 cangkir salad ditambah setengah cangkir nasi merah atau roti gandum atau ubi jalar dan 120 gram ikan atau ayam panggang, setengah cangkir quinoa matang, 120 gram ayam panggang. Yogurt rendah lemak juga bisa ditambahkan.

Camilan

Buah adalah camilan terbaik dengan porsi yang berbeda untuk setiap orang.

Makanan manis dua hingga tiga jam setelah berbuka puasa dan secukupnya. Sebaiknya batasi konsumsi makanan manis dua kali seminggu. Puding susu manis rendah lemak dan cokelat hitam bisa menjadi pilihan. (lws)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HEALTH

Penyebab Berat Badan Bisa Naik Usai Berpuasa

Published

on

Mengonsumsi lebih banyak makanan berlemak setelah puasa seharian adalah alasan utama lain kenaikan berat badan selama Ramadhan.

Apakabarnews.com, Jakarta – Bagi Anda yang kerap mengeluhkan berat badan yang melonjak naik usai berpuasa di Bulan Ramadhan, sebaiknya perhatikan asupan makanan berlemak Anda.

Ahli gizi dari Health Victory Nutrition di Australia, Katherine Baqleh mengatakan kecenderungan mengonsumsi lebih banyak makanan berlemak setelah puasa seharian adalah alasan utama lain kenaikan berat badan selama Ramadhan.

“Orang-orang mungkin ingin mengompensasi apa yang mereka lewatkan pada hari itu, sehingga mereka mungkin akhirnya berfokus pada makanan tinggi lemak atau kalori tinggi,” kata dia seperti dilansir ABC News.

Belum lagi jika Anda mengonsumsi makanan ini di malam hari, kurang beraktivitas fisik, menyebabkan lebih banyak kalori yang tubuh simpan.

“Kekhawatiran terbesar adalah ketika mereka mengonsumsi makanan ini di malam hari: orang-orang kurang aktif sehingga lebih banyak kalori yang dikonsumsi disimpan,” tutur dia.

Baqleh mengatakan konsumsi kalori yang lebih tinggi menyebabkan gula darah dan kolesterol yang lebih tinggi. Akibat lainnya, penurunan kualitas tidur, yang mendorong penyimpanan lemak melalui pelepasan hormon kortisol.

Di sisi lain, ahli gizi klinis dari Prime Hospital di Dubai, Sakina Mustansir, seperti dilansir Gulfnews, menyarankan Anda menjaga keseimbangan nutrisi agar tetap berenergi, sehat dan menjaga berat badan tetap terkendali.

Sebaiknya, hindari makan karbohidrat olahan, karena mereka meningkatkan insulin yang menyebabkan kelaparan dan penambahan berat badan.

Selain itu, Anda disarankan mengonsumsi daging tanpa lemak, ikan atau ayam untuk menghindari kehilangan massa otot. (lws)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending