Connect with us

HEALTH

Mengapa Tubuh Pasien Kanker Bisa Sangat Kurus?

Published

on

Pada pasien kanker penurunan berat badan bahkan bisa tidak disadari lima persen atau lebih dalam enam bulan.

Apakabarnews.com, Bogor – Malanutrisi atau ketidakseimbangan nutrisi kerap menjadi masalah yang pasien kanker alami sehingga bisa terlihat dari tubuh mereka yang sangat kurus.

Medical Department Kalbe Farma dr Dedyanto Henky Saputra, M.Gizi mengatakan, sel kanker menyebabkan peradangan, sementara metabolisme tubuh tinggi dan berdampak pada kebutuhan energi yang tinggi.

Di sisi lain, sitokin tubuh menekan nafsu makan pasien sehingga menyulitkan tubuh mendapatkan asupan yang dibutuhkan.

“Akibatnya tubuh memecah protein dan lemak dari sumber energi cadangan. Pasien akan sangat kurus karena otot hilang dan lemak habis,” ujar dia dalam seminar media di kawasan Rancamaya, Bogor, Selasa (8/10/2019) sore.

Lebih lanjut, pada pasien kanker penurunan berat badan bahkan bisa tidak disadari lima persen atau lebih dalam enam bulan.

“Terutama disertai penurunan massa otot,” kata Dedy.

Di sisi lain, ada faktor terapi yang memiliki efek samping berupa mual, ditambah faktor psikis seperti depresi.

Kebutuhan nutrisi pasien

Pasien kanker perlu terpenuhi asupan nutisinya, antara lain untuk mencegah dan memperbaiki defisiensi zat gizi, membantu pasien mentoleransi terapi, meminimalkan efek samping dan komplikasi terkait nutrisi.

Selain itu, nutrisi berperan untuk membantu mempertahankan berat badan dan kondisi fit, mencegah kerusakan jaringan dan membantu pembentukan jaringan serta melawan infeksi.

Lalu, berapa kebutuhan nutrisi pasien kanker? Mereka membutuhkan kalori 30-35 kkal/kg/BB/hari, protein1,2-2 gram/kg/BB/hari bahkan sampai 2,5 gram/kg/BB/hari. (lws)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DIGITAL

Menkominfo Prediksi Unicorn Selanjutnya dari Health-tech

Published

on

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara.

Adilmakmur, Jakarta – Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara memprediksi perusahaan rintisan teknologi atau startup bidang kesehatan berpotensi besar menjadi unicorn selanjutnya.

Sebab, menurut Rudiantara, anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk bidang kesehatan dalam APBN 2020 lebih dari Rp100 triliun, bahkan kemungkinan mencapai Rp120 triliun.

“Kalau bisa dapat 5 persen saja dari situ, itu kan sudah hampir Rp7-8 triliun GMV, dengan itu potensi untuk menjadi unicornnya lebih cepat,” ujar Rudiantara saat menghadiri kerjasama startup “Halodoc” dengan BPJS Kesehatan di Jakarta, Kamis.

“Karena di Undang-Undang kita 5 persen APBN itu harus dibelanjakan untuk kesehatan, pasti banyak yang bisa di-improve, pasti banyak cara proses yang bisa diperbaiki,” lanjut dia.

Lebih lanjut, selain bidang kesehatan, Rudiantara juga melihat potensi besar bagi startup bidang pendidikan untuk menjadi unicorn. Sebab, dana yang dikucurkan pemerintah untuk bidang tersebut juga tidak sedikit.

“Edu-tech itu begini, satu tahun pemerintah saja belanja 500 triliun lebih, belum lagi swasta,” kata Rudiantara.

Rudiantara berharap dalam lima tahun ke depan setidaknya ada dua edu-tech yang menjadi unicorn di Indonesia, bahkan salah satunya menjadi decacorn.

Lebih dari itu, Rudiantara memprediksi tahun depan Indonesia akan memiliki empat hingga lima unicorn baru.

“Tahun ini lima sudah pasti, kita berharap satu lagi hingga akhir tahun, ada enam, kalau empat ya berarti ada 10 sampai akhir tahun 2020,” ujar Rudiantara.

Indonesia saat ini telah memiliki lima startup yang memiliki valuasi sedikitnya 1 miliar dolar AS, atau disebut unicorn, yakni Gojek, Traveloka, Tokopedia, Bukalapak dan OVO. Sementara itu, Gojek saat ini telah telah memiliki valuasi sedikitnya 10 miliar dolar AS, atau telah menjadi decacorn. (arm)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HEALTH

Ingin Langsing dengan “Diet K-Pop”, Amankah?

Published

on

Diet IU dilakukan minimum tiga hari, dengan pola makan harian yang terdiri dari konsumsi satu apel untuk sarapan, dua ubi untuk makan siang, dan segelas susu protein untuk makan malam.

Apakabarnews.com, Jakarta – Banyak kaum perempuan mengikuti pola makan artis-artis Korean Pop (K-Pop) karena mendambakan bentuk tubuh langsing seperti mereka. Salah satu jenis “diet K-Pop” yang viral dan banyak dilakukan adalah metode “diet IU”.

Diet IU dilakukan minimum tiga hari, dengan pola makan harian yang terdiri dari konsumsi satu apel untuk sarapan, dua ubi untuk makan siang, dan segelas susu protein untuk makan malam.

“Ya sah-sah saja kalau mau mencoba diet itu, tidak masalah asalkan pelakunya memiliki tubuh yang sehat dan tidak memiliki penyakit tertentu,” ujar dokter spesialis gizi klinik dari Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre (MRCCC) Siloam Hospital Jakarta, dr Inge Permadhi SpGK, ketika dihubungi di Jakarta beberapa waktu lalu.

Diet seperti ini dikatakan Inge memang cepat dalam menurunkan berat badan, karena jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh per hari tidak sampai 500 kilo kalori.

“Sementara perempuan dewasa rata-rata mengkonsumsi minimum 1.500 hingga 3.000 kilo kalori per hari,” jelas Inge.

Menurut Inge, diet IU masih memungkinkan bila dilakukan dalam kurun waktu tiga hari. Namun dapat membahayakan kesehatan bila dilakukan dalam jangka waktu lama atau terlalu sering.

“Efek jangka pendek yang paling mudah dilihat adalah badan pelaku pasti lemas mau pingsan karena kurang asupan gizi, otak juga jadi lebih lamban dalam berpikir, dan pelaku bisa mengalami mood swing,” ujar Inge.

Inge menjelaskan kondisi tersebut terjadi karena kurangnya zat nutrisi mikro dan makro yang diterima oleh tubuh, sementara tubuh manusia harus mendapatkan nutrisi yang cukup untuk bertahan hidup.

“Diet yang benar itu adalah mengurangi asupan kalori disamping meningkatkan aktifitas fisik (olahraga), sehingga massa lemak berkurang namun tidak mengurangi massa otot, justru harus menambah massa otot,” kata Inge.

Lee Ji-eun atau yang dikenal dengan sebutan IU, adalah aktris asal Korea Selatan yang mempopulerkan pola makan ini. Dia menjalani pola makan ini setiap hendak pentas atau untuk keperluan syuting saja.

Selain diet IU, diet yang dipopulerkan oleh artis K-Pop lainnya adalah “diet Wendy Red Velvet”. Wendy yang merupakan vokalis utama dari kelompok vokal Red Velvet, hanya mengkonsumsi sebutir apel dan minum jus selada untuk sarapan, serta jus labu untuk makan siang (tanpa makan malam) sebagaimana dikutip dari AsiaOne.

Wendy juga mencoba detoks sari lemon, hanya makan setengah cangkir nasi di pagi hari, dan berusaha untuk tidak makan malam. (mar)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HEALTH

Kenali Penanganan dan Deteksi Dini Kanker Payudara

Published

on

Faktor risiko kanker payudara tak semata internal atau mutasi gen, tetapi juga faktor lingkungan yang salah satunya adalah kepadatan payudara.

Apakabarnews.com, Bogor – Sebagian perempuan mungkin tidak bisa mencegah terkena kanker payudara salah satunya karena mewarisi mutasi BRCA1 seperti selebritas Angelina Jolie, tapi mereka dapat mendeteksi untuk penanganan.

Kepala Laboratorium Kalgen Innolab Andi Utama dalam sebuah seminar media di Bogor, beberapa waktu lalu, menegaskan sebagian perempuan juga akan meneruskan mutasi kepada anak-anaknya dengan persentase 50-85 persen, selain risiko terkena kanker payudara pada diri sendiri juga meningkat.

Pada perempuan yang berisiko tinggi terkena kanker payudara, ada sejumlah pilihan penanganan dini demi mencegah kanker memasuki stadium lanjut.

Salah satunya bedah profilaksis, yakni mastektomi profilaksis bilateral yang diklaim bisa menurunkan risiko di antara karier dengan varian patogenik sekitar 89,5-100 persen.

Menurut Andi, mastektomi menurunkan risiko sekitar 90 persen setelah rerata follow up 6,4 persen.

Dalam kesempatan yang sama, Medical Department Kalbe Hastarita Lawrenti mengatakan pengangkatan benjolan atau terapi bedah mungkin dilakukan jika kanker masih stadium awal. Terapi itu masih menjadi dasar terapi kanker yang juga bisa digunakan untuk diagnosis.

Terapi lainnya adalah radiasi untuk mengecilkan tumor dan membunuh sel kanker, kemoterapi yang pemberian obatnya berdasarkan luas permukaan tubuh, serta terapi target dan imunoterapi.

Faktor risiko di luar gen

Di sisi lain, para perempuan yang tidak memiliki riwayat keluarga terkena kanker payudara atau mutasi BRCA1 bisa menjalani pemeriksaan BRCA1 dan 2 yang juga untuk memprediksi risiko.

Jika hasil pemeriksaan negatif, pemeriksaan rutin payudara sendiri (SADARI) tetap harus dilakukan setiap bulan.

Selain itu, lakukan pemeriksaan payudara secara klinis (SADANIS) satu atau dua tahun sekali mulai usia 25 tahun. Hal lainnya, pemeriksaan mamografi dan MRI setiap tahun mulai usia 25 tahun.

Hal lainnya yang bisa dilakukan, pemeriksaan biomarker atau biomolekul yang mengandung informasi yang diperlukan manusia untuk hidup dan berkembang (DNA, mRNA dan protein). Pemeriksaan itu disebut HER2.

HER2 selain sebagai prediktor risiko, juga bisa digunakan untuk memprediksi obat yang tepat dan pengawasan. Pemeriksaan perlu dilakukan di laboratorium yang memenuhi syarat kualifikasi.

Ahli onkologi medik Aru W. Sudoyo mengatakan faktor risiko kanker payudara tak semata internal atau mutasi gen, tetapi juga faktor lingkungan yang salah satunya adalah kepadatan payudara.

“Semakin padat, sel-sel lebih banyak,” kata Aru.

Selain itu, menunda kehamilan atau bahkan tidak mau hamil juga menjadi faktor risiko berikutnya. Peneliti kanker dari Kalgen Innolab Ahmad Utomo menuturkan perempuan, yang tidak hamil dan melahirkan, sel di payudaranya tidak pernah mengalami apoptosis atau kematian massal sel.

Sel-sel tubuh bisa terpapar radikal bebas termasuk di payudara. Sel semakin banyak ketika seorang perempuan hamil, termasuk sel yang mengalami mutasi.

Setelah selesai menyusui, secara alami terjadi pengecilan sel di payudara karena terjadi pembersihan massal dan menyebabkan kematian sel atau apoptosis.

“Kalau tidak hamil, apoptosis tidak terjadi. Gen termutasi tetap hidup. Kalau enggak mau punya anak, tabungan mutasi banyak,” tutur Ahmad. (lws)


Media Apa Kabar menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redapakabarnews@gmail.com, dan redaksi@apakabarnews.com, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending