Oleh: Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa
APAKABARNEWS.COM – Banyak orang yang ketika jadi tersangka, lalu buat ancaman mau bongkar-bongkar. Faktanya? Ini tidak pernah terjadi. Ancaman hanya tinggal ancaman.
Publik lagi-lagi kena prank. Untuk kesekian ratus kali. Ternyata, ancaman tidak lebih dari ekspresi emosional belaka. Tidak lebih dari itu. Ah, lagu lama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Apakah pengakuan Guntur Romli dan Conie bahwa Hasto membuat video disertai sejumlah dokumen tentang kejahatan di era rezim Jokowi itu adalah ekspresi kemarahan belaka?
Bisa jadi. Apakah ini akan mengulang kembali preseden “prank” terhadap publik? Bisa jadi juga.
Faktanya, sampai hari ini “video” itu hanya pengakuan. Adanya dokumen itu hanya sebatas klaim.
Lagu lama ! Terus diputar dan diulang-ulang. Kebiasaan elit politik Indonesia. Merasa banyak tahu dan banyak bukti atas kejahatan orang lain.
Baca Juga:
Casio Luncurkan Jam Tangan Mekanis Berbobot Ringan dengan Tampilan Waktu yang Mudah Dibaca
Penerjemah dan Insan Media dari Tiongkok dan Berbagai Negara Bahas Penggerak Baru Pembangunan Yantai
Jiahui Buka Pusat Terapi Sel Internasional, Perluas Akses Pengobatan CAR-T secara Global
Jadi tersangka, ancam mau bongkar-bongkar. Kenyataannya? Gak pernah ada.
Pubik paham bahwa hukum di Indonesia itu fleksibel. Bisa dinego. Anda punya uang, hukumannya ringan. Meski ratusan triliun uang negara yang anda curi, aman.
Kalau jadi tersangka, hukumannya ringan. Kasus Harvey Moeis adalah contohnya. Tapi, jika anda miskin, jangan berbuat salah. Hukuman bagi orang miskin jauh lebih berat. Waspadalah !
Publik percaya Hasto tahu banyak praktek kejahatan di era Jokowi. Hasto bagian dari lingkaran kekuasaan.
Baca Juga:
Envision Energy Hadirkan Sistem Energi Baru Berbasis AI untuk Industri Tambang dan Pengolahan Logam
Andrea Van Diemen, Pamerkan Karya Mixed Media; Memadukan Corak Indonesia dan Nuansa Alam Australia
Setiap elit yang berkuasa “tahu sama tahu” atas kejahatan masing-masing. Gak ada kejahatan elit yang dilakukan sendirian.
Mereka melakukannya secara berjama’ah. Tapi, siapa yang bernasib sial, itu urusan personal.
Apakah seseorang yang bernasib sial alias jadi tersangka bisa tarik orang lain? Tidak semudah itu. Semua punya jurus masing-masing untuk menutupi kejahatannya.
Setelah beberapa pengakuan Guntur Romli dan Conie terkait video dan dokumen Hasto, tidak juga muncul. Ini akan menambah tingkat ketidakpercayaan publik terhadap elit.
Trust publik memang semakin hilang seiring “drama elit” yang gemar “ngeprank” rakyat. Calon penguasa “ngeprang” dengan janji-janji politik.
Jadi penguasa “ngeprang” dengan program yang dikemas dengan kata-kata manis.
Baca Juga:
Unit Usaha Syariah OCBC Perluas Akses Pengelolaan Kekayaan Berbasis Syariah dari Emas Hingga Wakaf
Setelah jadi tersangka “ngeprank” lagi dengan bongkar-bongkar. Jangan sampai bangsa ini dijuluki “bangsa ngeprang”.
Apakah video Hasto akan menjadi bagian dari “deretan prank” di negeri ini? Kita tidak tahu. Apakah anda tetap akan menunggu video itu? Terserah !
Semua orang membicarakah video itu. Entah ada atau tidak. Jangan sampai anda kena “prank”, sementara ada pihak-pihak yang sedang bernego sambil minum kopi hangat di saat langit sedang menangis.***







