Ancaman Resesi Ekonomi Global Semakin Nyata, Seharusnya Indonesia Jangan Lengah

- Pewarta

Selasa, 1 November 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. Perekonomian dunia sedang mengalami penurunan. (Pixabay/Geralt)

Ilustrasi. Perekonomian dunia sedang mengalami penurunan. (Pixabay/Geralt)

APAKABARNEWS.C0M – Dana Moneter Internasional (IMF) memasukkan Indonesia ke dalam daftar 10 negara dengan ekonomi terbesar dunia dengan urutan di posisi ke-7 diatas Inggris dan Perancis.

Dengan mengacu kepada tingkat  Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang mengacu Purchasing Power Parity (PPP). Indonesia mencatatkan PDB sebesar USD 4,02 triliun di 2022.

Hal ini masih perlu dipertanyakan apakah karena PDB Indonesia yang naik ataukah karena negara-negara seperti Inggris dan Prancis ekonominya menurun.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akibat inflasi yang sedang tinggi-tingginya, jadi informasi ini tentunya belum layak disikapi secara eforia.

Pada kenyataannya Rupiah semakin melemah. Awal pekan ini ditutup di level Rp. 15.597, turun 43 poin dari perdagangan sebelumnya di Rp. 15.554. BPS pun mencatat inflasi bulan Oktober 2022 mencapai 5,71%.

Suku bunga semakin naik. Harga beraspun saat ini merangkak naik. Sedikit demi sedikit indikasi menuju resesi pun semakin terasa.

Yang menjadi persoalan adalah pemerintah belum menjelaskan program-program yang akan dilakukan secara rinci dalam mengatasi resesi yang akan datang.

Terutama dalam upaya memperkuat ketahanan pangan dan energi.

Upaya ketahanan pangan seperti program Food Estate yang digadang-gadang dilakukan pun masih belum jelas pencapaiannya sudah sejauh mana hasilnya

Malah yang terjadi ratusan lahan food estate yang terbengkalai di Desa Mulya Sari, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah sebagaimana yang diberitakan media 10 Oktober 2022 lalu.

Hal ini tentu bukan informasi yang bisa menggembirakan rakyat. Kekhawatiran akan semakin menjadi jika capaian-capaian program ketahanan pangan tidak jelas hasilnya.

Juga program ketahanan energi. Langkah apa yang akan diambil pun masih belum jelas informasinya bagi publik.

Tentunya publik pun berhak untuk tahu sehingga publik bisa memberikan kontribusi pemikiran jika program-program tersebut menjadi bahan diskursus.

Jangan sampai terus tergantung kepada energi import yang tentunya akan membuat bangsa ini selalu terombang-ambing oleh fluktuasi harga dan terjebak dengan narasi subsidi yang membuat APBN jebol.

Oleh: Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute. ***

Klik Google News untuk mengetahui aneka berita dan informasi dari editor Apakabarnews.com, semoga bermanfaat

Berita Terkait

Mengapa Rayap Mampu Merusak Bangunan dalam Waktu Lama?
Cara Membuat Brand Anda Disebut ChatGPT: Panduan Praktis untuk Bisnis Indonesia
5 Tanda Agency Digital Anda Sudah Siap Menghadapi Era Pencarian AI
Software Manufaktur: Solusi Cerdas untuk Industri yang Tidak Bisa Lagi Bergantung pada Cara Manual
Delapan Rencana Aksi OJK Didukung PROPAMI, Fokus Benahi Pasar Modal
Menukar Mata Uang Lebih Mudah dan Menguntungkan bersama Dolarindo Money Changer
SeedBacklink Summit 2026 Berikan Penghargaan Blogger Terpopuler 2025
Beli Domain sebagai Langkah Awal Membangun Aset Digital

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 06:03 WIB

Cara Membuat Brand Anda Disebut ChatGPT: Panduan Praktis untuk Bisnis Indonesia

Sabtu, 25 Juli 2026 - 05:52 WIB

5 Tanda Agency Digital Anda Sudah Siap Menghadapi Era Pencarian AI

Kamis, 11 Juni 2026 - 18:37 WIB

Software Manufaktur: Solusi Cerdas untuk Industri yang Tidak Bisa Lagi Bergantung pada Cara Manual

Senin, 2 Februari 2026 - 12:46 WIB

Delapan Rencana Aksi OJK Didukung PROPAMI, Fokus Benahi Pasar Modal

Minggu, 25 Januari 2026 - 16:12 WIB

Menukar Mata Uang Lebih Mudah dan Menguntungkan bersama Dolarindo Money Changer

Berita Terbaru