Home / Politik

Kamis, 16 Juni 2022 - 11:58 WIB

Ciptakan Banyak Kursi dan Bagikan kepada para Pendukungnya, Politik Mebel ala Jokowi

Presiden Joko Widodo melantik Menteri dan Wamen. (Instagram.com/@sekretariat.kabinet)

Presiden Joko Widodo melantik Menteri dan Wamen. (Instagram.com/@sekretariat.kabinet)

APAKABAR NEWS  – Kocok ulang atau resafel kabinet ditunggu dengan penuh antusiasme dan menimbulkan berbagai spekulasi.

Kocok ulang diumumkan hari ini 15 Juni 2022, nama-nama baru dimunculkan dan beberapa nama lama dilengserkan, dan yang terasa seperti anti-klimaks.

Tidak ada yang mengejutkan. Nama-nama yang muncul bisa disebut sebagai L4, loe lagi loe lagi.

Zulkifli Hasan dan Hadi Tjahjanto sudah lama mengantre dengan sabar untuk mendapat jatah kabinet. Zulhas menunggu reward atas dukungannya terhadap kabinet Jokowi yang disebut tanpa syarat.

Hadi Tjahjanto sabar menunggu guliran karena kesetiaannya yang panjang kepada Jokowi. Romansa politik Joko-Hadi ini berlangsung sejak keduanya masih sama-sama di Solo dan berlanjut sampai ke pentas nasional.

Kisah cinta politik ini mirip dengan hubungan Jokowi dengan Listyo Sigit Prabowo yang sekarang menjadi kapolri.

Keduanya sudah mulai saling lirik sejak di Surakarta. Ketika itu Jokowi menjadi walikota dan Listyo menjadi kapolres. Kisah cinta pun berlanjut sampai ke pentas nasional.

Dua kisah ini mempunyai skenario yang hampir sama. Jokowi mencari orang-orang terdekat untuk mengamankan posisi-posisi strategis.

Untuk mencapai hal itu Jokowi berani merisikokan diri dengan melawan kontroversi, Against all odds, melawan segala rintangan.

Mengangkat panglima TNI dari kalangan angkatan udara tentu membutuhkan keahlian manuver tersendiri, dan Jokowi melakukannya dengan relatif aman dan nyaman.

Sukses dengan skenario Hadi Tjahjanto, Jokowi kemudian bermanuver lagi dengan Listyo Sigit Prabowo.

Kali ini manuvernya harus lebih halus dan berhati-hati karena mengangkat seorang kapolri non-muslim adalah ‘’against all odds’’.

Lagi-lagi, Jokowi bisa mendayung di antara dua karang dan bisa meloloskan orang dekat dan orang pilihannya menjadi kapolri.

Kalau Listyo bisa mengawal masa transisi 2024 sesuai dengan harapan Jokowi maka jalur reward di kabinet sudah menantinya sebagai menteri dalam negeri, seperti yang dinikmati oleh Tito Karnavian sekarang.

Baca Juga:  AA LaNyalla Mahmud Mattalitti Ungkap Bukti Adanya Kerakusan Oligarki Penguasa Sawit

Posisi menteri dalam negeri yang biasanya menjadi jatah parpol, di era Jokowi berubah menjadi jatah polri.

Hadi Tjahjanto sudah mendapatkan reward menjadi menteri agraria sesuai dengan amal kebaikannya kepada Jokowi. Menggeser Sofyan Djalil adalah manuver paling aman di antara pilihan yang ada yang bisa diambil Jokowi.

Di antara sekian banyak menteri, Sofyan ialah pemegang rekor menteri terlama dalam kabinet. Sejak era SBY sampai dua periode pemerintahan Jokowi nama Sofyan selalu rajin menongol di jajaran kabinet.

Menggusur Sofyan nyaris tidak memunculkan risiko politik apapun bagi Jokowi. Apalagi rapor Sofyan selama menjadi menteri relatif datar dan tidak ada yang menonjol.

Memberi jabatan menteri agraria kepada Hadi Thahjanto adalah pilihan yang aman karena tidak menjarah jatah partai.

Semula ada spekulasi bahwa Hadi akan menggeser Moeldoko sebagai kepala staf kepresidenan. Manuver politik Moeldoko selama drama rebutan Partai Demokrat membuat Jokowi tidak nyaman.

Tetapi, menggeser Moeldoko dari posisinya akan membuat posisi Jokowi lebih tidak nyaman lagi. Karena itu menggeser Sofyan Djalil jauh lebih aman dan nyaman ketimbang menggeser Moeldoko.

Zulkifli Hasan sudah lama mengambil nomor anteran dan dengan sabar menunggu di depan pintu. Berbulan-bulan mengantre akhirnya gilirannya sampai juga.

Di bawah kepemimpinan Zulhas Partai Amanat Nasional (PAN) bertransformasi menjadi partai yang paling setia kepada Jokowi.

Bergabungnya PAN dalam koalisi dini bersama Golkar dan PPP (Partai Persatuan Pembangunan) pun kabarnya untuk menyiapkan sekoci untuk calon yang bakal direstui Jokowi.

Ketika memutuskan bergabung dengan koalisi parpol pendukung Jokowi PAN menyatakan bahwa dukungan itu tanpa syarat. Tentu pernyataan ini adalah retorika politik karena tidak akan ada makan siang yang gratis.

Zulhas sudah menunjukkan kesetiaan yang tinggi kepada Jokowi. Hal itu dibuktikannya dengan menyingkirkan Amien Rais–mentor dan (bekas) besannya sendiri—dari PAN.

Baca Juga:  Polri Masih Kejar 4 Pengikut Habib Rizieq yang Kabur dari Insiden di KM 50

Semua orang tahu, PAN identik dengan Amien Rais. Menyingkirkan Amien Rais dari PAN ‘’simply unthinkable’’, tidak terbayangkan, bagi kebanyakan politisi.

Tapi Zulhas berani mengambil risiko mendongkel Amien Rais at all cost, dengan risiko apapun.

Meskipun tidak mengirim tagihan ke Istana tetapi Jokowi tentu tahu diri dan menunggu saat yang tepat untuk memberi reward sebagai hadiah kesetiaan Zulhas.

Posisi sebagai menteri perdagangan yang diberikan kepada Zulhas agak di luar prediksi. Semula ada spekulasi Zulhas akan menggeser posisi Menko PMK Muhadjir Effendi yang menjadi representasi Muhammadiyah.

Pergeseran ini tidak terlalu berisiko karena Zulhas adalah kader Muhammadiyah. Dan selama ini Zulhas sangat aktif merapat ke Muhammadiyah baik di pusat maupun di daerah-daerah.

Sebagai upaya untuk mempersempit ruang gerak Partai Ummat besutan Amien Rais yang juga membidik konstituen Muhammadiyah.

Krisis minyak goreng yang berkepanjangan memberi alasan yang perfek bagi Jokowi untuk menggusur Muhammad Lutfi dari kursi menteri perdagangan.

Menggeser Lutfi tidak ada risiko politik yang berarti karena Lutfi tidak berafiliasi dengan partai politik.

Jokowi justru bisa mendapatkan simpati publik karena selama ini Lutfi dianggap tidak kapabel dalam menangani krisis minyak goreng.

Justru Jokowi mengambil risiko dengan mengoper jabatan ini kepada Zulhas, karena posisi ini bisa disebut sebagai kursi panas.

Sebelum mengangkat Lutfi, posisi menteri perdagangan diduduki oleh Agus Suparmanto kader PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Ternyata Agus tidak bertahan lama dan menjadi korban resafel digantikan oleh Lutfi.

Banyak yang menduga kursi mendag akan diisi oleh profesional. Tetapi Jokowi memilih langkah balik kucing dengan mengembalikan kursi itu kepada parpol pendukung.

Dengan menunjuk Zulhas, utang politik Jokowi sudah terlunasi dan kesetiaan Zulhas kepada Jokowi sudah terbayar impas.

Zulhas dianggap sebagai pilihan terbaik karena berpengalaman di pemerintahan. Ia sangat berpengalaman sebagai anggota DPR dua periode dan pernah menjabat sebagai menteri kehutanan di era pemerintahan SBY.

Baca Juga:  Komnas HAM Dalami Fakta-fakta Terkait Dugaan Penembakan Anggota FPI

Kemudian Zulhas bisa menjadi ketua MPR meski partainya bisa disebut sebagai minoritas. Sebelum masuk dunia politik Zulhas ialah seorang pedagang yang ulet.

Ia berjualan panci dan perlatan masak dari pintu ke pintu. Keuletannya membuatnya mampu mendirikan pabrik panci sendiri.

Pengalaman menjadi pedagang panci itu yang diandalkan Zulhas untuk menjadi menteri perdagangan.

Tantangan riil bagi Zulhas sangat nyata di depan mata, yaitu membereskan tata niaga minyak goreng dan menghadapi kartel perdagangan kelapa sawit yang menggurita.

Nama-nama lain yang muncul dalam resafel kali ini adalah nama-nama figuran yang memainkan peran penggembira.

Ada Raja Juli Antoni dari PSI (Partai Solidaritas Indonesia) yang mendapat hadiah hiburan menjadi wakil Hadi Tjahjanto di kementerian agrarian.

Gerindra mendapat jatah tambahan wakil menteri koperasi. Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, keponakan Prabowo Subianto ditunjuk untuk menduduki posisi itu.

Partai gurem seperti PBB (Partai Bulan Bintang) juga mendapat jatah wakil menteri.

Serial sinetron resafel kabinet berakhir happy ending, setidaknya bagi Jokowi dan pendukung-pendukungnya.

Kocok ulang kabinet ini terlihat sebagai upaya Jokowi untuk memperkuat posisinya menjelang suksesi 2024.

Secara keseluruhan partai-partai pendukung bisa bernafas lega. Yang sudah kebagian jatah tidak dikurangi, dan yang belum dapat jatah sudah kebagian.

Jokowi kembali menunjukkan kecerdikannya dalam memainkan bidak-bidak catur dan menempatkan orang-orang pilihannya di posisi masing-masing.

Jokowi masih punya cukup stok kursi untuk menampung siapa saja yang belum kebagian. Ia masih punya cadangan beberapa kursi wakil menteri yang belum terisi.

Joko Widodo terbukti piawai memaikan politik mebel, dengan menciptakan banyak kursi dan membagi-bagikannya kepada para pendukungnya.

Oleh: Dhimam Abror Djuraid, Wartawan senior dan tokoh pers nasional.***

Share :

Baca Juga

Politik

Sudah Dukung Anies Baswedan, Surya Paloh dan Partai Nasdem Tak Bisa Mundur Lagi

Politik

DPR akan Terbuka untuk Mendengar Masukan Mengenai RUU TPKS

Politik

Kongres HAPI Harus Melahirkan Pengurus yang Memiliki Jiwa Kepemimpinan

Politik

Duet Habiburokhman – Adnan Taufiq Beri Bantuan dan Santunan kepada Anak Yatim di Pulo Jahe

Politik

Bamsoet Ajak Generasi Muda Bangun Benteng Ideologi Bangsa

Politik

Densus 88 Tangkap 19 Terduga Teroris di Makassar, Salah Satunya Anggota FPI

Politik

Fahd El Fouz Arafiq, GM Boby Fischer, dan Inspirasi untuk Milenial

Politik

Tabungan Milik Seorang Bos di Bank BJB dikuras Mantan Sopir, Lebih dari Rp5 Miliar