Beberapa permasalahan penting juga dimusyawarahkan di sini. Bahkan, saking hidupnya masjid ini, Rasulullah bisa mengetahui kalau ada sahabat beliau yang tidak hadir karena sakit atau sebab lain.
Masjid adalah sentral negara pada waktu itu. Dari masjid pasukan jihad diberangkatkan dan ke masjid pula mereka kembali. Kaum muslimin merayakan kebahagiaan mereka di sana.
Surat-surat dari para raja diterima Rasulullah di masjid, demikian pula utusan-utusan mereka. Intinya, masjid merupakan pusat peradaban umat. Dan Nabi tidak pernah melarang anak-anak masuk ke dalamnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam beberapa atsar diriwayatkan bahwa Rasulullah pernah membawa cucu beliau ke masjid.
Imam Abu Hamad Al-Ghazali pernah menerangkan mengenai hal ini. Beliau berkata, Tidak mengapa membawa anak kecil ke masjid jika anak itu tidak bermain-main. Sebenarnya bermain di masjid pun tidak diharamkan, dan tidak mungkin anak-anak akan diam saat mereka bermain. Yang dilarang adalah menjadikan masjid sebagai tempat bermain sehingga itu menjadi kebiasaan.
Jika ini terjadi maka mereka harus dilarang dan diperingatkan. Dibolehkan bermain di area masjid ini dalam hal yang seminimal mungkin (Tidak lantas membebaskan begitu saja semua permainan di dalam masjid).
Dalilnya dibolehkannya adalah apa yang diriwayatkan dalam shahihain ketika Nabi sengaja berhenti di masjid agar Aisyah bisa menonton orang-orang Habsyi yang sedang beratraksi saat hari raya.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya








