Home / Politik

Sabtu, 7 Mei 2022 - 09:57 WIB

Memaknai Sinyal Politik dari Aksi Piknik dan Rehat Lebaran Presiden Jokowi dan Keluarga

Presiden Joko Widodo dan cucu-cucunya. (Dok. Sekretariat Presiden/Lukas )

Presiden Joko Widodo dan cucu-cucunya. (Dok. Sekretariat Presiden/Lukas )

APAKABAR NEWS – Lebaran tahun ini piknik dan full rehat Presiden Jokowi kelihatannya. Tidak ada open house halal bi halal meski dengan Menteri sekalipun.

Menteri yang menemuinya di Yogyakarta hanya satu yaitu Prabowo Subianto.

Itupun sowan sebelum bersafari politik pencapresan. Pak Jokowi hilang dari kesibukan Istana Merdeka Jakarta.

Berita piknik lanjutan setelah Yogyakarta adalah Gianyar Bali bersama anak cucu. Ada Kaesang, Gibran juga Bobby Nasution.

Cucu-cucu Jan Ethes, Lembah Manah, Sedah Mirah dan Panembahan Al Nahyan.

Dengan kawalan Paspampres keluarga ini ber-safary journey, melihat pertunjukan burung (bird show), dan harimau putih.

Adalah hak Presiden dan keluarga untuk jalan-jalan akan tetapi dengan mengabaikan open house “ritual” lebaran sebenarnya cukup mengganggu.

Silaturahmi dengan pejabat dan rakyat yang semestinya didahulukan kini terabaikan.

Jokowi yang biasa jago dalam pencitraan telah membuang momentum spiritual itu.

Baca Juga:  Ini Penilaian Menko Polhukam Mahfud MD Terkait Kinerja KPK Era Firli Bahuri Lebih Baik

Adakah piknik dan rehat sekeluarga ini sebagai sinyal Jokowi sudah lelah, putus asa, dan bersiap untuk menikmati istirahat dari kesibukan Istana? Sangat mungkin.

Ada tiga indikasi kuatnya, yaitu:

Pertama, gagal mengupayakan perpanjangan jabatan 3 tahun dan miskin dukungan untuk amandemen UUD masa jabatan 3 periode.

Partai pendukung Presiden yakni PDIP justru menjadi penentang kerasnya.

Kedua, masa depan proyek-proyek andalan suram. Bandara sepi, Kereta Api China mangkrak, OBOR redup, IKN masih mimpi, investor Jepang hengkang, Saudi tidak jelas,  Elon Musk pun berkaos hitam. Luhut makin cemberut.

Ketiga, perlawanan lapangan sulit diredam apakah mahasiswa, buruh, purnawirawan, umat Islam. Oposisi semakin menguat dan menggumpal keras.

Upaya mematahkan dengan membungkam aktivis ke penjara tidak berefek jera. Justru membuat rezim lebih kental berpredikat zalim.

Jokowi bertahan sampai 2024 saja merupakan prestasi atau “blessing in disguise”. Kendaraan sedang meluncur ke bawah bukan berjalan datar.

Baca Juga:  Mediasi Fara Luwia dan Tergugat PT SNI, PT NWG dan PT LPI Tidak Mencapai Harapan

Harapan berubah peran hingga berujung bagus atau husnul khotimah tidak terlihat bahkan semakin tertutup. Jokowi meredup.

Mentor strateginya AM Hendropriyono uzur karena sakit, Luhut Panjaitan sudah diposisikan musuh bersama, isu akan mundur pun merebak, sementara Kepala BIN Budi Gunawan tidak berada di kubunya.

Jokowi kehilangan pegangan. Mungkinkah para taipan masih setia? Belum tentu.

Mereka adalah bandar yang berkalkulasi  pragmatis, dapat memegang dan mudah pula melepas.

Rakyat sudah berat bertoleransi dan hilang kesabaran untuk tetap memberi mandat.

Meski disebut intoleran atau radikal atas sikap kritis atau perlawanannya namun nampaknya sudah tidak peduli lagi.

Rakyat ingin pengelola negara segera berganti atau berubah. Ada tiga opsi yang mungkin terjadi.

Baca Juga:  Sepanjang Tahun 2020, 643 Bandar Narkoba Dipindahkan ke Nusakambangan

Pertama, Presiden Jokowi ditinggalkan baik oleh partai koalisi maupun para Menteri. Koalisi sudah retak berjalan sendiri-sendiri.

Akan ada Menteri yang mengundurkan diri dan reshuffle tidak menolong.

Kedua, Presiden dan Wapres mengundurkan diri hingga trium virat menggantikan untuk kemudian MPR memilih Presiden Wakil Presiden hingga 2024. Prabowo-Puan mungkin serius sedang mengincar.

Ketiga, Jokowi tidak mundur dan bertahan meski hancur-hancuran. 2022-2024 menjadi fase babak belur.

Risiko siap ditanggung sebagai akhir yang buruk ‘su’ul khatimah’. Untuk pilihan ini Jokowi dan anak-anak terancam penjara.

Nampaknya dalam keputusasaan, mungkin ditunjang nasehat paranormal, maka pilihan berhenti di perjalanan lebih rasional dan membuka peluang Jokowi dan keluarga untuk dapat selamat.

If he is lucky. Itu jika pak Jokowi masih beruntung. Jika beruntung.

Opini: M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan.***

Share :

Baca Juga

Politik

Untuk Cegah Polarisasi Tahapan Pemilu 2024, Polri Bentuk Tim Satgas Nusantara

Politik

Menteri Kadernya Ditangkap KPK, Begini Pernyataan Resmi PDI Perjuangan

Politik

Bareskrim Periksa Tengku Zul Terkait Abu Janda, Dicecar Soal ‘Islam Arogan’

Politik

Begini Ekspresi Habib Rizieq Begitu Mendengar Enam Pengawalnya Tewas Ditembak

Politik

Jadi Hari Lahir Pancasila yang Sebenarnya adalah pada Tanggal 18 Agustus 1945

Politik

Ini Penilaian Menko Polhukam Mahfud MD Terkait Kinerja KPK Era Firli Bahuri Lebih Baik

Politik

Ini Pengakuan Ketua Umum PA 212 di Polda Metro Jaya Terkait Soal Aksi 1812

Politik

Begini Alasannya, Mengapa Abu Janda Seharusnya Sudah Diproses Secara Hukum