Ayo Shalat. Waktunya menghadap Tuhan, kata muadzin itu. Keluar dari ruangan, Anies bergegas ke mushalla. Sampai di Mushalla, Gubernur DKI ini didaulat jadi imam.
Jika anda jadi imam shalat dhuhur dan ashar, gak perlu takut. Karena gak ada yang tahu bagaimana kualitas bacaan anda. Salah benar, hanya Tuhan yang tahu.
Mungkin anda sendiri gak tahu. Tidak usah ragu. Orang juga gak tahu anda paham atau tidak arti ayat yang anda baca. Yang penting, pastikan jumlah raka’at anda benar. Usahakan takbir anda agak sedikit fasih. Terutama jika ada kamera sedang menyorot anda.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tapi, jika anda ditawari jadi imam shalat magrib, anda harus ukur diri. Tajwid, fashahah dan penghayatan makna mesti anda perbaiki dulu sebelum anda menyanggupi tawaran itu. Jangan gara-gara kamera, anda bersemangat terima tawaran dan gak peduli defisit kemampuan.
Tak ragu, tak ada was was, Anies maju dan jadi imam shalat magrib. Nampak memang ia terbiasa jadi imam. Baik imam shalat, maupun imam di luar shalat. Allahu Akbar, shalat dimulai.
Di raka’at pertama, Anies membaca al-Fatihah. Ini bacaan wajib. Tanpa al-Fatihah, tidak sah shalatnya. Kecuali bagi pengikut mazhab Hanafi. Setelah membaca al-Fatihah, Anies membaca surat al-Insyirah. Ini surat pilihan.
Mengapa Anies memilih surat al-Insyirah? Kita perlu tahu apa kandungan di dalam surat al-Insyirah itu. Dari situ kita akan bisa membaca apa maksud Anies memilih untuk membaca surat ke-94 ini.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya








