“MANAJEMEN TELAH MENGAKUI PENURUNAN NILAI PENUH ATAS INVESTASI PADA TIPHONE MENGINGAT KERAGUAN ATAS KELANGSUNGAN BISNIS, KONDISI KEUANGAN DAN PENANGGUHAN SAHAM YANG BERLAKU EFEKTIF 10 JUNI 2020.” (Sumber: Laporan Keuangan Telkom 2020, Hlm. 62).
Sekarang mana duit Rp1,395 triliun yang dulu digembar-gemborkan akan berbuah manis? Dulu sama juga, berbunga-bunga ketika merayu.
Akhirnya jadi perkara (ada di tingkat penyelidikan KPK setelah berkasnya diambil alih dari Kejaksaan Agung). Mari kita tagih utang KPK usut kasus ini. Kalau tidak sanggup, kita sewa ‘KPK’ dari planet Pluto saja.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Atau sudah lupakah temuan Fraud Control Plan KPK-BPKP tahun 2015 dalam perkara tukar guling saham Mitratel (anak usaha Telkom) dan PT Tower Bersama Infrastructure/TBIG yang diduga merugikan negara Rp26 triliun? Mana kelanjutan pengusutannya? Orangnya malah jadi menteri pula.
Tapi perusahaan besar seperti Astra, AIA, Google dll juga berinvestasi di Gojek? Ya, terserah saja. Itu uang mereka sendiri, bukan uang BUMN/negara.
Lagi pula mereka toh jualan. Memangnya 2 juta mitra pengemudi itu beli unitnya di pasar rumput, beli asuransinya di toko kelontong, pakai leasingnya di toko kain?
Mari sudahi ‘dagelan’ boneka Rusia ala Ponzi ini. Kembali ke bisnis yang wajar. Hargai proses dan ketekunan. Jangan kelabui masyarakat dengan tiupan balon udara.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya








