Total lebih dari 100 warga meninggal dunia pada dua peristiwa tersebut.
Selanjutnya gempa Mamuju magnitudo 5,8 SR pada 6 September 1972, gempa Mamuju M6,7 pada 8 Januari 1984, dan kejadian sebelum kejadian kemarin yaitu pada 7 November 2020.
Rangkaian gempa ini bersifat merusak. Lalu, gempa Majene yang terjadi pada dua hari berurutan yaitu 14 Januari 2021 dengan magnitudo 5,9 SR dan 15 Januari 2021 dengan magnitudo 6,2 SR.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pascagempa magnitudo 6,2 SR BMKG mencatat hingga Senin, 1 Februari 2021, telah terjadi 39 kali gempa susulan.
“Total jumlah gempa sejak terjadi gempa pembuka tercatat 48 kali dengan gempa dirasakan sebanyak 10 kali,” ujar Daryono.
Sementara itu, Ahli geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Benyamin Sapiie menyampaikan bahwa daerah Majene dan Mamuju merupakan daerah aktif deformasi berupa lipatan anjakan, yang melibatkan batuan dasar dan memperlihatkan keaktifan gempa tinggi.
“Gempa Mamuju yang terjadi juga diakibatkan oleh aktivitas sesar naik pada zona fold-thrust-belt di bawah permukaan yang melibatkan batuan dasar yang merupakan bagian dari zona FTB Sulawesi Barat,” tambah Sapiie.
Oleh karena itu, menghadapi potensi bahaya gempa, kekuatan bangunan sangat penting untuk dievaluasi dan diperkuat sehingga aman bagi para penghuni yang memanfaatkan bangunan yang masih berdiri pascagempa M 6,2. (inf)
Halaman : 1 2








