Belajar dari pemilu 2019 yang hanya pilpres-pileg saja, hampir seribu petugas pemilu meninggal. Meski menyisakan teka-teki, apakah seluruhnya mati karena unsur kelelahan, atau ada faktor lain.
Dalam pemilu serentak, manipulasi kemungkinan akan lebih masif. Karena pengawasan sangat terbatas. Cara berpikirnya sederhana: pemainnya bertambah banyak, jumlah pengawasnya tetap. Tidak proporsional.
Di pemilu 2019, Panwas mengawasi pilpres dan pileg saja kedodoran, bagaimana ditambah pemilihan bupati/walikota dan gubernur?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemilih pun umumnya gagal fokus, karena banyaknya jumlah surat suara dan jumlah calonnya. Dalam satu waktu pemilih harus mencoblos surat suara untuk DPRD I, DPRD II, DPR, DPD, bupati/Walikota, Gubernur dan presiden.
Tujuh surat suara. Pasti akan sangat membingungkan! Dua surat suara saja, banyak yang gak fokus. Apalagi ini tujuh surat suara.
Coba hitung jumlah caleg DPR, DPRD I, DPR II, calon DPD, calon bupati/walikota, dan calon gubernur, plus calon presiden-wakil presiden.
Ada ratusan nama. Anda yang muda dan cerdas saja kebingungan untuk memilih. Apalagi ABG dan para orang tua. Bagaimana mau menghasilkan pejabat yang berkualitas?
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya








