Budayawan Cirebon, Nurdin M Noer menerangkan kemunculan kuliner tahu gejrot tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan pabrik-pabrik tahu milik orang keturunan Tionghoa yang berada di Desa Jatiseeng.
Di tengah situasi politik dan ekonomi yang tidak menentu pada waktu itu, banyak warga pribumi yang bekerja menjadi buruh di pabrik tahu.
“Sebelum tahun 1950-an, keadaannya tidak stabil banyak warga sekitar kerja di pabrik untuk memenuhi kebutuhan,” katanya, Senin, 15 Oktober 2018, dikutip Apakabarnews.com dari Ayocirebon.com
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah keadaan sudah membaik, banyak dari pemilik pabrik mulai mencari peruntungan baru dan meninggalkan usaha pembuatan tahu.
Banyak dari para buruh yang kemudian membuat usah tahunya sendiri.
“Karena sudah lama bekerja di pabrik tahu, para buruh memiliki keterampilan membuat tahu.”
“Kemudian pada masa inilah, tahu gejrot semakin populer dan disukai banyak orang,” jelasnya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya








