Kemudian menduga matahari adalah tuhannya karena dia besar. Tapi hati kecilnya kembali mengangkal. Tuhan tidak mungkin tenggelam. Sampai akhirnya Nabi Ibrahim menghadapkan wajahnya dengan kepasrahan kepada Allah swt. Bahwa Allahlah pencipta langit dan bumi ini. (surat Al-an’am ayat 76-79). Pada ayat lain logika ketuhanan Nabi Ibrahim tunduk setelah ia menyaksikan Allah swt menghidupkan hewan yang mati. Menurut Syeh Muhammad Mutawalli Sya’rawi dalam tafsirnya Sya’rawi. Hewan tersebut adalah “burung”.
Bukan tanpa alasan Nabi Ibrahim bertanya seperti itu kepada Allah swt. Nabi Ibrahim bertanya seperti itu bukan berarti ia ingin mengingkari Allah swt tapi sebaliknya ia ingin memantapkan hatinya dengan keyakinan yang sempurna.
Hal ini berbanding terbaik dengan para pencari Tuhan tapi lupa dengan Tuhannya sendiri. Sehingga akhirnya mereka sesat di dalam pikiran mereka sendiri. Inilah yang terjadi pada orang-orang yang tidak ingin beriman kepada Allah swt dan Rasul-Nya Muhammad saw. Padahal jelas mereka mengetahui Muhammad seperti mengetahui anaknya sendiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kedua, Nabi Ibrahim as contoh the good father zaman now, dalam mendidik anaknya ia mengutumakan untuk bicara dari hati ke hati. Kita masih ingat dengan mimpi Nabi Ibrahim bahwa ia akan menyembelih Isma’il. Dengan perkataan yang lembut ia mengucapkan perintah itu.“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash Shaaffaat: 102).
Pada ayat tersebut Nabi Ibrahim tidak langsung mengatakan untuk menyembelihnya. Tapi mengajak Ismail berdialog dahulu. “fangzdur mazda tara”, apa pendapatmu tentang perintah itu. Dengan tenang ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang Allah perintahkan kepadamu.”Jawaban itu bukan jawaban biasa untuk anak kecil seperti Ismail.
Ia mengerti bahwa ayahnya seorang Nabi yang dibebani dengan tugas ketuhanan yang tidak mudah. Dengan yakin ia menjawab bahwa ia sanggup dengan cobaan penyembelihan itu. Dan akhirnya Allah swt mengabadikan kejadian tersebut sebagai hari raya Qurban, sebagai tanda Cinta Nabi Ibrahim kepada Allah swt. Dengan Cinta lebih besar dari pada yang lain.
Hal inilah yang harus kita tiru dari Nabi Ibrahim as dalam mendidik anaknya. Ia mengajak berdialog ketika anak urusan yang berkenaan dengan perintah Tuhan. Dialog seorang ayah kepada anak adalah bentuk perhatian. Anak merasa dihargai. Terlebih lagi bila pendapat yang ia utarakan kita apresiasi.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya








