“Kurang dari satu kilometer. Karena dari seismiknya kan cuma 154 detik dan amplitudonya 28 milimeter, jadi ini kecil. Awan panas kecil yang terjadi,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Hanik juga menjelaskan bahwa fenomena yang terjadi tersebut merupakan guguran dan bukan letusan.
“Betul. Awan panas guguran (bukan letusan),” jelas Hanik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selanjutnya, Hanik juga mengatakan bahwa guguran awan panas tersebut diperkirakan adalah berasal dari gundukan yang terbentuk pada periode sebelumnya.
- Rochmad Widodo Jadi Pemimpin Redaksi Serambiislam.com dan Jaziranews.com, Ini Fokus SapuLangit Media
- Media Saatini.com Bidik 100 Portal Media pada 2026, Buka Peluang Kemitraan Digital bagi UMKM dan Tokoh Publik
- UI Innovation Festival 2026 Digelar di Gandaria City, Ada Pameran Riset hingga Kolaborasi Internasional
Sejak Kamis, 31 Desember 2020 lalu dari lava 1997, yang kemudian meluncur ke arah barat daya menuju Kali Krasak.
“Kan kemarin terjadi adanya gundukan kecil. Diperkirakan itu yang (kemudian) terjadi awan panas,” ungkap Hanik.
Penetapan status Gunung Merapi dengan melihat adanya kejadian guguran awan panas tersebut, masih belum berubah.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya








