Karena manusia itu memiliki dua aspek. Aspek fisikal yang menjadi bagian dari alam semesta (al-alamin). Dan aspek ruhiyah yang merupakan bagian dari “ruh Ilahi” (nafakhna fiihi min ruhina). Maka manusia itu ada di dua kemungkinan. Berubah/mengubah atau dirubah.
Sekali lagi, pada sisi inilah manusia kemudian akan menampakkan nilainya sebagai manusia yang bernilai (valuable). Jika ternyata hanya menjadi bagian dari alam yang menempatkan diri sebagai obyek perubahan, maka manusia menjatuhkan diri ke lembah yang rendah (asfala safilin). Tapi jika manusia mampu mengambil kendali dan menjadi agen perubahan (merubah dan tidak dirubah) maka manusia itu naik ke tataran “ahsanu taqwiim” (ciptaan terbaik).
Dalam sejarah hidup manusia, kerap kehancurannya ada pada ketidak mempuan menghadirkan perubahan. Akibatnya manusia dipaksa mengikuti alur perubahan, yang tidak jarang justeru dipaksakan dan tidak sejalan dengan kemanfaatan bagi dirinya dan alam sekitarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Realita ini juga mencakup perubahan kepemimpinan suatu kaum (bangsa/negara). Sebuah kaum atau bangsa perlu melakukan perubahan dan tidak dipaksa berubah oleh perubahan alam.
“Innallaha laa yughayyiru maa biqaumin hatta yughayyiru maa bi anfusihim” (sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum (umat atau bangsa) sehingga mereka melakukan perubahan pada diri mereka”.
Tentu perubahan yang dimaksud adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Kalau sekedar perubahan maka semua akan berubah secara alami atau dipaksa oleh alam. Karena itu sunnatullah dalam ciptaanNya (fil-kaun).
Salah satu aspek perubahan yang sebuah kaum atau bangsa adalah perubahan kepemimpinan. Menjadi tuntutan sebuah bangsa untuk berani keluar dari zona nyaman (comfort zone) untuk menghadirkan pemimpin yang lebih muda, kredibel, pintar dan berintegritas. Bahkan di masa yang tidak seperti biasa ini diperlukan pemimpin yang “unconventional” (yang tidak seperti biasanya).
Baca Juga:
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






