Terbukti, bahwa program mandatori biodiesel, B30 yang dijalankan Pemerintah telah salah jalan jika berbahan baku dari CPO, selain mahal harganya, ternyata telah berakibat ikut membuat harga minyak goreng semakin mahal dibeli oleh rakyat.
Kebijakan biodiesel bermula dari Permen ESDM nomor 32 tahun 2008 tentang Penyedian, Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar lainnya, tujuannya sangat bagus untuk pengembangan energi terbarukan.
Tapi, mari kita coba bandingkan antara harga modal minyak mentah dengan CPO saat ini, dengan asumsi harga minyak mentah USD 110 perbarel dan harga CP0 di pasaran internasional USD 1,305 perton.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Maka diperoleh harga dasar minyak mentah perliter adalah Rp 9, 893, kemudian harga dasar CPO perliter Rp 20.073.
Terbukti harga dasar CPO dua kali harga minyak mentah, harga dasar tersebut belum termasuk biaya olah di kilang untuk menjadi Solar maupun FAME.
Kementerian ESDM telah merilis harga Biodiesel Rp 15.559/ liter untuk April. Pertamina, 14 Maret 2022 telah merilis harga dasar keekonomian Biosolar Industri Rp 17.500 perliter.
Biosolar hanya Rp 5.150 perliter dan Dexlite Rp 12.900 perliter di SPBU, disparitas harga yang sangat tinggi inilah biang penyelewangan membuat jadi langka di SPBU.
Meskipun sudah ratusan triliun uang berasal dari APBN dan dana sawit yang dikelola oleh BPDPKS dihabiskan mensubsidi Solar dan FAME, ternyata tak mampu mengatasi kelangkaan Solar Subsidi di SPBU adalah fakta.
Padahal, CERI sejak tahun 2020 sudah mempertanyakan soal kebijakan Pertamina akan memproduksi Green Diesel, Green Gasoline dan Green Avtur dari bahan RBDPO (Refined, Bleached, Deodoridez Palm Oil) dengan co-processing kilang dengan katalis Merah Putih.
Karena sejak awal kami sudah menduga bahwa program tersebut tidak ekonomi, buang waktu, serta buang uang Pertamina saja.
Baca Juga:
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya








