Sebab, tidak ada satupun negara didunia telah mengembangkan Biodiesel berasal dari bahan baku CPO hingga mencapai 30 %, kecuali negara Indonesia, Malaysia saja tak lebih 10 %.
Terkini, perusahan Airbus telah berhasil dua kali menerbangkan superjumbo A380 bermesin Rolls Royce Trent 900 pada 24 dan 29 Maret 2022.
Dengan mengunakan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) yang berbahan baku minyak goreng bekas dan limbah lemak hewan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Oleh sebab itu, seharusnya pejabat sektor energi kita mengevaluasi ulang kebijakan biodiesel dari CPO, karena telah berdampak negatif bagi harga minyak goreng dan industri turunannya maupun terhadap biodiesel sendiri.
Sehingga tak perlu malu untuk belajar banyak dari negara lain soal bahan baku program Biodiesel, karena ada pilihan tehnologi lain yang bisa mengolah bahan limbah sawit, minyak goreng bekas, lemak binatang dan rumput laut untuk menjadi Biodiesel B100.
Tehnologi yang sudah banyak digunakan diseluruh dunia, bahkan Singapore saja sudah menerapkan tehnologi biodiesel ini sejak tahun 2011.
Jika Pemerintah di bidang sektor energi tidak merubah peta jalan biodiesel nasional kedepan, maka persoalan kelangkaan dan kemahalan minyak goreng dan Solar di SPBU akan kita alami terus menerus.
Maka tak salah rakyat patut curigai, jangan jangan pejabat sektor energi kita memang benar dibawah kendali taipan sawit dalam menjalankan kebijakan Biodiesel ini.
Opini: Yusri Usman, Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI)








