Demokrasi dipandang cuma memfasilitasi segelintir orang (oligarki) dalam mengakses kekuasaan. HRS diharapkan bisa menyuarakan ketidakadilan di masyarakat dan penyambung lidah umat yang terpinggirkan.
Tak heran jika mantan Wapres Jusuf Kalla turut mengomentari bahwa fenomena HRS terjadi karena ada kekosongan kepemimpinan di Indonesia dalam menyerap aspirasi masyarakat luas.
HRS mungkin populer dan punya pengaruh, tetapi itu mungkin terlihat hanya di Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Sumatera Barat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Belum tentu pengaruh HRS sekuat Kyai tradisional NU di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Madura, sampai ke pelosok pedesaan terpencil.
Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern di Indonesia juga punya pengikut yang lebih besar dari pada FPI. Tetapi saat ini HRS menjadi idola karena tak ada tokoh seperti dirinya yang lantang memberikan kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Hal ini sebenarnya juga konsekuensi alamiah dari demokrasi itu sendiri. Dalam negara demokrasi, tokoh yang dianggap bisa menjadi oposisi pasti akan punya pengaruh dan pengikut untuk menjadi penyeimbang (balancer) bagi pemerintah.
Bisa diprediksi bahwa sosok HRS dan massa pengikutnya akan diperebutkan oleh sejumlah partai politik, terutama yang berbasis massa Islam untuk mendulang suara dalam kontestasi pemilu 2024 sebagai vote getter.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






