Tetapi hal ini juga perlu pembuktian lebih lanjut, karena proporsi terbesar pemilih di Indonesia itu berada di “tengah”. Yang “terlalu kiri” atau yang terlalu “kanan” tidak potensial jumlahnya.
Sebagai contoh total perolehan suara Gerindra pada pilpres 2019 (17,5 juta suara) saat ada dukungan HRS kepada Prabowo Subianto hanya naik 2,8 juta suara dari 14,7 juta suara pada tahun 2014.
Suara Gerindra justru naik signifikan 10,1 juta suara sebelum ada dukungan dari HRS, yaitu dari 4,6 juta suara (tahun 2009) menjadi 14,7 juta suara (2014).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pasca kepulangan HRS, ada masyarakat yang berharap terjadi sinergi antara figur HRS dengan perjuangan Gatot Nurmanto (GN) lewat Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), maka akan terwujud apa yang bisa disebut sebagai “oposisi reborn”.
GN dan HRS merupakan paduan dua tokoh kekuatan politik Militer dan Islam, serta menjadi simbol duet gerakan moral dan oposisi yang konstruktif dengan jumlah pengikut yang real.
Di negara demokrasi dimanapun juga selalu ada oposisi. Di negara demokrasi, kebijakan pemerintah yang menguntungkan rakyat akan selalu di dukung.
Begitu juga sebaliknya, tokoh oposisi akan menjadi fenomenal jika ada yang kurang pas dari apa yang sudah dilakukan pemerintah, apalagi yang cuma diendorse oleh buzer-buzer di medsos tapi tanpa pengikut yang real di dunia nyata.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






